Konten dari Pengguna
Kita Butuh Waktu Sendiri, Tapi Sering Dianggap Aneh
15 Juli 2025 16:07 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Kita Butuh Waktu Sendiri, Tapi Sering Dianggap Aneh
Menjauh dari keramaian bukan berarti antisosial. Kadang kita hanya butuh waktu sendiri untuk pulih dan menjaga kewarasan.Markus Acian
Tulisan dari Markus Acian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Beberapa waktu lalu, saya tidak ingin diganggu siapa pun. Bukan karena sedang membenci orang, bukan karena ingin menghilang. Saya hanya merasa lelah. Tidak secara fisik, melainkan secara sosial dan emosional. Tapi ketika mulai menarik diri, reaksi orang-orang justru seperti menghadapi orang yang sedang bermasalah: “Kok diam banget?”, “Lagi kenapa sih?”, atau “Jangan antisosial dong!”
ADVERTISEMENT
Dari situ saya sadar, di masyarakat kita, kebutuhan untuk menyendiri masih sering disalahpahami.
Dalam keseharian, kita didorong untuk selalu terhubung. Media sosial aktif 24 jam. Grup WhatsApp tidak pernah tidur. Ada tuntutan tak tertulis untuk terus responsif, hadir, dan ramah. Jika tidak, seseorang bisa dengan cepat dicap cuek, sombong, atau bahkan ‘bermasalah’.
Padahal, tidak semua orang memiliki energi sosial yang sama. Ada yang merasa tenang setelah bertemu banyak orang. Tapi ada juga yang justru merasa terkuras. Dan itu bukan gangguan kepribadian. Itu bagian dari dinamika manusia yang wajar.
Saya pribadi termasuk orang yang butuh waktu sendiri untuk memulihkan energi. Bukan karena tidak suka bersosialisasi, tapi karena butuh jeda agar tetap utuh. Waktu sendiri bagi saya adalah ruang sunyi untuk mendengar suara hati yang sering hilang ditelan keramaian. Saat semua orang bicara, siapa yang benar-benar mendengarkan?
ADVERTISEMENT
Menariknya, banyak ahli psikologi justru menyarankan kita untuk memberi ruang bagi kesendirian. Dalam wawancara dengan Psychology Today, Dr. Sherrie Bourg Carter menyebutkan bahwa “kesendirian bisa meningkatkan produktivitas, kejernihan berpikir, dan keseimbangan emosi.” Di Indonesia, topik ini mulai banyak dibicarakan terutama setelah pandemi memaksa kita untuk hidup lebih lambat dan lebih sadar akan kesehatan mental.
Tapi meski isu ini makin dibicarakan, tetap saja butuh waktu untuk mengubah cara pandang masyarakat. Kita masih mudah menganggap diam sebagai tanda gangguan, bukan pemulihan. Kita terbiasa menghubungkan ‘baik-baik saja’ dengan aktivitas yang terus berjalan — padahal, kadang diam juga adalah bentuk perawatan.
Buat saya, memilih waktu sendiri adalah hak. Bahkan tanggung jawab. Sebab jika terus memaksa diri untuk hadir demi memenuhi ekspektasi sosial, maka yang datang justru kehampaan. Hadir secara fisik tapi kosong secara batin. Dan itu jauh lebih menyakitkan dari sekadar menjauh sebentar.
ADVERTISEMENT
Kesendirian bukan musuh. Ia bisa jadi rumah sementara, tempat kita merapikan diri sebelum kembali ke dunia luar. Maka, ketika seseorang memilih diam, jangan buru-buru menariknya keluar. Barangkali, ia sedang belajar menjaga dirinya sendiri. Dan itu bukan hal yang egois — justru sangat sehat.

