Mengabarkan Ilmu Titen Hingga Ke Belanda

Bukan arsitek bahasa, tidak pemuja kata, bergumul dalam kerumunan aksara
Tulisan dari Marjono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Budaya itu bagian dari solusi, yang sangat penting diperhatikan oleh siapapun dalam merawat bangsa. Ketika satu wilayah konsentrasi penuh pada kebudayaannya, Insya Allah eksistensi budaya dan segala aspek kehidupan masyarakat lainnya akan ber-jalan dengan baik. Bahkan hingga aspek ekonomi juga akan ikut terangkat.
Budaya juga sebagai entitas pemersatu. Ndak nggih mboten. Ada paguyuban-paguyuban yang berdasar etnis tertentu, dan itu sangat guyub dan eksis. Punya program untuk saling membantu bahkan membantu orang lain di luar paguyubannya. Kemudian ada pergelaran seni yang kemudian disengkuyung bareng-bareng.
Sebagai kaum muda bangga dengan kebudayaan masing-masing, misalnya orang Batak bangga dengan Ke-Batak-an, orang Jawa, bangga atas ke-Jawa-annya. Meski dalam kebudayaan Jawa itu tak selalu tunggal.
Jawa Timur, Jawa Tengah, atau DIY, punya kekhasannya masing-masing. Di Jateng sendiri, kita punya gaya-gaya pesisiran, keraton, dan banyumasan yang masing-masing punya cirikhas sendiri-sendiri. Di Yogyakarta maupun Jawa Timur, tentu demikian pula.
Namun pada prinsipnya kebudayaan Jawa itu, sarat akan mahakarya seni yang kesohor, seperti keris, wayang kulit, berbagai tarian, tembang, susastra, dll. Jawa juga punya nilai-nilai kearifan lokal yang luar biasa. Kebudayaan Jawa tansah ngemu rasa. Kita punya nilai-nilai gotong royong, tepo seliro, unggah-ungguh, andhap asor, dan nilai luhur lainnya.
Jawa juga punya konsep tentang ke-pemimpinan hastabrata. Ada pula falsafah kepemimpinan lainnya, seperti : Ojo gumunan, ojo kagetan lan ojo dumeh, wani ngalah luhur wekasane, ojo adigang adigung adiguna, ojo kemingsun (merasa benar dan kuasa sendiri), ojo dumeh, berusaha amemangun karyenak tyasing sesama yang berarti berbuat untuk menyenangkan hati sesama manusia.
Ilmu titen = early warning system
Bagaimanapun aspek-aspek kultural Jawa tidak bisa penulis lepaskan begitu saja pada jejak perjalanan sebagai pekerja dari tlatah Solo. Meski kemudian tentu juga harus adaptif pada konteks-konteks kekinian. Beberapa saat lalu ada mahasiswa yang membuat tulisan tentang gubernur milenal atau dulu pernah juga disebut gubernur twitter. Perkembangan teknologi harus bisa kita ikuti dan ambil sisi baiknya, dengan tetap berlandaskan pada nilai dan norma budaya yang kita punya.
Jateng itu supermarket bencana. Maka kemudian, upaya mitigasi atau tanggap bencana terus kita dorong. Gotong royong sebagai upaya komunal sebagai jatidiri Indonesia dan Jawa mesti terus kita tiupkan dalam menghadapi bencana. Termasuk sistem peringatan dini harus kita edukasikan kepada masyarakat.
Tetapi ternyata, masyarakat Jawa punya kearifan lokal luar biasa dalam peringatan dini bencana. Kita punya ilmu titen, akan tanda-tanda alam sebelum terjadi bencana. Tanda-tanda alam ini biasa digunakan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, khususnya di Pulau Jawa untuk meminimalisir resiko bencana.
Kalau gunung mau meletus, kewan-kewan podho midhun, hawane tambah panas dll. Ketika ada letusan Gunung Slamet, ada ilmu titen yang difungsikan yaitu mulai air terjun Baturraden yang mendadak menghangat, suara gamelan tanpa penampakan fisik dll. Kemudian ketika terjadi tanah longsor, masyarakat mendeteksinya melalui gejala rekahan di ladang persawahan, aliran mata air keruh serta munculnya binatang-binatang liar dari hutan ke kampung.
Gubernur Ganjar Pranowo bahkan mengabarkan ilmu ini ke Belanda pada konferensi tentang iklim beberapa waktu silam. Ia bagikan buku "Disaster Ilmu Titen," yaitu buku tentang penanggulangan bencana salah satunya dengan menggunakan nilai-nilai kearifan lokal yang sering disebut tanda-tanda alam. Respon peserta sangat luar biasa.
Selanjutnya kita nguri-uri ke-budayaan Jawa sebagai cara untuk melestarikan dan sekaligus menerapkan nilai-nilai luhur kebudayaan Jawa pada kerja pembangunan di Jawa Tengah. Banyak hal yang telah dan terus kita lakukan, antara lain : Rembugan dan gotong royong pada peren-canaan pembangunan melalui Musrenbang. Kita libatkan seluruh kelompok masyarakat, dari parpol, toma toga, kaum perempuan dan bahkan disabilitas.
Nguri-uri kabudayan
Saban hari Kamis pula, rekan-rekan di Pemprov. Jateng juga harus memakai baju adat Jawa. Nah, karena di Jateng ada yang pesisiran, keraton, Banyumasan maka kemudian ada pilihan-pilihan baju yang bisa dikenakan. Termasuk boleh untuk memakai baju Samin sebagai baju tradisional dari masyarakat Samin di Blora.
Demikian juga tak ada salahnya terlibat sebagai lakon dalam pementasan wayang orang. Kita juga sering selenggarakan pergelaran wayang kulit, kethoprak maupun seni tradisional lainnya. Ini edukasi, Ini nguri-uri agar warga kita, para pemuda, remaja dan anak-anak kita menyukai atau paling tidak kenal sama seni budaya Jawa.
Menggelar festival atau event –event yang mengangkat seni budaya tradisional juga makin marak. Bukan saja menjaga kelestarian budaya tetapi juga sekaligus menjual wisata. Kegiatan berkesenian dan berkebudayaan yang diselenggarakan di berbagai daerah, seperti Festival Dieng dengan tradisi potong rambut gimbalnya; kemudian ada pu-la sebar apem di Klaten, dan masih banyak lainnnya yang punya nilai kultural, edukasional dan mampu menarik kunjungan wisatawan.
Pada Borobudur Marathon lalu kita libatkan masyarakat untuk memberikan dukungan di sepanjang jalan dengan menampilkan seni budaya. Dan ini diperlombakan. Sa-ngat menarik sehingga kegiatan marathon bukan hanya ajang pemajuan olahraga tetapi juga pemajuan budaya. Masyarakat bukan hanya sebagai penonton tapi juga pelaku yang memperoleh manfaat lang-sung didalamnya.
Tantangannya kemudian dalam pembangu-nan kebudayaan kita masih dihadapkan pada : Masih rendahnya apresiasi berkesenian dan belajar kebudayaan di kalangan generasi muda, dan Upaya berkarya seni di masyarakat juga belum terlalu optimal.
