Ketika Mandi Empat Kali Sehari Terasa Wajar

Pengamat sosial yang meneliti dinamika masyarakat kontemporer melalui pendekatan sosiologis kritis. Temui saya di Bluesky: @markusacian.com
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Markus Acian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cuaca hari itu seperti biasa, terik menyengat sejak pagi. Langit biru cerah tanpa awan, dan mentari seolah turun lebih dekat dari biasanya. Suhu mencapai 35 derajat Celsius, dan rasanya setiap jengkal udara pun ikut memanas. Ini bukan cuaca yang aneh — inilah keseharian kami yang hidup tepat di garis tengah bumi.
Bagi sebagian orang, suhu setinggi itu mungkin cukup membuat mereka memilih berdiam di dalam ruangan, menyalakan pendingin ruangan, atau membatalkan janji di luar. Tapi di sini, kehidupan tetap berjalan. Bahkan anak-anak tetap berlarian di lapangan berdebu, seolah panas hanyalah bagian dari permainan mereka.
Di sisi jalan, pedagang kaki lima tetap membuka lapak seperti biasa. Seorang ibu penjual gorengan terlihat sibuk mengipas minyak panas di atas wajan yang nyalanya tak kalah dengan suhu udara. “Kalau nggak kuat panas, ya nggak jualan,” katanya sambil tersenyum tipis, berkeringat.
Tak sedikit warga yang harus mandi hingga empat sampai lima kali dalam sehari, hanya agar tubuh bisa kembali segar meski untuk sementara. Air dingin bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi semacam pelarian kecil dari tekanan udara yang terus menyengat sejak pagi hingga malam.
Di warung kopi, para pelanggan tetap datang. Mereka bercengkerama, menyeruput kopi panas meski peluh terus menetes. Entah karena sudah terbiasa, atau memang begitulah cara kami melawan panas: dengan obrolan dan tawa.
Saat siang menjelang, jalanan mulai lengang. Banyak orang memilih berteduh. Aktivitas melambat, seperti ikut meleleh bersama aspal yang terasa lebih lunak. Namun perlahan, menjelang sore, kehidupan kembali menggeliat. Suara motor kembali ramai, penjual es mulai dikejar pelanggan.
Kehidupan di bawah garis khatulistiwa memang berbeda. Panasnya bukan musibah, tapi teman lama yang selalu datang menyapa. Dan meskipun seringkali menyengat, ia mengajarkan banyak hal — tentang ketahanan, kebiasaan, dan cara kita berdamai dengan alam.
