Lusuh Tak Berarti Mati: Potret Buku Bekas di Tengah Dunia Digital

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prodi Jurnalistik
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari MARSYA NABILA UTAMI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta Pusat, Pasar Senin - Di tengah maraknya era digital, buku bekas tetap bertahan sebagai primadona bagi sejumlah pecinta literasi di Jakarta. (Jumat, 27/06/2025)
Buku-buku bekas yang dijual di Pasar Senen di Jakarta masih diminati oleh pembaca setia meskipun era digital semakin mendominasi dunia literasi. Nilai pengetahuan dan sejarah dapat ditemukan di balik tampilan masa depan.
Deretan kios di salah satu sudut Pasar Senen menjual buku-buku bekas dari berbagai genre dan tahun terbit. Kaki melangkah masuk, bau khas kertas lama menyeruak. Pasarnya sederhana, tetapi bagi mereka yang menyukai buku, tempat ini adalah surga tersembunyi.
Menurut pedagang buku bekas Zulbasri (62), "Sudah 30 tahun saya jualan buku di sini. Pembeli masih ada, biasanya banyak dicari oleh anak-anak sampai mahasiswa." katanya, Jumat (27/06)
Novel klasik, buku pelajaran, buku agama, dan arsip langka adalah semua jenis buku yang dijual. Harganya juga beragam, berkisar mulai dari Rp10.000 hingga ratusan ribu, tergantung pada kualitas dan kelangkaan buku.
"Menurut saya, Pasar Buku Bekas seperti di Pasar Senin itu masih relevan banget di era digital ini, karena harganya jauh lebih murah dibanding buku baru, cocok banget buat baca buku tapi budgetnya terbatas, terus juga bisa nemu buku lama dan buku langka." ujar Amanda, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Prodi Geografi semester 2.
Banyak pembeli mengatakan bahwa mereka lebih suka buku cetak karena lebih mudah dibaca dan memberi pengalaman pribadi, meskipun platform digital menjadi lebih populer. Beberapa dari mereka datang bukan hanya untuk membeli barang, tetapi juga untuk berbicara dan mendapatkan inspirasi.
Mungkin tidak ada lagi sampul hitam pada buku bekas. Nilai-nilainya tetap ada. Ia masih berfungsi sebagai alat pendidikan, pengingat, dan pengingat bahwa tidak semua hal harus digital.
