Disiplin Siswa Berawal dari Guru yang Berdisiplin

Mahasiswa Fakultas Hukum Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Marsel Nadeak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam perbincangan di kantor masalah disiplin selalu menjadi topik hangat dan seru untuk didiskusikan. Berbagai tipe dan karakter unik murid disebutkan oleh guru dan bahkan raut wajah gemas guru tampak saat mengilustrasikan keunikan mereka.
Diskusi yang ringan seolah menjadi refleksi bagi kita sebagai guru ada apa persoalan yang mendasar sehingga tidak berulang terjadi, sehingga tidak menurunkan mood yang berdampak pada fokus pengajaran dapat maksimal.
Dalam dunia pendidikan, disiplin menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan penanaman karakter bagi guru mata pelajaran. Semua guru banyak mengharapkan muridnya datang tepat waktu sebelum guru mata pelajaran hadir ke kelas, begitu halnya pengumpulan tugas sesuai komitmen yang disepakati, dan memiliki tanggung jawab apabila pada saat pembelajaran sedang berhalangan hadir dapat menyelesaikan secara mandiri.
Namun, faktanya tak semua harapan itu sesuai kenyataan. Ada saja beberapa murid yang masih mempertahankan karakter lamanya dan ada yang susah diajak diskusi, belum memiliki kesadaran atas tanggung jawabnya, dan lebih menggemaskan murid seolah tak menyadari kesalahan atas ketertinggalan tugas yang saat dirinya belum bisa hadir di kelas karena sakit atau izin.
Hal inilah yang membuat guru berefleksi untuk menemukan cara baru agar tidak melukai hati dengan menghindari kekerasaan tapi dikemas dengan cara yang cantik sebagai pengingat murid di kala lupa.
Belajar dari sebuah ungkapan bijak yang mengatakan "Guru digugu lan ditiru". Ungkapan tersebut tak sekadar ungkapan belaka namun memiliki nilai yang mendalam sebagai prinsip mendasar dari segala ucapan dan perilaku guru yang menjadi panutan yang dapat diikuti oleh murid.
Ungkapan tersebut juga sejalan dengan ungkapan Albert Bandura dalam teori sosial learning-nya yang menguraikan tentang anak belajar melalui peniruan atau modeling. Yang maksudnya segala tindakan yang ditunjukkan oleh seorang guru akan direkam atau diingat dan bahkan dicontoh oleh muridnya.
Kedua pernyataan tersebut timbullah sebuah pertanyaan yang sering luput dan menjadi renungan bersama yakni apakah para guru sudah menanamkan disiplin pada diri sendiri sebelum menuntutnya dari murid?
Pertanyaan tersebut sebagai sarana mawas diri untuk menengok kembali perilaku diri dalam kehidupan sehari-hari dan menyadari bahwa ketertiban di sekolah tidak akan lahir dari peraturan yang kaku tapi dari keteladanan yang konsisten. Karena sejatinya disiplin bukanlah hasil dari paksaan tapi buah dari contoh yang hidup dan menginspirasi. Jadi, jika guru ingin menciptakan budaya tertib dan disiplin di sekolah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menjadi cermin perilaku itu sendiri.
Sebuah aturan memang mudah dibuat namun tidak semudah diaplikasikan. Semua komponen sekolah mesti mendukung tanpa terkecuali. Hal itu menepis sebuah asumsi bahwa peraturan tersebut terkhusus hanya untuk murid tidak pada guru. Asumsi itu setidaknya patut diluruskan. Sebab, budaya disiplin di sekolah tidak lahir begitu saja tapi dibangun dengan kesadaran melalui bentuk keteladanan, pembiasaan yang konsisten.
Disinilah guru menjadi sosok kunci yang menentukan arah dan warna budaya tersebut sehingga murid belajar dari yang dilihat setiap hari di sekolah bagaimana cara bersikap, cara berbicara, cara menghargai, menghormati, dan cara menyikapi sebuah aturan. Hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab tak hanya sebagai penyampai materi pelajaran tapi sebagai pembentuk pembiasaan/budaya dan karakter.
