Rian dan Hujan

Mahasiswa universitas pamulang
Tulisan dari Marlia Sri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Namaku Rani, aku suka hujan, bagiku bermain hujan adalah hal yang paling menyenangkan. Bulan Desember membawaku untuk menemukan sosok kebahagiaan yang sebenarnya, kebahagiaan itu adalah Rian. Hujan telah mempertemukan kami berdua sehingga kami selalu mengukir peristiwa terindah dalam hidup. Namun semuanya telah berubah, kini hujan tidak turun lagi dan dia pun hilang entah kemana.
Kemudian aku pergi mencarinya untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Namun, tiba-tiba Ibu menghampiriku dan meminta untuk menggantikan perannya karena dia ingin menjenguk temannya yang sakit.
"Nak, tolong antar adik mu ke sekolah ya, selepas itu antar pesanan barang untuk teman Ibu, hari ini Ibu dikabarkan bahwa Nenek sakit dan Ibu ingin menjenguknya," pinta Ibuku
"Baik bu" ucapku
Lalu aku pergi untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Ibu.
***
Keesokan hari nya
Aku bergegas pergi ke rumah dia, tiba-tiba saat di rumahnya aku melihat dia bersama perempuan lain terlihat keduanya sedang bercumbu mesra, tidak berpikir panjang aku langsung menghampiri nya.
"Siapa wanita itu? Mengapa terlihat akrab sekali dengannya?" tanyaku
"Ra diam! Apa kamu tidak bisa mengucap salam terlebih dahulu sebelum masuk ke rumah orang?" ujar dia
Seketika aku terkejut mendengar dia berbicara dengan nada tinggi padaku. Aku langsung beranjak pergi dari hadapannya sembari menangis, sebab jika aku menangis di depannya pasti dia akan memarahiku.
Aku menangis di taman tempat favorit ku dengan dia saat itu, tidak disangka ternyata dia mengikuti ku.
"Ra," ucapnya
"Kamu mengapa mengikuti ku dan siapa wanita itu?" tanyaku
"Kamu tidak perlu tahu wanita itu, yang harus kamu tahu kita cukup sampai disini saja" ujar nya
"Apa? Maksud kamu kita putus? Tetapi apa salah aku?" tanyaku
"Aku bosan denganmu, lebih baik kita putus saja." jawabnya
Setelah berbicara, dia langsung bergegas pergi dan meninggalkan aku.
Mendengar kalimat putus yang diucapkan oleh dia, membuat aku tak berdaya untuk berkata-kata hatiku sangat hancur.
***
Sebulan kemudian
Semenjak aku putus dengannya aku tidak lagi menyukai hujan, aku tak ingin melihat hujan turun lagi sebab hujan membuat ku teringat akan kenanganku dengan dia.
Kini aku harus berteman dengan kesendirian, berdamai akan kesepian, dan menerima hadirnya kesunyian. Masih teringat jelas bayangnya, senyumnya dan wajahnya di kepalaku. Lalu aku harus apa jika merindukan dia? Kemungkinan besar dia tidak akan rindu lagi padaku.
Tetapi aku harus menerima kenyataan bukan? Bahwa dia bukanlah milikku lagi dan tidak perlu mengingat nya sebab dia juga tidak akan pernah kembali padaku.
