Konten dari Pengguna

Sabun Cuci Piring Ekonomis: Inovasi Pemanfaatan Limbah Kulit Melon

Ibu-ibu PKK Desa Karangtalun memamerkan produk sabun cuci piring saat kegiatan pelatihan KKN PPM UNISRI, (Senin 27/7/2026). Foto: Nabitha Marsyha
zoom-in-whitePerbesar
Ibu-ibu PKK Desa Karangtalun memamerkan produk sabun cuci piring saat kegiatan pelatihan KKN PPM UNISRI, (Senin 27/7/2026). Foto: Nabitha Marsyha

TANON — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, menggelar program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Inovasi Pemanfaatan Limbah Kulit Melon Menjadi Sabun Cuci Piring Alami dan Ekonomis” di Desa Karangtalun, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Senin (27/7/2026). Kegiatan ini digagas untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah hasil pertanian lokal agar memiliki nilai guna serta mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan (green economy).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh kelompok ibu-ibu Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Karangtalun. Dalam pemaparannya, Nabitha Marsyha, mahasiswa Universitas Slamet Riyadi Surakarta, menjelaskan bahwa limbah kulit melon dari hasil panen warga selama ini cenderung dibuang begitu saja hingga menumpuk. Padahal, kulit melon mengandung bahan alami Saponin yang berpotensi menjadi produk pembersih rumah tangga yang ekonomis dan bernilai guna.

Guna memberikan pemahaman yang terintegrasi, edukasi tidak hanya berfokus pada ranah teoretis melainkan dilanjutkan dengan peragaan dan praktik pengolahan secara langsung. Para peserta diajak mempelajari tahapan pemrosesan sabun cuci piring yang tepat, mulai dari ekstraksi sari kulit melon, pelarutan pasta Texapon dan garam, pencampuran bahan penunjang busa (Ampitol dan Camperlan), penambahan pengawet antiseptik (Kathon CG), hingga proses pengemasan dalam botol sampel.

Penjelasan proses pembuatan sabun dari limbah kulit melon kepada ibu-ibu PKK Desa Karangtalun, (Senin/27/7/2026). Foto: Nabitha Marsyha

Dalam sesi pendampingan, Nabitha membagikan sejumlah poin penting terkait pembuatan sabun cuci piring ramah lingkungan berbahan limbah lokal:

1. Pemanfaatan Limbah Organik (Zero Waste): Mengolah limbah kulit melon menjadi produk pembersih rumah tangga guna mengurangi akumulasi sampah organik di lingkungan desa.

2. Teknik Pencampuran yang Tepat: Memahami urutan pelarutan pasta Texapon dengan garam dapur hingga tebal, serta penambahan air secara bertahap agar menghasilkan tekstur sabun cair yang kental pas dan homogen.

3. Penggunaan Pengawet Antiseptik Alami: Menambahkan Kathon CG dengan dosis yang pas untuk menjaga sari alami kulit melon agar tetap stabil, tidak membusuk, dan memiliki daya simpan yang lama.

4. Efisiensi Pengeluaran Rumah Tangga: Menghadirkan alternatif solusi pembuatan sabun mandiri skala rumah tangga guna menekan biaya pengeluaran belanja bulanan warga.

Meskipun dalam pelaksanaannya memerlukan ketelitian ekstra pada tahap pencampuran bahan kimia pendukung dan pengenceran pewarna, antusiasme peserta tetap terjaga hingga akhir acara. Suasana interaktif terbangun saat para ibu PKK berdiskusi mengenai fungsi masing-masing bahan, takaran formulasi resep, hingga proses pendiaman (aging) selama 12–24 jam agar sabun berubah jernih sempurna.

Program pemberdayaan ini diakhiri dengan pembagian sampel produk sabun cuci piring Melalui edukasi aplikatif ini, masyarakat Desa Karangtalun diharapkan mampu mengoptimalkan limbah lingkungan menjadi produk berdaya guna yang berkelanjutan.