Konten dari Pengguna

Sejarah Islam di TikTok: Menarik, Tapi Seberapa Akurat dengan Data dan Fakta?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Martashifa Suci Priyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI tentang sejarah Islam di TikTok dan pentingnya memeriksa data serta sumber sejarah di balik konten yang viral.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI tentang sejarah Islam di TikTok dan pentingnya memeriksa data serta sumber sejarah di balik konten yang viral.

Pernah nggak sih kamu lagi scroll TikTok, awalnya cuma mau cari hiburan, tapi tiba-tiba berhenti di video sejarah Islam? Misalnya muncul video tentang Sultan Muhammad al-Fatih dengan judul, “Pemuda 21 tahun yang berhasil menaklukkan kota paling kuat di dunia.” Musiknya epik, gambarnya megah, dan cara narasinya dibuat seolah-olah kita sedang ikut berada di tengah-tengah peristiwa tersebut. Akhirnya kita nonton sampai selesai dan mungkin langsung berpikir, “Wah, ternyata begini ceritanya.” aku juga pernah begitu.

Tapi setelah rasa kagum itu muncul, ada satu pertanyaan sederhana yang menurutku justru lebih penting: cerita yang baru saja kita tonton itu benar-benar sesuai dengan fakta sejarah, atau memang sengaja dibuat sedramatis mungkin supaya menarik ditonton? Bukan berarti semua konten sejarah Islam di TikTok itu salah. Justru menariknya sejarah Islam di TikTok adalah kita bisa menemukan cerita-cerita yang mungkin sebelumnya tidak pernah kita dengar. Yang tadinya merasa sejarah membosankan, bisa tiba-tiba penasaran dengan seorang khalifah, kerajaan Islam, ilmuwan Muslim, atau peperangan yang terjadi ratusan tahun lalu. Masalahnya muncul ketika video yang menarik itu langsung kita anggap sebagai kebenaran sejarah.

Kalau Sejarah Cuma Punya Waktu Satu Menit

Coba bayangkan kita mau menceritakan sebuah peristiwa yang berlangsung bertahun-tahun. Ada banyak tokoh, tempat, konflik politik, kondisi sosial, dan sumber yang berbeda-beda. Lalu semuanya harus dimasukkan ke video yang hanya berdurasi satu atau dua menit. Pasti ada yang harus dipotong. Nah, bagian yang dipotong inilah yang kadang justru penting.

Cerita yang sebenarnya rumit bisa berubah menjadi sangat sederhana. Tokohnya jadi terlihat hanya sebagai pahlawan atau penjahat. Sebuah peperangan hanya diceritakan dari satu sisi. Bahkan sesuatu yang masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan bisa terdengar seperti fakta yang sudah pasti. Padahal, sejarah memang tidak sesederhana itu. Kalau kita membaca karya-karya sejarah Islam, kita akan menemukan bahwa persoalan sumber dan bagaimana sebuah cerita ditulis juga menjadi hal yang penting. Sejarawan tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?”, tetapi juga bisa bertanya, “Dari mana kita tahu bahwa itu terjadi?” Nah, pertanyaan kedua ini sering hilang ketika kita sedang asyik scroll TikTok.

“Ibn Firnas, Orang Pertama yang Terbang!”

Salah satu contoh yang menarik adalah Abbas ibn Firnas. Mungkin kamu pernah melihat konten yang menyebutnya sebagai “orang pertama yang terbang.” Kedengarannya keren banget, kan? Ibn Firnas sendiri memang tokoh nyata. Ia merupakan seorang ilmuwan dan polimatik dari Andalusia yang hidup pada abad ke-9. Cerita tentang percobaannya untuk terbang juga memang ada dalam sumber sejarah. Tapi ternyata ceritanya nggak sesederhana judul TikTok.

Salah satu sumber yang sering digunakan untuk menceritakan percobaan terbang Ibn Firnas adalah tulisan al-Maqqari. Masalahnya, al-Maqqari hidup sekitar tujuh abad setelah Ibn Firnas. Artinya, ada jarak waktu yang sangat panjang antara tokoh yang diceritakan dengan sumber yang menceritakannya. Bukan berarti ceritanya otomatis salah, tetapi bukankah kita jadi punya alasan untuk lebih berhati-hati?

Jadi, daripada langsung mengatakan “Ibn Firnas adalah orang pertama yang terbang,” mungkin lebih aman mengatakan bahwa Ibn Firnas dikenal melalui riwayat tentang percobaan terbangnya. Memang kalimat kedua nggak sedramatis yang pertama. Tapi setidaknya kita nggak mengubah sesuatu yang masih perlu diperiksa menjadi fakta yang seolah-olah sudah pasti.

