DT Peduli dan BRIN Perkuat Mitigasi Bencana dengan Implementasi EEWS

Lembaga Amil Zakat Nasional Daarut Tauhiid Peduli
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari DT Peduli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

DTPEDULI.ORG | BANDUNG BARAT - DT Peduli menerima kunjungan strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rangka koordinasi riset Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS), Sabtu (2/5/2026). Pertemuan ini membahas implementasi sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System (EEWS) di lingkungan pendidikan dan pesantren DT.

Riset bertajuk Research Project for Development of End-To-End Earthquake Early Warning and Response System (E2E EEWRS) ini diketuai oleh Andi Eka Sakya dengan menggandeng berbagai mitra internasional seperti BMKG, Kobe University, JICA Jepang, serta pakar kebencanaan Aiko Sakurai dan Mizan Bisri.
Pemilihan Eco Pesantren DT sebagai lokasi riset didasari oleh letak geografisnya yang berdekatan dengan patahan Sesar Lembang. Wilayah ini dinilai memiliki risiko dan dampak besar sehingga memerlukan kajian mitigasi bencana yang komprehensif. Program SATREPS sendiri merupakan kolaborasi riset Indonesia-Jepang untuk mengembangkan sistem peringatan dini dari tahap deteksi hingga respons masyarakat.
Kunjungan ini berfokus pada tiga tujuan utama, yakni pertama, kajian perilaku untuk mempelajari cara siswa, guru, dan civitas sekolah merespons kejadian gempa bumi berbasis sistem EEWS yang terpasang.
Kedua, evaluasi sistem untuk menilai pemanfaatan EEWS dalam mendukung kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan. Ketiga, simulasi evakuasi untuk mendiskusikan kesiapan sekolah dalam melaksanakan latihan (drill) evakuasi gempa berbasis teknologi peringatan dini.
"Apakah seseorang bisa membayangkan seberapa besar dan seberapa dahsyat dampak yang akan dia rasakan dari bencana (gempa bumi/tsunami)? tentu tidak, dan dia akan merasakannya saat dia mengalaminya, namun untuk mencegah hal itu maka harus ada technologi yang bisa mengantisipasi kejadian tersebut," jelas Aiko.
Ketua Yayasan DT Peduli, Bascharul Asana (Rully), menjelaskan bahwa meskipun saat ini DT belum memiliki teknologi pendeteksi dini, upaya edukasi mitigasi telah rutin dilakukan setiap bulan di lingkungan pesantren dan sekolah. DT juga telah menunjuk dan melatih personel khusus (PIC) di setiap lembaga untuk bertanggung jawab dalam kondisi darurat bencana.
Menanggapi rencana kolaborasi ini, Pembina Yayasan DT Peduli, Budi Faisal, menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama secara resmi dengan BRIN dalam penerapan teknologi EEWS.
"Walaupun EEWS masih berupa prototype atau tahap uji coba di Indonesia, Daarut Tauhiid siap bekerja sama demi kebaikan dan keselamatan bersama," tegas Budi Faisal.
Pertemuan selama tiga jam di Ruang Rapat Utama RLA Studio Eco Pesantren 1 ini diakhiri dengan peninjauan langsung ke berbagai sudut bangunan pesantren. Peninjauan tersebut bertujuan memastikan infrastruktur yang ada telah memenuhi standar mitigasi bencana guna mendukung integrasi teknologi EEWS di masa depan. (NAA/Agus ID)
