Konten dari Pengguna

Rasa Malu yang Hilang dalam Budaya Digital

Markus Acian

Markus Acian

Pengamat sosial yang meneliti dinamika masyarakat kontemporer melalui pendekatan sosiologis kritis. Temui saya di Bluesky: @markusacian.com

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Markus Acian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan



Foto: iStockphoto.com / Juan Ci
zoom-in-whitePerbesar
Foto: iStockphoto.com / Juan Ci

Dulu, rasa malu dianggap sebagai bagian dari etika. Ia adalah pagar batin yang menjaga kita untuk tidak sembarangan dalam berkata atau bertindak. Tapi di era digital, rasa malu perlahan kehilangan tempatnya.

Kita menyaksikan banyak orang dengan mudah membuka aib sendiri, menyerang orang lain, atau membagikan hal-hal pribadi ke ruang publik—tanpa ragu, tanpa rasa bersalah, dan tanpa malu. Semua itu dilakukan demi likes, views, atau sekadar validasi sosial. Apa yang dulu dianggap memalukan, kini justru jadi konten viral.

Dalam budaya digital hari ini, yang penting bukan lagi benar atau salah, tapi menarik atau tidak. Orang yang bicara kasar bisa jadi panutan. Orang yang memamerkan konflik rumah tangga justru kebanjiran simpati. Kita tidak lagi hidup dalam masyarakat yang menghargai keheningan dan introspeksi, melainkan dalam kebisingan yang dipelihara algoritma.

Padahal, rasa malu adalah bagian dari moralitas. Ia bukan berarti menekan diri, tapi mengingatkan bahwa tidak semua hal pantas diumbar. Rasa malu menyadarkan kita akan batas: antara pribadi dan publik, antara jujur dan membuka aib, antara berani dan tidak tahu malu.

Ketika rasa malu hilang, kita kehilangan kontrol atas diri sendiri. Kita tak lagi peduli pada dampak ucapan atau tindakan, selama ada yang menonton. Bahkan, demi “konten”, kita rela melukai orang lain, termasuk keluarga sendiri.

Media sosial, tentu saja, bukan sepenuhnya buruk. Ia punya potensi besar untuk membangun koneksi dan empati. Tapi jika kita tak lagi punya malu, maka platform itu hanya akan menjadi panggung narsisme kolektif yang menggerus nilai-nilai kemanusiaan.



Rasa malu bukan musuh kebebasan. Ia justru penyeimbangnya. Ia menjaga agar kebebasan tidak berubah menjadi kebablasan. Dalam dunia digital yang serba cepat, kadang kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menjadi suci atau sempurna, tapi untuk kembali bertanya: apakah yang kita bagikan hari ini adalah kebaikan, atau sekadar pelampiasan tanpa arah? Barangkali, yang perlu kita viralkan hari ini bukan hanya konten, tapi juga kesadaran. Termasuk kesadaran akan pentingnya malu—agar kita tetap manusia di tengah derasnya dunia maya.