Konten dari Pengguna

Cuma Mau Scrolling 5 Menit, Kok Tiba-Tiba Sudah Satu Jam?

marsia

marsia

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari marsia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi dibuat dengan menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi dibuat dengan menggunakan AI

Pernah nggak, awalnya cuma mau buka TikTok lima menit, tapi tiba-tiba sudah satu jam?

Awalnya hanya ingin melihat satu video. Setelah selesai, muncul video berikutnya yang ternyata menarik. Scroll lagi. Ada video lain yang membuat penasaran, lebih lucu atau informatif. Tanpa terasa, waktu sudah berjalan cukup lama.

Kalau pernah mengalami hal seperti ini, kamu tidak sendirian.

Media Sosial saat ini sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang. TikTok, Instagram, YouTube, dan platform lainnya bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan. Kita juga menggunakannya untuk mencari informasi, mengikuti tren, bahkan mengetahui berita yang sedang terjadi.

DataReportal dalam laporan Digital 2025 mencatat bahwa rata-rata pengguna TikTok di Indonesia menghabiskan hampir 45 jam menggunakan TikTok selama November 2024. Jika dibagi secara sederhana dalam satu bulan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 1,5 jam setiap hari. Namun, angka tersebut hanya gambaran kasar karena durasi penggunaan setiap orang tidak selalu sama setiap harinya.

Sumber: DataReportal / data.ai, November 2024

Angka tersebut membuat kalimat “cuma lima menit” terdengar cukup menarik. Lima menit bisa berubah menjadi puluhan menit, bahkan lebih dari satu jam, karena satu video terus membawa kita ke video berikutnya.

Scrolling bukan hanya untuk hiburan

Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Waktu yang kita habiskan di media sosial tidak semuanya digunakan untuk menonton video hiburan.

Media sosial juga semakin sering menjadi tempat orang mendapatkan informasi. Laporan Reuters Institute Digital News Report 2025 menunjukkan bahwa 57% responden di Indonesia mendapatkan berita melalui media sosial. TikTok sendiri digunakan sebagai sumber berita oleh 34% responden, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Jadi, seseorang bisa saja membuka TikTok dengan niat mencari hiburan, tetapi beberapa menit kemudian sudah menonton video tentang berita terbaru, isu sosial, kesehatan, pendidikan, atau berbagai peristiwa yang sedang ramai dibicarakan.

Kita tidak hanya menghabiskan waktu untuk melihat konten. Kita juga sedang menerima berbagai informasi secara terus-menerus.

Kenapa Kita Betah Scrolling di Media Sosial?

Salah satu alasannya adalah sistem rekomendasi yang ada di balik layar.

Ketika kita menonton, menyukai, membagikan, atau menghabiskan waktu lebih lama pada suatu video, aktivitas tersebut dapat menjadi salah satu sinyal bagi platform untuk memahami apa yang kita sukai.

Misalnya, setelah beberapa kali menonton video tentang review suatu produk, kita mungkin mulai menemukan lebih banyak video produk tersebut selanjutnya. Kalau sering menonton konten traveling, rekomendasi kita bisa dipenuhi tempat wisata. Begitu pula dengan konten olahraga, makanan, hiburan, berita, dan berbagai topik lainnya.

Akhirnya, kita seperti memiliki “ruang informasi” sendiri.

Apa yang muncul di layar kita belum tentu sama dengan apa yang muncul di layar teman kita.

Hal ini memang membuat pengalaman menggunakan media sosial terasa lebih personal. Kita lebih mudah menemukan sesuatu yang sesuai dengan minat. Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan.

Ketika terus-menerus mendapatkan konten yang sesuai dengan apa yang kita sukai, kita bisa semakin jarang melihat sudut pandang atau informasi yang berbeda.

Viral Tidak Selalu Berarti Benar

Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Kita mungkin pernah melihat sebuah potongan video yang tiba-tiba ramai dibicarakan. Ribuan orang memberikan komentar, banyak akun mengunggah ulang, bahkan muncul berbagai versi cerita.

Karena melihatnya berkali-kali, kita kemudian merasa bahwa informasi tersebut pasti benar.

Padahal, sering melihat sebuah informasi tidak sama dengan memverifikasi informasi tersebut.

Video bisa saja hanya menunjukkan sebagian kejadian. Judul bisa dibuat lebih dramatis daripada isi sebenarnya. Sebuah pernyataan bisa dipotong dari konteksnya. Bahkan, sebuah konten dapat dibuat hanya karena pembuatnya ingin mendapatkan perhatian dan meningkatkan jumlah penonton.

Di sinilah literasi media menjadi penting.

Kita tidak harus berhenti menggunakan media sosial. Justru media sosial bisa menjadi tempat yang sangat bermanfaat untuk belajar dan mendapatkan informasi. Namun, kita perlu membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum langsung percaya atau membagikan sebuah konten.

"Siapa yang membuatnya?"

"Dari mana sumber informasinya?"

"Apakah ada sumber lain yang membahas hal yang sama?"

"Apakah video tersebut menunjukkan kejadian secara utuh atau hanya potongan?"

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu bisa membantu kita menjadi pengguna media sosial yang lebih kritis.

Jadi, Kita yang Memilih Konten atau Konten yang Memilih Kita?

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan tentang kebiasaan scrolling bukan sekadar “kenapa kita betah bermain media sosial?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah menarik:

"Apakah kita benar-benar memilih apa yang ingin kita lihat, atau perlahan-lahan kita dibentuk oleh apa yang terus muncul di layar kita?"

Media sosial memberikan kita kebebasan untuk memilih konten, tetapi di saat yang sama algoritma juga ikut menentukan apa yang direkomendasikan kepada kita.

Jadi, ketika suatu hari kita membuka TikTok dengan niat “cuma lima menit” lalu tiba-tiba sudah satu jam, mungkin tidak ada salahnya untuk berhenti sebentar.

Bukan berarti media sosial adalah sesuatu yang buruk. Media sosial tetap bisa menjadi tempat untuk belajar, mencari informasi, mendapatkan hiburan, dan terhubung dengan orang lain. Namun, di tengah banyaknya informasi yang datang setiap hari, kita perlu memastikan bahwa kita bukan hanya menjadi pengguna yang terus scrolling, tetapi juga pengguna yang mampu memilih, memahami, dan mempertanyakan informasi yang kita konsumsi.

Karena pada akhirnya, yang penting bukan hanya berapa lama kita scrolling, tetapi apa yang kita bawa setelah selesai scrolling.