Konten dari Pengguna

Lelah Jadi Perempuan Kuat? Tidak Apa-apa Kamu Juga Butuh Istirahat

Marsha Zalfaa Rizq

Marsha Zalfaa Rizq

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Ilmu Hadis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Marsha Zalfaa Rizq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi perempuan muslimah kuat, foto : shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi perempuan muslimah kuat, foto : shutterstock.com

Dalam Islam, menjadi muslimah itu jalan penuh perjuangan. Harus menjaga aurat, kehormatan, bahkan perasaan. Tapi Allah nggak pernah menyia-nyiakan pengorbanan perempuan.

Ada hari-hari di mana kita terlihat tegar di luar, padahal di dalamnya kita nyaris runtuh. Ada malam-malam saat kita terlihat tertawa di luar, tapi habis-habisan menahan tangis saat sendirian. Kita perempuan, dan kita sering dianggap harus selalu kuat. Harus tahan. Harus bisa. Harus baik-baik saja. Tapi, apakah boleh aku jujur hari ini? Aku lelah.

Tak Semua Perempuan Ingin Jadi Tangguh, Tapi Terpaksa

Banyak dari kita yang jadi kuat bukan karena ingin, tapi karena keadaan memaksa. Kita belajar menahan air mata karena tidak semua orang tahu cara menenangkan. Kita belajar menyimpan luka karena tidak semua luka bisa diceritakan.

Dan sayangnya, ketika kita terlihat "tahan banting", orang-orang lupa bahwa kita juga butuh disayangi. Butuh dipeluk, tanpa diminta. Butuh dikuatkan, bukan cuma disuruh kuat.

Pelan-Pelan Saja, Tak Harus Sempurna

Kamu tidak harus selalu jadi versi terbaik dari dirimu setiap hari. Ada hari-hari di mana kamu boleh rebahan. Boleh tidak produktif. Boleh menangis. Boleh bingung. Boleh tidak tahu arah.

Tidak semua perjalanan harus cepat. Tidak semua luka harus disembuhkan sekarang juga. Kamu boleh pelan-pelan.

Allah tidak pernah memintamu sempurna. Dia hanya ingin kamu tetap kembali, walau pelan.

Sisi Spiritual: Allah Tahu Beratmu

Allah tidak menciptakanmu dengan hati yang tabah untuk disiksa oleh keadaan. Tapi justru karena Dia tahu kamu mampu melewati ini semua, dengan pertolongan-Nya.

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْكٰفِرِيْ... ۝٢٨٦

“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Jadi ketika kamu merasa tak sanggup, katakan perlahan dalam hati: “Tapi Allah bilang aku sanggup... dan aku percaya sama itu.”

Menangis Bukan Kelemahan

Perempuan yang menangis bukan berarti gagal menjadi tangguh. Justru kadang, menangis adalah bentuk keberanian—karena kita berani mengakui perasaan sendiri.

Rasulullah ﷺ sendiri pernah menangis. Beliau manusia paling mulia, tapi juga manusia paling lembut. Jadi, tak apa jika kamu sedang rapuh hari ini. Itu tidak mengurangi kemuliaanmu sedikit pun.

Kamu Gak Harus Kuat Setiap Saat, Tapi Kamu Pantas Disayangi Setiap Waktu

Jangan biarkan standar orang lain menentukan kapan kamu boleh merasa. Kamu tetap berharga, bahkan saat kamu lemah. Kamu tetap pantas dicintai, bahkan saat kamu tidak sedang tersenyum.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa lelah... istirahatlah. Peluk diri sendiri. Dan bisikkan pelan: “Aku masih layak hidup bahagia, meski sedang tidak kuat.”

Dan satu hal lagi...

Terima kasih ya, sudah bertahan sejauh ini. Aku bangga sama kamu. Allah pun lebih bangga.