Dari Film Transformers One, Kita Belajar: Kejahatan Bisa Lahir dari Kekecewaan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Tertarik dengan Musik, Buku, dan Feminisme
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Christophorus Gracia Marshall Roosevelt tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Transformers One menjadi angin segar bagi para penggemar Transformers yang mulai jenuh dengan gaya ledakan tanpa henti. Bagaimana tidak, hampir semua film Transformers sebelumnya disutradarai oleh Michael Bay dengan gaya khas “Bayhem” yang ia bawa. Istilah Bayhem berasal dari nama Michael Bay, sutradara di balik lima film pertama Transformers (2007–2017), serta kata “mayhem” yang berarti kekacauan. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan gaya sinematik Michael Bay yang identik dengan aksi berlebihan, tempo cepat, dan ledakan besar-besaran.
Sebelum menjadi musuh abadi, Optimus Prime dan Megatron sebenarnya pernah bersahabat. Mereka berjuang bersama demi keadilan di Cybertron, hingga kekecewaan membuat Megatron memilih jalan berbeda. Jalan yang akhirnya mengubahnya menjadi musuh paling ikonik dalam semesta Transformers.
Berbeda seperti film-film sebelumnya yang menyorot perang besar antara Autobots dan Decepticons, film Transformers One membawa penonton kembali ke masa awal bertemunya Orion Pax dan D-16, yang saat ini kita kenal sebagai Optimus Prime dan Megatron.
Perjalanan Awal Orion Pax dan D-16
Di awal film, Orion Pax dan D-16 bekerja dalam satu tempat yang sama yaitu sebagai penambang energon. Di bawah kepemimpinan Sentinel Prime, penambang mendapatkan tekanan kerja yang luar biasa. Meskipun begitu, Sentinel Prime tetap dihormati dan menjadi inspirasi bagi para robot. Singkat cerita, karena sifat Orion Pax yang suka keluar dari aturan, membawanya, D-16, dan dua teman penambang lainnya mengetahui bahwa Sentinel Prime telah berkhianat. Sentinel yang selama ini menjadi panutan para robot menjual hasil energon yang dikumpulkan para penambang ke Quintessa, musuh para Cybertronian dan menjadi antagonis utama dalam universe Transformers. Mengetahui hal tersebut mereka semua merasa dikhianati. Seluruh kerja keras mereka selama ini hanya untuk Quintessa, musuh terbesar Cybertronian. Dari sinilah sifat jahat dari D-16 muncul.
Dua Jalan yang Berbeda
Dengan rasa kecewa yang besar, D-16 bersumpah bahwa ia tidak akan pernah mau untuk tunduk kepada Sentinel Prime maupun para Prime setelahnya dan akan menggunakan kekerasan untuk menjatuhkan kepemimpinan Prime. Temannya, Orion Pax, memiliki kepribadian yang berbeda. Meskipun kecewa, Orion tidak suka menggunakan kekerasan. Keduanya kemudian berselisih karena perbedaan tersebut. Dalam pertarungan hebat antara D-16 dan Sentinel Prime, Orion Pax berusaha menghalangi D-16 yang mencoba menghancurkan Sentinel Prime. Usaha tersebut membuatnya jatuh ke dasar planet Cybertron dan D-16 berhasil melenyapkan Sentinel di hadapan semua robot.
Kelahiran Megatron: Sang Antagonis Ikonik
Alih-alih lenyap, tidak disangka Orion Pax berhasil mendapatkan Matrix Of Leadership yang membuatnya menjadi Prime baru. D-16 yang sebelumnya bersumpah untuk tidak tunduk kepada Prime merasa kecewa dan dikhianati untuk kedua kalinya, tapi kali ini oleh temannya sendiri. D-16 kemudian diasingkan dari Cybertron. Sejak saat itu D-16 mengubah namanya menjadi Megatron, sosok antagonis ikonik dalam universe Transformers yang kita kenal saat ini.
Kisah Megatron dalam Transformers One menunjukkan bahwa kejahatan tidak selalu muncul dari keinginan untuk berbuat jahat, tapi bisa lahir dari rasa kecewa yang mendalam. D-16 awalnya hanyalah seorang penambang yang bekerja keras dan setia pada pemimpinnya. Namun ketika kepercayaannya dikhianati, ia berubah. Rasa sakit dan amarah yang ia rasakan membuatnya tidak lagi percaya pada siapa pun.
Megatron menjadi simbol dari bagaimana kekecewaan dapat mengubah seseorang. Ia tidak lagi melihat dunia dengan harapan, melainkan dengan kebencian. Dari sinilah terlihat bahwa terkadang, kejahatan lahir bukan karena pilihan, tapi karena luka yang tidak pernah sembuh.
