Konten dari Pengguna

Viral Bukan Berarti Laris Selamanya: Rahasia Memprediksi Permintaan Konsumen

ilustrasi buatan AI
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi buatan AI

Saat ini, banyak produk menjadi viral karena media sosial, terutama TikTok. Contohnya, skincare, parfum, dan makanan yang tiba-tiba ramai dibeli setelah muncul di berbagai video. Namun, produk yang sedang viral belum tentu akan terus laris. Ketika muncul produk baru yang lebih menarik, pembeli bisa saja beralih ke produk lain.

Hal ini menjadi tantangan bagi penjual. Jika membeli stok terlalu banyak, barang bisa menumpuk ketika peminatnya mulai berkurang. Sebaliknya, jika stok terlalu sedikit, penjual bisa kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan. Karena itu, penjual perlu memperkirakan permintaan konsumen sebelum menentukan jumlah barang yang akan dijual.

Mengapa Produk Viral Bisa Sepi Pembeli?

Salah satu penyebabnya adalah tren yang cepat berubah. Banyak orang tertarik membeli produk karena melihat ulasan atau mengikuti tren yang sedang ramai. Ada juga yang membeli karena takut ketinggalan tren, atau dikenal dengan istilah fear of missing out (FOMO).

Namun, banyaknya orang yang melihat dan membicarakan suatu produk tidak selalu berarti mereka akan membelinya. Penjual perlu melihat jumlah penjualan yang sebenarnya untuk mengetahui apakah produk tersebut masih diminati atau tidak. Hal ini penting agar keputusan bisnis tidak hanya didasarkan pada popularitas di media sosial.

Bagaimana Cara Memperkirakan Permintaan?

Estimasi dan peramalan permintaan dapat membantu penjual memperkirakan jumlah barang yang dibutuhkan konsumen. Caranya bisa dimulai dengan melihat data penjualan sebelumnya, mengamati tren yang sedang berkembang, dan memperhatikan perubahan minat pembeli.

Salah satu metode yang bisa digunakan adalah Moving Average, yaitu menghitung rata-rata penjualan dari beberapa periode sebelumnya. Ada juga metode Exponential Smoothing, yang lebih memperhatikan data terbaru dalam membuat perkiraan. Kedua metode ini dapat membantu penjual memperkirakan penjualan berikutnya, meskipun hasilnya tidak selalu tepat.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Misalnya, sebuah toko online biasanya menjual 20 botol parfum setiap minggu. Setelah parfum tersebut viral di TikTok, penjualannya meningkat menjadi 80 botol dalam seminggu. Pemilik toko mungkin ingin menambah banyak stok karena menganggap produk tersebut akan terus laris.

Namun, keputusan itu perlu dipertimbangkan terlebih dahulu. Pemilik toko sebaiknya melihat penjualan pada minggu berikutnya. Jika penjualan tetap tinggi, stok bisa ditambah. Akan tetapi, jika penjualan mulai menurun, jumlah stok perlu disesuaikan agar barang tidak menumpuk. Angka dalam contoh ini hanya ilustrasi.

Kesimpulan

Produk yang viral memang bisa meningkatkan penjualan, tetapi belum tentu diminati dalam waktu lama. Perubahan tren dan selera konsumen membuat penjual harus lebih berhati-hati dalam menentukan jumlah stok.

Dengan melihat data penjualan, mengikuti perkembangan tren, dan menggunakan metode peramalan yang sesuai, penjual dapat memperkirakan permintaan dengan lebih baik. Jadi, menjalankan bisnis bukan hanya soal mengikuti produk yang sedang viral, tetapi juga memahami apakah produk tersebut masih dibutuhkan oleh konsumen.

referensi

1. Zhang, W., Zhang, W., & Daim, T. U. (2023). Investigating consumer purchase intention in online social media marketing: A case study of TikTok. Technology in Society, 74, 102289. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0160791X23000945?via%3Dihub

2. Snyder, R. D., Koehler, A. B., & Ord, J. K. (2002). Forecasting for inventory control with exponential smoothing. International Journal of Forecasting, 18(1), 5–18. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0169207001001091?via%3Dihub