Jika guru ingin mengetahui kepribadian, cara mengajar, atau karakter disiplin, kita bisa meminta umpan balik atau semacam penilaian sebanyak 3 kali dalam 6 bulan untuk mendeteksi kepuasan terhadap pelayanan prima kita sebagai guru. Memang awalnya tak mudah karena merupakan sebuah terobosan begitu halnya dengan saya pribadi. Setiap penilaian yang diungkapkan dengan jujur meluluhkan ego diri seakan mematahkan persepsi bahwa telah berbuat sesuai prosedur. Tapi nyatanya, tidak seindah yang diterima murid.
Air mata mengalir dan tak mampu terbendung. Setiap tulisan penilaian adalah perwakilan hati yang mesti kita penuhi sebisanya. Sejak itu, saya banyak belajar hal dan meminta masukan setiap bulan baik kepribadian, pengajaran dan lainnya. Sehingga murid tetap menunggu kehadiran saya meskipun sebelumnya guru tidak hadir di kelas. Sebab, mereka berasumsi jika melihat saya di sekolah maka di benaknya bahwa saya tak pernah tidak masuk ke kelas.
Untuk mendukung perubahan diri kita bisa mengikuti banyak pelatihan dan belajar dari orang lain. Tak ada kekerasaan yang saya lakukan. Bahkan buku psikologi menjadi teman setia di kala lagi santai untuk memantapkan ilmu bimbingan konseling begitu juga buku pengenalan diri dan pengembangan diri menjadi skala prioritas agar saya telah adaptif terhadap perubahan.
Penilaian dan masukan yang membangun semakin membuat diri lebih bijak. Pengalaman pahit dan manis memberikan pelajaran yang penuh warna. Apalagi pendekatan coaching dan segitiga restitusi menjadi pendekatan yang mendekatkan sehingga tetap memanusiakan murid yang bersalah menjadi sosok untuk terus dipacu semangatnya dalam proses belajar. Bukan sebaliknya kita berikan stigma negatif yang justru melukai. Semua ilmu itu dapat kita gali melalui refleksi murid yang diberikan.
Sebelum kita memulai pembelajaran kita bisa meminta semua murid membuat komitmen dan menjalankan tanpa terkecuali di saat itulah aturan tersebut berlaku seperti tidak menggunakan gawai saat pembelajaran manakala tidak diperlukan. Begitu halnya dengan guru. Jika ada keperluan maka meminta izin terlebih dahulu begitu halnya dengan guru. Di sinilah tempat semua orang diberikan sarana yang sama tanpa memandang dirinya yang sebenarnya.
Selain itu, aksi nyata guru seperti datang lebih awal, menyiapkan rencana pembelajaran serta materi sesuai kebutuhan, konsisten terhadap kesepakatan kelas yang telah disepakati, menepati janji, menghargai waktu belajar murid, lebih empati dengan kondisi pembelajaran, dan memberi evaluasi diri secara berkala sebagai sarana membangun budaya refleksi bersama.
Aksi nyata tersebut merupakan budaya dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, saling menghargai, dan kehadiran guru dinanti. Murid tidak lagi memiliki anggapan bahwa disiplin sebuah beban tapi sebuah kebiasaan yang tumbuh dari keteladanan yang mereka lihat setiap hari. Kita juga menunjukkan aksi nyata daripada banyak memberikan ilustrasi atau banyak nasihat.
Selain itu, saat kita mempraktikkan disiplin dapat menguatkan kepercayaan dan wibawa moral sebagai guru. Murid tidak hanya patuh di depan tapi juga di belakang sehingga murid akan tumbuh motivasi intrinsik sebab lahir dari konsistensi yang dilakukan oleh guru.
Jika kita menuntut murid tertib sementara gurunya hanya memerintah saja ibarat guru menanam benih di tanah yang gersang. Benih tersebut tak akan tumbuh tapi sebaliknya saat guru menanam melalui keteladanan disiplin diri maka murid belajar dengan cara alami.
Meskipun bentuk keteladanan merupakan pendidikan yang yang sunyi tapi paling berdampak. Sehingga sebelum kita mengingatkan murid tidak tertib lalu tanyalah pada diri kita "Sudahkah saya berdisiplin hari ini?"
Sebab, sejatinya perubahan besar di sekolah dimulai dari hal kecil yakni dari guru yang memilih untuk menata diri terlebih dulu sebelum menata muridnya.
