Konten dari Pengguna

Kepercayaan Goyah, Nasabah Serentak Tarik Uang: Apa yang Terjadi pada Bank?

Marsyanda

Marsyanda

Undergraduate Economics Education at University of Jakarta

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Marsyanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menarik uang di ATM: Gambar dibuat menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menarik uang di ATM: Gambar dibuat menggunakan AI

Menarik uang di bank merupakan hal yang biasa. Nasabah menyimpan uang untuk digunakan ketika membutuhkannya, sehingga mengambilnya bukanlah suatu hal yang dipersoalkan. Namun, pernahkah terpikir apa yang akan terjadi jika dalam waktu hampir bersamaan, banyak nasabah memutuskan untuk menarik dananya?

Belakangan ini ramai seruan menarik atau memindahkan dana dari salah satu bank di media sosial. Bagi sebagian orang hal tersebut hanya dianggap sebagai antisipasi. Namun, jika keputusan yang sama dilakukan serentak oleh sebagian besar nasabah dalam waktu bersamaan, lonjakan penarikan dana inilah yang disebut bank run.

Likuiditas: Perputaran Dana dan Ketersediaan Uang Tunai

Bank tidak menyimpan seluruh dana nasabah dalam bentuk tunai. Dana yang dihimpun bank dikelola dan disalurkan kembali, salah satunya melalui pemberian kredit. Artinya, uang yang disimpan nasabah tidak terhenti di bank, tetapi ikut berputar dalam kegiatan ekonomi.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Loan to Deposit Ratio (LDR) pada Juli 2026 sebesar 88,38%. Di tengah tingginya penyaluran dana tersebut, kondisi likuiditas perbankan masih dalam batas memadai. Pada periode yang sama, OJK mencatat Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 187,50% jauh di atas batas minimum 100%. Sementara itu, rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) berada di level 102,45% dan Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 23,10%.

Artinya, perbankan masih memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan penarikan dana. Namun, kondisi tersebut berlaku selama penarikan dana masih dalam batas normal. Jika banyak nasabah menarik dana dalam waktu bersamaan, kebutuhan uang tunai dapat meningkat secara drastis dan menekan likuiditas bank.

Ketika Penarikan Dana Berubah menjadi Bank Run

Persoalan muncul saat banyak nasabah menarik dana dalam jumlah besar dalam waktu bersamaan. Hal ini biasanya dipicu oleh kepanikan dan hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan bank memenuhi kewajibannya. Semakin banyak nasabah yang ingin menarik dananya, semakin besar kebutuhan uang tunai yang harus disediakan bank dalam waktu singkat. Kondisi kepanikan tersebut mendorong penarikan secara serentak yang disebut bank run.

Bank mungkin memiliki aset, tetapi tidak seluruhnya dapat dicairkan dengan cepat. Jika tekanan penarikan terus meningkat dan tidak dapat dipenuhi, likuiditas bank semakin tertekan dan dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi kegagalan bank.

Pentingnya Kepercayaan Nasabah

Kepercayaan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas perbankan. Nasabah menyimpan uang karena percaya bahwa dana tersebut dapat ditarik ketika dibutuhkan. Sebaliknya, ketika kepercayaan mulai hilang, perilaku nasabah dapat berubah karena didorong rasa khawatir, sehingga menarik dana lebih cepat.

Itulah sebabnya kepercayaan nasabah menjadi hal krusial, saat muncul informasi atau seruan untuk memindahkan dana, nasabah dapat merespons berdasarkan informasi yang diterima. Masalahnya, informasi belum tentu menggambarkan suatu kondisi bank secara utuh, tetapi sudah memengaruhi arus keluar masuknya dana.

Simpanan Nasabah Mendapat Perlindungan

Untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, Indonesia memiliki Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). LPS menjamin simpanan nasabah pada bank yang memenuhi ketentuan penjaminan, dengan batas maksimal jaminan hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Artinya, ketika suatu bank mengalami kegagalan, nasabah yang memenuhi persyaratan 3T (Tercatat, Tingkat bunga wajar, Tidak melakukan tindakan merugikan bank) tetap memiliki perlindungan atas simpanannya sesuai ketentuan yang berlaku.

Penutup

Pada akhirnya, stabilitas perbankan tidak hanya bergantung pada seberapa besar dana yang dimiliki bank, tetapi juga kemampuan menyediakan dana ketika nasabah membutuhkannya. Ketika kepanikan membuat banyak nasabah menarik dana secara bersamaan, perputaran dana yang sebelumnya berjalan normal dapat berubah menjadi tekanan likuiditas. Menjaga kepercayaan menjadi penting dalam menjaga stabilitas perbankan. Informasi yang beredar perlu disikapi secara bijak, sebab dalam perbankan kepanikan berjalan lebih cepat daripada masalah sebenarnya, dan ketika kepercayaan masyarakat hilang, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh satu bank, tetapi dapat merambat ke perekonomian.