Ibnu Khaldun: Bapak Sosiologi yang Terlupakan

Mahasiswa aqidah dan filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Martashifa Suci Priyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau mendengar kata sosiologi, nama yang mungkin langsung muncul adalah Auguste Comte atau Émile Durkheim. Keduanya memang dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan sosiologi modern pada abad ke-19. Namun, jauh sebelum mereka membahas ilmu tentang masyarakat, ada seorang pemikir Muslim yang sudah lebih dulu memikirkan bagaimana sebuah masyarakat bisa terbentuk, berkembang, bahkan akhirnya mengalami keruntuhan. Ia adalah Ibnu Khaldun.
Sekitar 460 tahun sebelum Comte memperkenalkan istilah “sosiologi” pada sekitar 1838, Ibnu Khaldun sudah membahas kehidupan masyarakat melalui sebuah ilmu yang ia sebut 'ilm al-'umran. Lalu, siapa sebenarnya Ibnu Khaldun dan mengapa pemikirannya sering dikaitkan dengan sosiologi?
Tumbuh di Tengah Wabah dan Kekacauan Politik
Ibnu Khaldun lahir di Tunis pada 1332 dan meninggal pada 1406. Ia berasal dari keluarga Muslim terpandang yang sebelumnya tinggal di Andalusia, Spanyol. Ketika wilayah tersebut semakin banyak dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Kristen dalam proses Reconquista, keluarganya kemudian berpindah ke wilayah Ifriqiya, yang sekarang dikenal sebagai Tunisia.
Masa muda Ibnu Khaldun juga tidak bisa dibilang mudah. Ketika usianya sekitar 17 tahun, wabah Black Death sampai ke Tunis. Wabah tersebut menewaskan banyak orang, termasuk kedua orang tuanya dan beberapa gurunya. Di saat yang sama, kondisi politik di wilayah tersebut juga sedang tidak stabil karena perebutan kekuasaan dan konflik antarkerajaan.
Pengalaman hidup di tengah wabah dan kekacauan politik inilah yang kemudian ikut membentuk cara Ibnu Khaldun melihat masyarakat. Ia tidak hanya melihat peristiwa politik sebagai pergantian penguasa, tetapi juga mencoba memahami mengapa sebuah kekuasaan bisa bertahan dan mengapa pada akhirnya bisa runtuh.
Hidup di Istana, Penjara, dan Berbagai Kerajaan
Setelah dewasa, Ibnu Khaldun menjalani kehidupan yang cukup berliku. Selama lebih dari dua puluh tahun, ia berpindah-pindah dan bekerja di lingkungan kerajaan Hafsiyah, Marinid, dan Nasrid. Ia pernah mendapat posisi penting sebagai penjaga stempel kerajaan, tetapi juga pernah merasakan kehidupan di penjara di Fez selama hampir dua tahun.
Pengalaman berpindah dari satu kerajaan ke kerajaan lain membuatnya bisa melihat politik dari jarak dekat. Ia menyaksikan sendiri bagaimana seorang penguasa mendapatkan kekuasaan, bagaimana sebuah dinasti mempertahankan pemerintahannya, dan bagaimana kekuasaan tersebut perlahan melemah.
Pengalaman-pengalaman itulah yang nantinya menjadi salah satu dasar pemikirannya tentang masyarakat dan naik turunnya sebuah dinasti.
Menjauh dari Politik dan Menulis Muqaddimah
Pada 1375, Ibnu Khaldun memilih menjauh sementara dari kehidupan politik. Ia tinggal di Benteng Ibnu Salamah, dekat Oran, Aljazair. Di tempat yang relatif jauh dari hiruk-pikuk politik itu, ia punya kesempatan untuk membaca, berpikir, dan menyusun berbagai gagasan dari pengalaman yang sudah ia lewati.
Di sinilah ia mulai menyusun karya terkenalnya, Muqaddimah, yang selesai ditulis pada 1377. Awalnya, karya ini dibuat sebagai pengantar untuk sebuah buku sejarah. Namun, isinya ternyata jauh lebih luas. Ibnu Khaldun membahas bagaimana manusia hidup bersama, bagaimana masyarakat terbentuk, bagaimana ekonomi memengaruhi kehidupan sosial, hingga mengapa suatu pemerintahan bisa berkembang dan kemudian mengalami kemunduran.
Ia menyebut bidang kajiannya sebagai 'ilm al-'umran, yang secara sederhana bisa dipahami sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat.
Dari Tunis ke Kairo, hingga Bertemu Timur
Pada 1382, Ibnu Khaldun meninggalkan Tunis dan pergi ke Mesir. Ia kemudian menetap di Kairo dan menghabiskan sebagian besar sisa hidupnya di sana. Selain terus mengembangkan dan memperbaiki Muqaddimah, ia juga bekerja sebagai hakim.
Kehidupannya di Kairo pun tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami kehilangan besar ketika istri dan anak-anaknya meninggal dalam kecelakaan kapal di lepas pantai Aleksandria.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1401, Ibnu Khaldun terlibat dalam salah satu peristiwa yang paling menarik dalam hidupnya. Saat Timur sedang bersiap mengepung Damaskus, Ibnu Khaldun ikut dalam rombongan pasukan Mamluk yang dikirim untuk menghadapi situasi tersebut.
