Konten dari Pengguna

Keuntungan Sepihak, Kerugian yang Menjalar

Markus Acian

Markus Acian

Pengamat sosial yang meneliti dinamika masyarakat kontemporer melalui pendekatan sosiologis kritis. Temui saya di Bluesky: @markusacian.com

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Markus Acian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Park Avenue, New York, AS – 16 Mei 2018: Tiga orang menunggu lampu lalu lintas dan satu duduk di trotoar. iStockPhoto.com
zoom-in-whitePerbesar
Park Avenue, New York, AS – 16 Mei 2018: Tiga orang menunggu lampu lalu lintas dan satu duduk di trotoar. iStockPhoto.com

Di zaman ketika angka dan statistik lebih sering dipuja dibandingkan nilai-nilai kemanusiaan, kita menyaksikan sebuah realitas yang diam-diam menggerogoti sendi kehidupan sosial: keuntungan yang hanya berpihak pada segelintir orang, sementara kerugian menyebar tanpa arah, menjalar ke banyak kehidupan yang tak terdokumentasi. Kita sering dibuat terpukau oleh keberhasilan seseorang atau sekelompok elit ekonomi: angka pertumbuhan yang naik, laba kuartalan yang membesar, harga saham yang melonjak. Namun di sisi lain, kita luput menyadari bahwa dalam setiap keberhasilan yang terlalu berat sebelah, ada harga yang dibayar oleh banyak pihak yang tak bersuara. Mulai dari petani yang terpinggirkan karena alih fungsi lahan, buruh yang dibayar tak sepadan dengan waktu dan tenaga, hingga lingkungan yang rusak karena eksploitasi tanpa etika — semuanya adalah bentuk-bentuk kerugian yang tidak selalu tampak, tapi menjalar secara perlahan. Ketimpangan ini bukan hanya tampak dalam angka, tapi juga dalam simbol-simbol keseharian. Mal yang terus tumbuh di tengah kota menjadi simbol kemajuan, sementara kampung-kampung di sekitarnya tenggelam dalam ketidakpastian. Kota membesar, tapi ruang hidup menyempit. Teknologi melaju, tapi pekerjaan manusia makin digerus. Keuntungan sepihak ini juga melahirkan ilusi meritokrasi: bahwa semua orang bisa sukses asal bekerja keras. Padahal sistemnya sudah timpang sejak awal. Ketika seseorang bisa menikmati pendidikan terbaik, akses modal, dan jaringan sosial, keberhasilannya bukan hanya hasil usaha, tapi juga privilese yang diwariskan. Di sisi lain, mereka yang tertinggal dianggap kurang berusaha, padahal mereka hanya tak punya titik tolak yang setara. Kerugian yang menjalar itu seringkali tak tercatat. Ia hadir dalam bentuk anak-anak yang putus sekolah, ibu rumah tangga yang harus mengutang untuk bertahan hidup, atau remaja yang kehilangan harapan karena sistem terlalu keras dan tak adil. Semua ini bukan karena mereka gagal, tapi karena mereka harus menghadapi beban yang tak diciptakan oleh mereka sendiri. Ini bukan tentang menyalahkan individu yang sukses, tapi tentang menyadari bahwa sistem yang membiarkan keuntungan terkonsentrasi di satu sisi akan selalu menghasilkan luka di sisi lain. Dan jika kita tidak menyadarinya, maka kita ikut membiarkan kerugian itu menjalar, mungkin hingga menyentuh kita sendiri suatu hari nanti. Keadilan bukan tentang membuat semua orang sama. Tapi tentang memastikan bahwa keuntungan tidak hanya dinikmati oleh yang sudah punya, dan kerugian tidak hanya ditanggung oleh mereka yang tak mampu melawan. Dunia ini terlalu luas untuk hanya jadi panggung bagi satu kelompok yang menang terus-menerus. Dan mungkin, saat kita mulai sadar, barulah kita bisa menciptakan arus baru — yang tidak lagi menjalar dalam bentuk kerugian, tapi menyebar dalam bentuk harapan.