Pandangan Hadis dan Al-Qur’an tentang Keluarga Harmonis

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Ilmu Hadis
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Marsha Zalfaa Rizq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Apa arti keluarga dalam pandangan Islam?

Bukan sekadar tempat tinggal bersama, keluarga adalah lembaga pertama dalam membangun akhlak, iman, dan kasih sayang. Namun sayangnya, hari ini banyak keluarga yang terasa hampa, jauh dari kehangatan dan nilai-nilai spiritual.
Masalah yang sering muncul di tengah masyarakat modern adalah lunturnya peran keluarga sebagai pusat pendidikan iman dan etika. Banyak anggota keluarga saling sibuk dengan urusan masing-masing, hingga lupa menyapa, apalagi mendampingi secara emosional maupun spiritual.
Penyebabnya beragam:
Gaya hidup individualis dan serba cepat
Kurangnya pengetahuan agama dan nilai Qur'ani
Minimnya komunikasi yang sehat dan empati antaranggota keluarga
Padahal, dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah mengingatkan dengan sangat jelas:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengajarkan bahwa peran utama dalam keluarga bukan sekadar mencari nafkah atau mendidik akademik, tapi juga menjaga spiritualitas dan keselamatan akhirat anggota keluarganya.
Nabi Muhammad SAW pun menegaskan hal serupa dalam hadis:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Maka, apa solusi untuk mewujudkan keluarga yang harmonis dan diridhai langit?
Pertama, hadirkan nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari. Tak harus rumit—cukup mulai dari shalat berjamaah di rumah, berbagi cerita keagamaan setelah makan malam, atau saling mengingatkan dalam hal kebaikan.
Kedua, bangun komunikasi yang terbuka dan penuh empati. Dengarkan keluh kesah anak-anak, ajak pasangan diskusi tanpa menghakimi, dan biasakan saling mendoakan.
Ketiga, ciptakan momen ibadah bersama. Misalnya, mengaji bareng di malam Jumat, berdzikir bersama, atau sekadar duduk tenang membaca Al-Qur’an sambil saling menyimak.
Keluarga yang harmonis tidak selalu berarti tanpa konflik. Tapi keluarga yang Qur’ani dan sesuai sunnah adalah keluarga yang tahu bagaimana menyikapi masalah dengan akhlak, menyelesaikannya dengan kasih sayang, dan mengembalikannya pada Allah.
Karena di dalam rumah yang diisi iman, cinta menjadi ibadah—dan setiap tawa menjadi pahala.