Namun, ia justru berkesempatan berbicara langsung dengan Timur. Menurut laporan Al-Ahram, keduanya bertemu berkali-kali, sekitar 35 kali pada Januari hingga Februari 1401. Percakapan tersebut kemudian dicatat Ibnu Khaldun dalam otobiografinya dan menjadi salah satu sumber penting untuk mengetahui pertemuannya dengan Timur.
Bagaimana Ibnu Khaldun Melihat Masyarakat?
Salah satu hal menarik dari pemikiran Ibnu Khaldun adalah pandangannya tentang bagaimana sebuah dinasti bisa tumbuh dan kemudian mengalami keruntuhan.
Menurutnya, dinasti memiliki semacam siklus kehidupan. Ia membandingkannya dengan manusia yang memiliki masa pertumbuhan, masa kejayaan, kemudian masa kemunduran. Ia juga pernah menyebut bahwa sebuah dinasti umumnya tidak bertahan lebih dari tiga generasi, dengan setiap generasi kira-kira berlangsung 40 tahun. Artinya, sekitar 120 tahun. Namun, angka ini bukan aturan yang mutlak karena ada juga penafsiran yang menggunakan empat generasi.
Ibnu Khaldun juga membedakan kehidupan masyarakat berdasarkan cara hidupnya. Ia menggunakan istilah 'umran badawi untuk menggambarkan masyarakat pedesaan atau penggembala dan 'umran hadhari untuk masyarakat perkotaan.
Dari sini terlihat bahwa perhatiannya bukan hanya soal raja atau peperangan. Ia juga membahas hubungan antarmanusia, keluarga, solidaritas sosial, pemerintahan, kondisi ekonomi, dan bagaimana semua hal tersebut saling memengaruhi.
Jadi, Benarkah Ibnu Khaldun Bapak Sosiologi?
Nah, bagian ini yang perlu sedikit hati-hati.
Ibnu Khaldun memang sering disebut sebagai “Bapak Sosiologi”, tetapi julukan tersebut masih menjadi bahan perdebatan. Dalam sejarah sosiologi modern, Auguste Comte sering dianggap sebagai salah satu tokoh yang memperkenalkan dan mengembangkan sosiologi sebagai disiplin ilmu.
Karena itu, menyebut Ibnu Khaldun sebagai “bapak sosiologi” secara mutlak mungkin terlalu sederhana. Sebutan yang lebih aman adalah perintis pemikiran sosiologi atau salah satu pemikir awal yang sudah membahas masyarakat secara sistematis jauh sebelum sosiologi modern berkembang.
Bahkan, ada penelitian yang secara khusus membandingkan pemikiran Ibnu Khaldun dengan Auguste Comte dan Émile Durkheim untuk melihat persamaan dan perbedaan cara mereka memahami masyarakat.
Kenapa Ibnu Khaldun Sering Terlupakan?
Kalau begitu, kenapa nama Ibnu Khaldun tidak sepopuler Comte atau Durkheim ketika kita belajar sosiologi?
Salah satu alasannya berkaitan dengan cara sejarah perkembangan ilmu pengetahuan sering ditulis. Sejumlah penelitian menilai bahwa kontribusi pemikir non-Eropa, termasuk Ibnu Khaldun, kurang mendapat tempat dalam cerita besar tentang perkembangan sosiologi. Hal ini kemudian dikaitkan dengan pengaruh Eurosentrisme, yaitu kecenderungan melihat perkembangan ilmu pengetahuan terutama dari sudut pandang Eropa.
Padahal, bukan berarti karya Ibnu Khaldun benar-benar hilang atau tidak dikenal. Muqaddimah tetap bertahan dan memiliki banyak salinan. Bahkan, terdapat salinan tulisan tangan Ibnu Khaldun sendiri yang tersimpan di Fez dan Istanbul.
Pada awal abad ke-19, pemikiran Ibnu Khaldun juga mulai lebih dikenal oleh kalangan Eropa, salah satunya melalui Silvestre de Sacy.
Jadi, mungkin istilah “terlupakan” sebenarnya bukan berarti Ibnu Khaldun benar-benar hilang dari sejarah. Lebih tepatnya, pemikirannya belum selalu mendapatkan tempat yang sebanding dalam cerita populer tentang sejarah lahirnya ilmu sosiologi.
Ibnu Khaldun dan Cara Baru Melihat Masyarakat
Menariknya, pemikiran Ibnu Khaldun terasa cukup dekat dengan pertanyaan yang masih kita temui sekarang: Mengapa suatu masyarakat bisa berkembang? Mengapa sebuah pemerintahan bisa kuat lalu melemah? Apa hubungan ekonomi dengan kehidupan sosial? Dan mengapa solidaritas dalam suatu kelompok bisa memengaruhi kekuasaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa Ibnu Khaldun tidak hanya menulis sejarah tentang apa yang sudah terjadi. Ia juga berusaha mencari alasan di balik terjadinya sebuah peristiwa.
Mungkin karena itulah pemikirannya tetap menarik untuk dibicarakan sampai sekarang. Ia hidup pada abad ke-14, tetapi pertanyaan yang ia ajukan tentang manusia, masyarakat, kekuasaan, dan perubahan sosial masih terasa relevan.
Jadi, ketika kita belajar tentang sejarah sosiologi, nama Auguste Comte dan Émile Durkheim memang penting. Namun, ada baiknya kita juga melihat ke belakang dan mengenal Ibnu Khaldun—seorang pemikir Muslim dari Tunis yang, berabad-abad sebelum sosiologi modern berkembang, sudah berusaha memahami bagaimana manusia hidup dan membentuk masyarakat.
