Belajar di Pondok Pesantren itu Asyik

Bukan arsitek bahasa, tidak pemuja kata, bergumul dalam kerumunan aksara
Tulisan dari Marjono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pondok pesantren (Pontren) merupakan lembaga pendidikan yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Sangat besar peran dan kiprahnya saat itu. Bukan hanya membangun aspek spiritualitas dan moralitas masyarakat, namun juga berkontribusi besar merebut dan menjaga kemerdekaan bangsa ini.
Pola-pola pontren juga senantiasa mencerminkan kultur dan karakter khas bangsa ini. Bagaimana pontren mengajarkan kebersamaan, kegotong royongan, sikap empati, peduli dan mau berbagi. Artinya nilai-nilai spiritual dan kultural telah menjadi nafas dalam proses pendidikan di pontren.
Seiring perkembangan jaman, pola pendidikannya juga makin inovatif. Adaptif pada kemajuan teknologi namun tetap berusaha mempertahankan nilai-nilai kultural yang telah ada. Banyak sekali contoh pontren yang sudah memiliki fasilitas pendidikan lengkap dengan asrama yang memadai.
Sistem pendidikannya juga terpadu. Jadi, santri sambil belajar agama, juga mem-peroleh berbagai ilmu pengetahuan umum. Bukan hanya teori tetapi juga berbagai ilmu-ilmu terapan yang langsung praktek di lapa-ngan. Bagaimana pesantren mengambangkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, berkebun, dan mengembangkan sektor UMKM.
Pola-pola pembelajaran seperti inilah yang sangat bagus untuk membentuk karakter para santri yang mandiri, ulet, tangguh, tidak mudah mengeluh, punya daya juang tinggi, moralitas yang baik serta berdaya saing. Ini yang kemudian dapat menjadi bekal mereka pada saat mereka lulus dan terjun di tengah-tengah masyarakat. Yang sudah baik-baik seperti ini mesti dirawat. Kita ingin lulusan pontren betul-betul punya daya saing hebat di tengah persaingan yang makin ketat.
Kita juga ingin lulusan pontren mampu mengembangkan dakwah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin, yaitu penerapan nilai-nilai agama Islam yang senantiasa mampu memberi kedamaian bagi seluruh kehidupan. Ini berarti ada tanggungjawab moral Pontren untuk berkontribusi positif bagi terciptanya kerukunan, toleransi dan perdamaian di Indonesia.
Pontren harus menjadi sebuah lembaga pendidikan yang mampu merajut benang keberagaman menjadi secarik kain Merah Putih yang penuh kebersamaan dalam sebuah bingkai indah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pontren menjadi pilar pendidikan karakter kebangsaan di negeri ini.
Kita meyakini bahwa lembaga pendidikan pontren merupakan lembaga yang betul-betul masih dapat kita harapkan untuk membangun karakter anak-anak bangsa. Bukan mengecilkan peran lembaga pendidikan lainnya, tetapi saya hanya ingin menyampaikan bahwa konsistensi pontren dalam memberikan ilmu spiritual dan ilmu umum, itu yang harus kita acungi jempol.
Apalagi para peserta didiknya juga diasramakan. Bukan saja memudahkan pengawasan, namun juga memberikan pembelajaran akan kemandirian. Itu yang luar biasa. Jadi, ilmu santri yang diperoleh dari pontren itu pada umumnya juga lain daripada yang lain, sehingga menjadikan lebih terampil dan mandiri. Ini yang seringkali menjadikan seorang lulusan pontren adalah pelopor atau pemimpin bagi masyarakat. Artinya, santri itu lebih siap dengan kemandirian dan dapat berkiprah di masyarakat.
Ketika seorang santri melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi (Perguruan Tinggi) karakter dan mentalnya pun sudah mempunyai karakter dan mental pontren. Ketika santri tersebut telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, maka ia akan menjadi seorang ilmuwan, dokter, arsitek, guru yang memiliki karakter pontren.
Hari ini kita mengajak santri untuk terus mengasah sikap peduli, berbagi dan empati, serta merasa handarbeni sebagai modal awal mumpung masih muda. Karena hal itulah akan membentuk karakter. Selalu bersikap dan berperilaku baik secara terus menerus karena itulah yang juga akan membentuk karakter.
Kuatkan pula karakter untuk tegas melawan radikalisme dan peredaran narkoba. Santri harus menjadi pelopor anak-anak muda bangsa dalam melawan radikalisme dan narkoba. Sampaikan secara intens akan bahaya narkoba. Sampaikan pula bahaya radikalisme sebagai sebuah ancaman bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ada tanggungjawab dunia dan akherat.
