Gie: Pohon Oak yang Menentang Angin

Markus Togar Wijaya
Seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Pusat Kajian Law and Social Justice Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Fans berat club Manchester United
Konten dari Pengguna
6 Maret 2024 13:22 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Markus Togar Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Soe Hok Gie. Foto: Mapala UI
zoom-in-whitePerbesar
Soe Hok Gie. Foto: Mapala UI
ADVERTISEMENT
Sosok Gie memang banyak dikagumi dan dijadikan tokoh idola oleh banyak pihak, terutama generasi-generasi yang menekuni jiwa aktivisme muda. Gie hidup pada zaman ketika Soekarno (baca: bung besar) masih memerintah di Indonesia. Ia secara aktif menulis tulisan yang memuat tentang kekacauan negara, dan seringkali mengkritik pemerintahan yang sedang berkuasa.
ADVERTISEMENT
Membaca buku “Catatan Seorang Demonstran” membuat saya menjadi mengerti tentang idealisme pemuda. Oleh sebab itu Tan Malaka pernah berkata, “idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki para pemuda.”
Lalu, bagaimana kisah perjalanan hidup Gie sampai ia meninggal di puncak Mahameru? Bagaimana Gie tetap menjadi suatu tokoh panutan yang idealis yang eksis sampai sekarang? Dan terakhir, bagaimana kehidupan romansa Gie kala cintanya acapkali berujung kandas?

Intelektual Muda

Gie mengawali kegiatan intelektualnya ketika mendaftar di kampus UI. Ia mendaftar di jurusan psikologi dan sejarah. Tetapi sayang seribu sayang, ia ditolak masuk di jurusan psikologi dan diterima di jurusan sejarah. Lucu memang. Bagaimana bisa seorang Gie berpikiran ingin masuk jurusan psikologi? Mungkin saja ia ingin coba menerka psikologis dan otak penguasa.
ADVERTISEMENT
Ada sebuah kejadian lucu dari kisah hidup Gie. Kala itu, ia merasa kehadiran organisasi ekstra universiter begitu sarat akan kepentingan-kepentingan politik. Beberapa di antaranya adalah GMNI, HMI, CGMI, dan lain-lain. Akhirnya, ia muak dengan sikap-sikap politik organisasi ekstra dan mendirikan MAPALA UI sebagai tandingannya pada awal tahun 1960-an. Ia menganggap MAPALA adalah wujud penegasian organisasi ekstra tersebut.
Memang, saya menganggap bahwa jiwa-jiwa pragmatisme mahasiswa masih terjebak dalam organisasi ekstra. Oleh sebab itu kehadiran Gie, seakan menjadi alarm bagi kaum-kaum pragmatis.
Bagi Gie, MAPALA adalah sebuah bentuk pemikiran yang bertumbuh dengan alam. Dalam catatannya diceritakan bahwa gunung merupakan kaki langit yang tertancap teguh di bumi. Gunung adalah tempatnya membersihkan diri dari hiruk-pikuk dunia, dan semangat naik gunung selalu menjadi maniak dalam dirinya.
ADVERTISEMENT

Sempat merasa putus asa dengan idealismenya

Eits, jangan salah. Orang seperti Gie ternyata bisa putus asa juga loh. Dalam catatannya ia menulis:
Tulisan Gie ini mencerminkan bahwa pada waktu itu dirinya merasa berjuang dalam kesendirian untuk menentang rezim di tengah teman-temannya yang terlibat kompromi dalam politik kampus. Tetapi, syukurlah Gie dapat mengatasi keputusasaan itu. Ia menulis:
ADVERTISEMENT
Kutipan ini bagi saya menjadi sebuah penanda, bahwa bertahan pada prinsip dan idealisme adalah hal yang sulit di tengah situasi keterpurukan. Bahkan di kala dirinya terjebak dalam rasa keterpurukan, ia masih bisa bertahan pada idealisme dan prinsip-prinsip yang diyakininya. Menarik!

Kritik terhadap pemerintahan

Mau tahu keberanian Gie? Ia menulis bahwasanya Soekarno telah berkhianat terhadap kemerdekaan. Yamin masih terjebak dalam zaman romantik Indonesia. Hatta tak berani menyatakan kebenaran.
Wow, bayangkan. Pada saat zaman sekarang di mana founding fathers Indonesia diagung-agungkan bak dewa, Gie mengkritik dengan lugas para bapak-bangsa tersebut. Sungguh nyali yang berani bukan?
Pengalaman lain dari Gie yang sangat mencekam adalah ketika pada saat masa SMA. Ia bertemu dengan seseorang yang kelaparan dan memakan kulit mangga. Padahal kejadian tersebut berjarak cuma 2 kilometer dari istana negara. Dalam hati, Gie berucap,
ADVERTISEMENT
Lugas! Gie mengucapka hal tersebut dalam hati, di mana pada waktu itu ia masuk duduk di bangku SMA.
Melihat kondisi ekonomi yang semakin kejam dan menindas, Gie gemar mengutip seorang filsuf Yunani yang selalu berkata, “nasib terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.” Gie menganggap bahwa umur tua merupakan sebuah kesialan, sebab kondisi zaman yang semakin bergerak kearah penindasan.

Cinta yang begitu menyiksa

"Is it a crime being idealist?" Begitulah kiranya ucap Gie saat hubungannya dengan Maria (baca: crush Gie) mendapatkan lampu merah. Keluarga Maria mengucapkan bahwa Gie baik, tetapi tidak untuk keluarganya. “Saya ingat nasib prajurit-prajurit yang juga diprasangkai oleh banyak orang. Mereka dipuja-puja, diciumi dijalan sebagai tentara pembebas. Tetapi kalau ada putrinya yang ingin kawin dengan tentara, nanti dulu.”
ADVERTISEMENT
Inilah yang dirasakan oleh Gie. Sebuah penolakan cinta. Mungkin rasa galaunya bisa berminggu-minggu dan sakit sekali. Bayangkan wahai kawan? Aktivis sekelas Gie merasakan putus cinta? Sungguh sedih sekali!
Gie kemudian melakukan usaha-usaha untuk menjauh dari Maria. “Kalau kau di warung Senggol, saya tak akan ke sana. Kalau saya ada di warung Senggol dan kau datang, maka saya pergi.” Lucu sekali ya. Mirip seperti sinetron ketika pasangan sedang dalam masa break.
Begitulah kiranya sepucuk kisah cinta Gie. Menarik, jika ada kawan pembaca yang juga merupakan aktivis mahasiswa mengalami penolakan cinta seperti Gie.

Tempat bersejarah: Puncak Mahameru

Wafat pada tanggal 24 Desember 1969 tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi Gie dan teman-temannya. Gie wafat di Gunung Semeru karena menghirup gas beracun. Saksi mata yang merupakan sahabat gie adalah Herman. Ia menceritakan bahwa Gie mengalami kejang dan berteriak-teriak serta lari menuju jurang. Beruntung Herman langsung sigap menangkap Gie.
ADVERTISEMENT
Tulis Gie sebelum ia melepas pamit ke Gunung Semeru. Ia semakin sadar bahwa ketika dia mengejar gadisnya, dia tengah mengejar fatamorgana.
Cukup sedih ketika saya membaca kutipan terakhir Gie. Ia telah berbaring selama-lamanya di tanah, dan tidur selama-lamanya di bumi. Di puncak Mahameru yang indah dan bersih.
Tetapi, yang perlu kita syukuri adalah kejadian naas yang menimpa Gie meninggalkan sejuta prinsip bagi aktivis muda yang berpatok pada kebenaran.