Konten dari Pengguna

Masjid di Long Xuyen Kembali Berdiri Berkat Sedekah Jariyah Donatur Indonesia

DT Peduli

DT Peduli

Lembaga Amil Zakat Nasional Daarut Tauhiid Peduli

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DT Peduli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peresmian Masjid Salamad di Kota Long Xuyen, Vietnam (Sumber : DT Peduli)
zoom-in-whitePerbesar
Peresmian Masjid Salamad di Kota Long Xuyen, Vietnam (Sumber : DT Peduli)

DTPEDULI.ORG | LONG XUYEN - Jumat (5/12/2025) menjadi hari bersejarah bagi komunitas muslim di Kota Long Xuyen. Masjid Salamad, yang dikenal sebagai masjid tertua dan pertama di kawasan tersebut, resmi diresmikan kembali setelah proses pembangunan yang panjang. Pembangunan ini terwujud berkat sedekah jariyah donatur Indonesia melalui DT Peduli bersama anggota Humanitarian Forum Indonesia (HFI) dan dukungan pemerintah Indonesia.

Ditektur Utama DT Peduli, Jajang Nurjaman, Ikut Meresmikan secara Langsung Masjid Salamad Long Xuyen, Vietnam (Sumber : DT Peduli)
zoom-in-whitePerbesar
Ditektur Utama DT Peduli, Jajang Nurjaman, Ikut Meresmikan secara Langsung Masjid Salamad Long Xuyen, Vietnam (Sumber : DT Peduli)

Deputi Bidang Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kemenko PMK, Warsito, mewakili Menko PMK hadir untuk meresmikan masjid ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kehadiran masjid ini menjadi simbol penting wajah Islam Indonesia yang damai dan penuh toleransi.

"Kami akan memastikan bahwa muslim Indonesia sangat toleran dan penuh dengan kerukunan dan keharmonisan. Pembangunan ini adalah wujud untuk terus bekerja sama dalam bidang dakwah, ekonomi, pendidikan, dan sosial," ujar Warsito.

Masjid Salamad sendiri bukan bangunan baru sepenuhnya. Sejak tahun 1953, masjid ini telah menjadi tempat shalat, i'tikaf, dan berbagai aktivitas keagamaan bagi komunitas muslim setempat. Namun seiring waktu, bangunan lama lapuk dimakan usia dan sempat terdampak banjir besar pada tahun 1978.

"Izinkan kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang sudah membantu dan mendukung pembangunan Masjid Salamad. Masjid ini sudah ada sejak 1953, tapi karena lapuk termakan usia, menjadi masjid tua. Masjid ini menjadi tempat shalat dan i'tikaf. Tahun 1978 pernah terdampak banjir," tutur muwakif Masjid Salamad, Mr. Zach, Ketua Komunitas Islam di Long Xuyen.

Masjid Salamad di Long Xuyen, Vietnam (Sumber : DT Peduli)

Direktur Eksekutif Humanitarian Forum Indonesia (HFI), Surya Rahman, menegaskan bahwa pembangunan masjid ini bukan hanya proyek fisik, tetapi bagian dari hubungan panjang persaudaraan bangsa.

"Ini bukan hanya hubungan pembangunan masjid saja, tapi juga secara tidak langsung menunjukkan hubungan diplomatik yang sudah terjalin sejak dulu dengan Campa. Pembangunan masjid ini awalnya dirancang enam bulan, tapi karena perizinan dan cuaca, prosesnya menjadi sekitar satu setengah tahun," jelas Surya.

Direktur Utama LAZ DT Peduli, Jajang Nurjaman, menyampaikan bahwa Masjid Salamad adalah simbol kuat persaudaraan umat Islam di kawasan ASEAN, termasuk Indonesia dan Vietnam. Ia mengisahkan bahwa sebelum dibangun kembali, masjid lama sempat dirobohkan karena sebelumnya sudah ada pihak yang berjanji membangun ulang. Namun hingga dua tahun berlalu, janji tersebut tak kunjung terealisasi.

Selama masa penantian itu, jemaah terpaksa beribadah di atas rumah salah satu warga, sebuah bedeng kayu lapuk di tengah kota Long Xuyen dengan ruang yang sangat terbatas untuk shalat berjamaah.

"Alhamdulillah, DT Peduli bersama anggota HFI lainnya bahu-membahu membangun masjid ini. Masjid ini adalah simbol persaudaraan umat Islam negara-negara ASEAN dan mudah-mudahan dapat menyebarkan dakwah Islam rahmatan lil 'alamin," ujar Jajang.

Bagi DT Peduli, terwujudnya Masjid Salamad adalah buah dari kepercayaan dan kebaikan para donatur. Sedekah jariyah yang dititipkan melalui DT Peduli kini menjelma menjadi rumah ibadah yang akan terus mengalirkan pahala dari setiap rakaat shalat yang dikerjakan, setiap ayat Al-Qur'an yang dibaca, hingga setiap doa yang dipanjatkan di dalamnya. (Agus ID)