“Semua Penemuan Itu dari Orang Muslim!”

Nah, kalau yang satu ini mungkin lebih sering lagi kita temui. “Angka nol ditemukan oleh orang Muslim!” “Aljabar ditemukan oleh orang Muslim!” “Algoritma ditemukan oleh orang Muslim!” Kalau dengar begitu, rasanya bangga juga. Tapi kalau kita telusuri sedikit, ceritanya ternyata jauh lebih menarik daripada sekadar mencari siapa yang bisa diberi gelar “penemu pertama.”

Contohnya angka yang kita gunakan sekarang. Sistem angka yang kemudian berkembang menjadi sistem angka Hindu-Arab memiliki akar dari tradisi matematika India. Brahmagupta, seorang matematikawan India, sudah membahas angka nol secara matematis. Kemudian pengetahuan tersebut berkembang lebih lanjut dalam dunia Islam. Salah satu tokoh yang sangat penting di sini adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi.

Sekitar abad ke-9, al-Khwarizmi menulis karya tentang sistem angka Hindu. Karya-karyanya kemudian berperan dalam penyebaran pengetahuan matematika tersebut hingga akhirnya dikenal di Eropa melalui terjemahan Latin. Bahkan nama al-Khwarizmi kemudian menjadi asal kata “algoritma”, sementara istilah “aljabar” berasal dari al-jabr, bagian dari judul salah satu karyanya.

Jadi, apakah kita harus mengatakan semuanya ditemukan oleh satu orang? Menurutku, justru tidak perlu. Cerita yang sebenarnya malah lebih keren: ilmu berkembang karena pengetahuan dari berbagai peradaban saling bertemu, dipelajari, dikembangkan, lalu diwariskan lagi. Ada kontribusi dari India, Persia, Yunani, dunia Islam, dan kemudian Eropa. Jadi, menghargai ilmuwan Muslim nggak harus dengan mengatakan bahwa semua penemuan berasal dari dunia Islam.

Salahuddin: Pahlawan yang Ternyata Manusia Juga

Sekarang coba kita pindah ke tokoh yang mungkin sudah cukup familiar: Salahuddin al-Ayyubi. Kalau melihat konten tentang beliau di media sosial, kita sering menemukan gambaran seorang pemimpin yang gagah, bijaksana, pemberani, dan sangat murah hati. Salah satu cerita yang sering dibahas adalah ketika Salahuddin berhasil merebut kembali Yerusalem pada 1187.

Cerita ini memang punya konteks sejarah yang kuat. Penaklukan Yerusalem oleh pasukan Perang Salib pada 1099 sebelumnya disertai kekerasan besar terhadap penduduk kota. Ketika Salahuddin merebut kembali kota tersebut pada 1187, penyelesaian dilakukan melalui mekanisme tebusan bagi banyak penduduk. Cerita seperti ini tentu membuat kita melihat Salahuddin sebagai sosok yang berbeda dari gambaran peperangan yang penuh kekerasan.

Tapi ada bagian lain yang juga perlu kita tahu. Dalam konteks Perang Salib, Salahuddin juga mengambil keputusan keras terhadap sebagian tawanan. William J. Hamblin, misalnya, membahas eksekusi sejumlah anggota Templar dan Hospitaller setelah Pertempuran Hattin. Jadi, kalau kita hanya melihat Salahuddin sebagai “pahlawan yang selalu baik,” kita sebenarnya sedang melihat sebagian kecil dari cerita. Begitu juga kalau kita kemudian membaliknya menjadi “Salahuddin ternyata kejam.” Dua-duanya terlalu sederhana.

Tokoh sejarah adalah manusia yang hidup di tengah situasi yang rumit. Mereka bisa mengambil keputusan yang berbeda dalam keadaan yang berbeda. Dan menurutku, justru di situlah sejarah menjadi menarik. Kita nggak harus membuat tokoh sejarah menjadi manusia sempurna supaya kita bisa menghargai kontribusinya.

“Islam Masuk Indonesia Abad ke-7?”

Nah, ini juga salah satu topik yang sering bikin aku berpikir, “Loh, ternyata jawabannya nggak sesederhana itu.” Mungkin kamu pernah mendengar bahwa Islam sudah masuk Nusantara sejak abad ke-7 dan dibawa langsung oleh orang-orang Arab. Ada dasar bagi pendapat tersebut, tetapi itu bukan satu-satunya teori mengenai masuknya Islam ke Nusantara.