Santri harus menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, tidak menyebarkan hoax, tidak suka membuli, caci maki dan tidak melakukan ujaran kebencian (hate speech). Santri juga harus terus menjadi motor penggerak tumbuhnya kecintaan masyarakat pada negara dan bangsa. Nasionalisme kita hari ini menjadi karakter yang akan menjadi kekuatan luar biasa bagi bangsa untuk memenangkan persaingan dan mewujudkan kedaulatan sejatinya.
Terpenting, pontren juga harus mampu merawat nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan dalam balutan Ukhwah Islamiah. Kita semua sepakat bahwa Islam itu menjunjung tinggi perbedaan, mengandung nilai-nilai toleransi, gotong-royong, perdamaian, keberagaman dan cinta kasih pada sesama manusia sebagai memanifestasikan sikap Islami yang rahmatan lil alamin, Islam sejati sebagaimana dituntunkan dalam Al-Quran dan Hadist Rasullulah SAW. Harapannya, pontren ini menjadi garda terdepan dalam melawan radikalisme, terorisme dan intoleransi. Pontren harus menjadi motor penggerak dan penyebar perdamaian. Jika damai bisa kita pelihara, tentu proses pembangunan bangsa akan semakin cepat dan lancar.
Pembelajaran Musim Pandemi
Pendidikan di pontren secara karakter bisa dikatakan jauh lebih unggul dibandingkan dengan sekolah formal. Di pontren, landasan moral dan Agama begitu kuat diajarkan sehingga para santri mampu menyerap nilai-nilai tersebut dan hasilnya pun kita bisa lihat sendiri, pesantren mampu menghasilkan SDM yang mempunyai karakter Akhlakul Karimah serta mempunyai moral sesuai ajaran Islam. Tapi itu semua tidak cukup. Menjadi harapan kita agar pontren tidak hanya berorientasi SDM berkarakter, moral dan punya pengetahuan agama , tetapi juga bermutu, punya pengetahuan, ketrampilan dan sikap sebagai modal life skill.
Dahulu, Pontren lebih banyak atau mungkin bahkan hanya mengajarkan tentang ilmu agama saja kepada para santri. Seiring dengan kemajuan zaman, kini telah banyak pontren yang juga mengajarkan ilmu pengetahuan lain, seperti matematika, Ilmu Sosial bahkan membekali para santrinya dengan kamampuan Life Skiil agar mereka bisa bekerja selepas keluar dari pontren. Kita ingin, nantinya negeri ini punya pontren vokasi. Yaitu pesantren yang link and match dengan dunia usaha. Hal ini untuk mendorong agar pesantren tidak semata-mata hanya mengembangkan ke-syariah-an atau pendidikan agama Islamnya saja, tetapi juga memastikan bahwa pesantren dapat melahirkan tenaga kerja siap pakai.
Misalnya, program pengembangan pertanian terpadu berdikari berbasis pontren, seperti di Jawa Tengah. Program ini bertujuan merangkul pontren dan mengajak kerjasama. Kita berikan bantuan pertanian dan pendampingan. Pontren kita dorong untuk mendidik santri-santri agar mengembangkan bidang pertanian dalam arti luas melalui sistem pertanian terpadu dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar pontren. Ternyata manfaatnya tidak hanya diperoleh pesantren itu saja tetapi juga lingkungan sekitar pontren.
Sekarang di musim pandemi ini di manapun kita berada, termasuk dalam pontren, kita tetap perlu mematuhi protokol kesehatan. Beberapa di antaranya selalu rajin cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebelum dan sesudah berkegiatan, rajin memakai masker kalau perlu dilengkapi dengan face shield, dan tidak perlu bersalaman, cium tangan, apalagi berpelukan saling bertemu. Sebaliknya, cukup mengatupkan tangan dan selalu menjaga jarak. Mendukung hal tersebut, tingkatkan imun dengan asupan yang Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA), rajin berolah raga dan dede, berjemur, serta melakukan penyemprotan disinfektan untuk permukaan benda.
Merawat “jogo santri” di setiap pontren penting. Hal itu bisa diawali dengan ketersediaan thermo-gun, alat pengukur suhu tubuh, sarana CTPS dengan air mengalir dan hand sanitizer di tempat-tempat yang sering di akses oleh warga pontren. Pontren juga perlu menyiapkan ruang karantina/isolasi mandiri yang dilengkapi kamar mandi khusus. Apabila kesulitan dapat berkoor-dinasi dengan Ketua Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 secara berjenjang, dengan memanfaatkan sarana yang ada. Mengenai pola pembelajaran agar dilaksanakan secara efektif, efisien, inovatif dan menyenangkan dengan memperhatikan kapasitas ruang yang tersedia dan memperhatikan norma kesehatan serta dapat menggunakan model pembelajaran shifting. Inilah bagian cara kita merawat Indonesia. Kalau itu bisa dilakukan, Insya Allah, pontren dan negeri ini bebas dari pandemi covid-19.
