Konten dari Pengguna

Belajar Hidup dalam Kasih Allah Bersama Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, M.S.F

Fransiskus Marmora Kristioadi

Fransiskus Marmora Kristioadi

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Airlangga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fransiskus Marmora Kristioadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, M.S.F. atau biasa dikenal dengan nama Mgr. Sutrisnaatmaka merupakan uskup Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Beliau lahir pada tanggal 18 Mei 1953 di Pandhes, Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka merupakan anak kelima dari delapan bersaudara dari Ignatius Gitusutrisno. Beliau menyelesaikan pendidikan TK dan SD di Wedi yaitu di TK Santa Maria Wedi dan SD Kanisius Murukan 1. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Seminari Mertoyudan. Terdapat fakta menarik mengenai beliau mengapa memilih untuk melanjutkan SMP di Seminari. Ketika saat bermain bola bersama temannya di lapangan SD, bola yang ditendang mengenai kaca ruang guru. Lalu beliau bersama temannya dipanggil oleh guru. Beliau pun merasa takut jika dimarahi. Guru tersebut menanyakan kepada beliau dan temannya untuk ingin melanjutkan pendidikan ke mana. Lalu temannya berkata ingin melanjutkan pendidikan ke Seminari Mertoyudan. Alhasil temannya tersebut tidak dimarahi oleh guru tersebut. Lalu Mgr. Sutrisnaatmaka pun mengikuti jejaknya untuk menjawab pertanyaan yang sama yaitu ingin melanjutkan pendidikan di Seminari Mertoyudan.

Lalu setelah menyelesaikan pendidikan di Seminari Mertoyudan, beliau melanjutkan pendidikannya di Institut Filsafat Teologi di Santo Paulus Kentungan, Yogyakarta tahun 1973-1980. Lalu beliau ditahbiskan menjadi imam 6 Januari 1981 Kardinal Justinus Darmojuwono di Skolastikat MSF, Yogyakarta. Setelah ditahbiskan menjadi Imam, beliau bertugas di Paroki St. Theresia, Balikpapan selama 1 tahun yaitu pada tahun 1981 hingga 1982. Setelah itu beliau meneruskan pendidikan dan meraih gelar doktor dalam bidang misiologi dari Universitas Kepausan Gregoriana pada tahun 1982-1987. Kemudian selama 12 tahun beliau mengajar di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma sampai tahun 2001. Saat tahun 1990, selama 11 tahun, Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka menjabat sebagai wakil ketua di komisi Liturgi KWI. Lalu pada tahun 2000, Mgr. Sutrisnaatmaka juga pernah menjadi narasumber pada perayaan Yubileum tingkat keuskupan Palangkaraya.

Lalu pada tahun 2001, tepatnya tanggal 23 Januari, beliau terpilih menjadi Uskup di Keuskupan Palangkaraya. Beliau ditahbiskan pada tanggal 7 Mei 2001 oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J. yang merupakan Uskup Agung Jakarta sekaligus juga merupakan Uskup Ordinariat Militer Indonesia. Lalu dibantu dengan Uskup Agung Pontianak dan Uskup Agung Samarinda yang menjadi Ko-konsekrator. Sampai saat ini beliau masih menjadi Uskup Palangkaraya yang berarti sudah 19 tahun menjadi Uskup. Beliau juga aktif menulis sejak tahun 1975. Saat ini beliau menjadi ketua Komisi KKM-KWI periode 2018-2022 ini menggembalakan 93.285 umat katolik di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah.

Karya dan Teladan Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka

Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka aktif menulis sejak 1975. Banyak karya-karya beliau yang sudah terbit di berbagai media seperti di harian KOMPAS (1975), mingguan HIDUP, majalah UTUSAN (1975-2000), ROHANI (1989-1999), FAJAR LITURGI (1994-1997), ORIENTASI BARU, Pustaka Filsafat Teologi (1994, 1998, 1999), SAWI (1993-2000).

Dalam bukunya yang berjudul “Segi Ekaristi, Misi, dan Inkulturasi” beliau mengajarkan bahwa dengan kita hidup dalam tanda cinta kasih. Sebagai contoh, seorang ibu tahu akan kebutuhan-kebutuhan anaknya, sang ayah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, ketika kita pergi ke luar negeri dan membelikan barang untuk sahabat/kekasih kita sebagai kenang-kenangan. Hal-hal tersebut merupakan tanda cinta kasih. Bahkan yesus pun juga memberikan tanda kenang kenangan dan peringatan waktu perjamuan malam dengan murid-muridnya. Terdapat dalam injil Lukas 22 : 19-20. Dengan itu jelas bahwa tanda peringatan yang ditinggalkan oleh kristus kepada kita yaitu Perjamuan Ekaristi. Disini Mgr. Mengajarkan kepada kita untuk rajin dalam mengikuti perjamuan ekaristi. Lalu dalam bukunya juga, beliau mengajarkan kita hidup dengan kesatuan dalam keanekaragaman yang ada.

Lalu di buku yang berjudul “Segi-Segi Kaum Muda dan Kepemimpinan Gereja” beliau mengajarkan mengenai mengembangkan personalitas mahasiswa dan mendidik kepemimpinan. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa mahasiswa sebagai angkatan muda sekaligus calon intelektual bangsa sudah seharusnya menjadi penggerak pembangunan di negaranya. Lalu dijelaskan bahwa fakotr yang menentukan personalitas yang dibagi menajadi dua yaitu intrinsik dan ekstrinsik.

