Dari Sabang sampai Merauke, Tapi Tak Sama Rasa

Informatics engineering student of Santo Thomas Catholic University
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Marsindra Yanti Lase tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia adalah negeri yang kaya akan keindahan alam, budaya, dan sumber daya. Namun, di balik kekayaan itu, tersembunyi dua wajah yang saling bertolak belakang: kota yang gemerlap dan pelosok yang sunyi. Di satu sisi, kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung terus berkembang dengan gedung pencakar langit, jalan tol, dan pusat perbelanjaan megah. Di sisi lain, desa-desa di pelosok nusantara masih berjuang mendapatkan akses jalan, listrik, dan layanan kesehatan yang layak.
Kesenjangan pembangunan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga tentang keadilan sosial dan ekonomi. Mengapa seorang anak di Jakarta bisa mengakses internet cepat dan pendidikan berkualitas, sementara anak seusianya di pedalaman harus berjalan kaki berjam-jam hanya untuk sekolah dengan fasilitas seadanya? Mengapa pertumbuhan ekonomi selalu diukur dari indikator-indikator kota, sementara potensi besar di daerah nyaris tak tersentuh?
Pembangunan yang hanya berpusat di kota-kota besar menciptakan ketimpangan yang lama-lama bisa menjadi bom waktu. Jika pemerintah sungguh ingin mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaya saing, maka pembangunan harus menyentuh hingga ke pelosok. Tak cukup membangun jalan tol antarpulau jika di dalam desa pun jalan tanah belum diaspal. Tak cukup mendirikan gedung pencakar langit jika rumah-rumah di desa masih berlantaikan tanah.
Pemerataan pembangunan bukanlah pilihan, tetapi keharusan. Sebab Indonesia bukan hanya kota besar, tapi juga desa-desa yang selama ini menyumbang banyak, namun menerima sedikit. Wajah Indonesia seharusnya tidak terbelah, tapi bersatu dalam keadilan dan kesetaraan.
"Pembangunan sejati adalah ketika setiap sudut negeri ikut tumbuh, bukan hanya pusatnya."
