Rumah yang Tidak Terasa Seperti Rumah

Mahasiswa Administrasi publik Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Marly harta Surya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua orang memiliki rumah yang terasa seperti rumah. Bagi sebagian orang, rumah justru menjadi tempat paling melelahkan secara emosional.
Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat pulang paling nyaman setelah dunia terasa melelahkan. Rumah identik dengan pelukan hangat, dukungan, dan rasa aman yang tidak ditemukan di tempat lain. Namun, tidak semua orang memiliki cerita yang sama tentang rumah. Ada yang tumbuh di dalam bangunan yang lengkap secara fisik, tetapi kosong secara emosional.
Tidak semua luka berasal dari dunia luar. Beberapa justru tumbuh perlahan di dalam rumah sendiri.
Perceraian orang tua, pertengkaran tanpa akhir, hingga minimnya kasih sayang sering kali meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat. Anak yang tumbuh dalam kondisi seperti ini perlahan belajar memendam semuanya sendirian. Mereka terbiasa dianggap “kuat” hanya karena tidak pernah diberi ruang untuk benar-benar rapuh.
Banyak orang tua berpikir bahwa memenuhi kebutuhan materi sudah cukup untuk disebut sebagai tanggung jawab. Padahal, seorang anak juga membutuhkan dukungan emosional, apresiasi, dan rasa diterima. Sayangnya, tidak semua anak mendapat hal tersebut. Sebagian justru tumbuh dengan makian, perbandingan, hingga perlakuan kasar yang perlahan menghancurkan rasa percaya diri mereka.
Yang paling menyakitkan bukan hanya kata-kata kasar itu sendiri, melainkan perasaan bahwa keberadaan kita seperti tidak pernah benar-benar diinginkan.
Akibatnya, rumah bukan lagi tempat untuk beristirahat. Rumah berubah menjadi ruang penuh tekanan yang membuat seseorang merasa asing di tempat tinggalnya sendiri. Tidak sedikit anak yang akhirnya lebih nyaman menyimpan semuanya sendiri karena merasa tidak akan dipahami.
Ironisnya, banyak dari mereka tetap berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Mereka tetap membantu teman, tetap tersenyum, dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa, padahal di dalam dirinya ada kelelahan yang terus menumpuk setiap hari.
Tumbuh tanpa dukungan emosional membuat seseorang sering kali mempertanyakan nilai dirinya sendiri. Mereka mulai merasa menjadi beban, merasa tidak cukup baik, bahkan menyalahkan diri atas keadaan keluarga yang sebenarnya berada di luar kendali mereka.
Padahal, tidak ada anak yang pantas tumbuh dengan perasaan tidak dicintai.
Rumah seharusnya menjadi tempat pertama seseorang belajar tentang kasih sayang, bukan tempat pertama seseorang belajar tentang luka. Sebab, luka yang datang dari keluarga sering kali menjadi luka paling sulit disembuhkan.
Meski begitu, banyak orang yang tetap bertahan di tengah kondisi tersebut. Mereka mencoba mencari harapan lewat hal-hal kecil, seperti tulisan, musik, pertemanan, atau mimpi untuk memiliki kehidupan yang lebih baik di masa depan. Tidak mudah memang, tetapi bertahan sejauh ini saja sudah menjadi bentuk keberanian yang sering kali tidak disadari.
Mungkin tidak semua orang beruntung tumbuh di rumah yang hangat. Namun, mereka yang pernah merasakan dinginnya rumah tanpa kasih sayang sering kali menjadi orang yang paling memahami arti penerimaan.
Sebab pada akhirnya, setiap orang hanya ingin memiliki satu tempat di dunia yang bisa membuatnya merasa aman untuk pulang.