Lalu banyak pula sifat dari beliau yang patut kita teladani. Beliau dikenal sebagai orang yang ramah dan murah senyum. Dapat dilihat dari perbuatannya yaitu beliau hanya sekadar menyapa dan menanyakan kabar dengan para karyawan yang berada di keuskupan. Mgr. Sutrisnaatmaka juga rutin mengadakan pertemuan dengan para karyawan di keuskupan palangkaraya. Beliau juga dikenal sosok yang humoris dan dapat membawa suasana menjadi lebih hangat. Ketika makan bersama di meja makan keuskupan, beliau dapat melemparkan kalimat-kalimat yang dapat menghadirkann tawa sehingga membuat suasana menjadi lebih hangat. Beliau juga humoris dan sangat baik kepada keponakan-keponakannya. Saat ada pertemuan keluarga besar yang diadakan di Keuskupan, beliau mengajak keluarga besar untuk jalan-jalan ke tempat wisata di daerah palangkaraya. Tentunya hal ini menjadi suatu yang sangat berarti bagi saudara-saudaranya. Beliau juga memiliki cara unik untuk menegur orang. Beliau menegur dengan cara yang halus. Ia percaya dengan menggunakan kata-kata yang halus dapat membuat seseorang merenung dengan perilaku yang sudah dibuatnya. Dari sifat-sifat beliau tersebut, banyak sekali tentunya yang patut kita contoh karena dengan itu kita dapat berinteraksi dengan lingkungan luar dengan baik dan mendapatkan timbal balik yang baik pula.

Lalu ketika Presiden Jokowi ingin memindahkan Ibukota Indonesia ke Palangkaraya, Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka menanggapi dengan positif dan bersedia membantu. Jika kantor Konferensi Waligereja Indonesia turut pindah dari Jakarta ke Palangkaraya pun beliau bersedia untuk memberi tanah keuskupan Palangkaraya seluas 60 hektar lahan di kota untuk kantor dan wisma para Uskup.

Pemikiran- Pemikiran Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka

Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka memiliki moto Ut permanerent in gratia Dei yang berarti Tetap Tinggal dalam Kasih Karunia Allah. Sangat jelas beliau menunjukkan keinginan untuk melayani sesama dan memuliakan tuhan dengan tinggal dalam kasih Karunia Allah. Dengan moto itu pula beliau mampu mengeluarkan buku yang berjudul segi-segi ekaristi, misi dan inkulturasi, segi-segi kaum muda dan kepemimpinan gereja, dan masih banyak lagi. Dalam buku segi-segi ekaristi, misi dan inkulturasi dijelaskan bahwa cinta kasih sangat diperlukan agar kita dapat merasakan dan menghayati kehadiran Tuhan ke dalam diri kita dalam melaksanakan aktivitas kita sehari-hari. Lalu dalam penanaman iman dalam keluarga juga sangat diperhatikan, di mana suatu ungkapan dapat bersifat ke dalam, yaitu ke keluarga atau dirinya sendiri dan bersifat ke luar, yaitu lebih ditujukan ke masyarakat luas. Lalu di buku segi-segi kaum muda dan kepemimpinan gereja dijelasakan mengenai perkembangan personalitas seorang Mahasiswa di bangku kuliah dan juga masyarakat, dikatakan personalitas sebagai determinant yaitu yang dibagi menjadi determinant intrinsik dan determinant ekstrinsik. Determinant intrinsik lebih menekankan personalitas mahasiswa itu sendiri, sedangkan Determinant ekstrinsik menekankan lingkungan di mana mahasiswa itu hidup, yaitu di lingkungan sosial politk, sosial kultural, sosial ekonomi di dalam negara dan di lingkungan universitas itu sendiri.

Implementasi pemikiran Beliau terhadap Permasalahan Covid-19

Secara tidak langsung, Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka pada pandemi ini mengajarkan kita untuk tetap tinggal dalam kasih karunia Allah dengan tetap mengikuti perayaan-perayaan ekaristi via live streaming karena beliau juga memimpin misa ekaristi pada hari minggu lewat channel youtube Keuskupan Palangkaraya selama pandemi ini. Dengan itu beliau tetap mampu melayani dengan cinta kasih kepada umatnya walaupun dalam kondisi seperti ini. Lalu dengan waktu kita yang lebih lama dirumah, kita harus dapat memanfaatkan untuk mengembangkan diri sebagai seorang pemimpin agar mampu menjadi penggerak dalam pembangunan gereja ini. Kita mampu memberi contoh dan menegur orang-orang yang keluar rumah tidak memakai masker.

Penutup

Setelah membaca banyak artikel dan buku mengenai beliau, kita dapat mengetahui dan meresapi latar belakang Mgr. Sutrisnaatmaka dalam hidup membiara, karya, teladan, dan pemikiran beliau menjadikan motivasi bagi kita dalam melaksanakan hidup dan melayani sesama dengan kasih Allah dan cinta kasih. Menanamkan kasih karunia Allah dalam diri kita dan cinta kasih dapat membuat kita dapat melaksanakan aktivitas dengan “terjaga” karena kita percaya Tuhan selalu menyertai kita semua.

Penulis Fransiskus Marmora Kristioadi Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Airlangga