Ada teori Arab, Gujarat, Persia, bahkan teori yang menyoroti kemungkinan peran pedagang dan komunitas dari wilayah lain seperti Tiongkok dan Bengal. Jadi, ketika ada video yang mengatakan, “Islam masuk Indonesia pada tahun sekian melalui jalur ini,” kita sebaiknya melihatnya sebagai bagian dari perdebatan sejarah, bukan langsung menganggap tidak ada pendapat lain.

Salah satu bukti penting yang sering dibicarakan adalah makam Sultan Malik al-Saleh di Samudera Pasai yang bertanggal 696 H atau 1297 M. Ada juga catatan Marco Polo dari perjalanan pada 1292 yang menyebut adanya penduduk Muslim di Perlak. Bukti-bukti tersebut tidak serta-merta menjawab seluruh pertanyaan tentang kapan Islam pertama kali masuk Nusantara. Justru dari sinilah kita bisa melihat bahwa proses Islamisasi Nusantara berlangsung panjang.

Islam tidak datang, lalu keesokan harinya seluruh masyarakat menjadi Muslim. Ada perdagangan, perkawinan, pendidikan, tasawuf, kerajaan, seni, dan interaksi dengan budaya lokal yang ikut membentuk proses tersebut. Jadi, daripada hanya sibuk mencari jawaban “abad berapa Islam masuk Indonesia?”, menurutku ada pertanyaan lain yang nggak kalah menarik: “Bagaimana Islam akhirnya bisa berkembang dan menjadi bagian dari masyarakat Nusantara?”

Ada Cerita yang aku Masukkan ke Kotak “Konon”

Ada beberapa cerita sejarah Islam yang sering sekali muncul di media sosial dan terdengar luar biasa. Salah satunya cerita bahwa ketika Baghdad dihancurkan pasukan Mongol pada 1258, Sungai Tigris sampai berubah menjadi hitam karena tinta buku-buku yang dibuang ke sungai. Baghdad memang benar-benar mengalami kehancuran besar pada 1258. Tapi ketika kita mencoba mencari dasar sumbernya, cerita tentang sungai yang berubah hitam karena tinta ternyata tidak sesederhana yang sering diceritakan di media sosial.

Begitu juga dengan cerita bahwa Muhammad al-Fatih tidak pernah meninggalkan salat tahajud sejak baligh. Cerita ini memang sering digunakan untuk menggambarkan ketakwaan al-Fatih. Tetapi untuk menjadikannya sebagai fakta sejarah yang pasti, kita tetap perlu bertanya: sumber awalnya dari mana?

Dan di sinilah aku mulai suka dengan satu kata kecil: “konon.” Kata ini memang terdengar sederhana, tapi sebenarnya cukup berguna ketika kita sedang berhadapan dengan cerita yang belum memiliki bukti kuat. Karena ada perbedaan besar antara mengatakan “ini benar” dengan mengatakan “cerita ini diriwayatkan demikian, tetapi buktinya masih perlu diperiksa.”

Jadi, Kalau Nonton Sejarah di TikTok Harus Bagaimana?

Menurutku, nggak perlu sampai setiap kali buka TikTok kita berubah menjadi sejarawan dadakan. Kita tetap boleh menikmati videonya. Kalau videonya menarik, ya tonton. Kalau ceritanya bikin penasaran, justru bagus. Tapi setelah itu, coba lakukan beberapa hal sederhana.

Pertama, tanya sumbernya. Kalau ada klaim yang luar biasa, lihat apakah pembuat konten menyebutkan buku, jurnal, manuskrip, atau sumber sejarah tertentu. Kedua, jangan takut mencari versi lain. Kalau satu video mengatakan A, coba lihat apakah sumber lain juga mengatakan A. Bisa jadi jawabannya memang sama, tetapi bisa juga ada perbedaan. Ketiga, hati-hati dengan kata “pertama”, “satu-satunya”, atau “paling hebat”. Kata-kata seperti itu memang bikin judul lebih menarik, tapi sejarah sering kali tidak sesederhana itu.

Keempat, jangan langsung percaya hanya karena videonya terlihat meyakinkan. Apalagi sekarang gambar sejarah bisa dibuat dengan AI. Gambarnya mungkin terlihat seperti benar-benar berasal dari masa lalu, padahal sebenarnya hanya rekonstruksi atau bahkan imajinasi. Dan yang terakhir, anggap TikTok sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir. Kalau sebuah video membuat kita penasaran tentang al-Khwarizmi, Ibn Firnas, Salahuddin, atau sejarah Islam di Nusantara, lanjutkan rasa penasaran itu dengan membaca sumber yang lebih serius.

Pada Akhirnya...

Sebenarnya aku tidak keberatan dengan sejarah Islam yang dibuat menarik di TikTok. Malah menurutku, itu bisa menjadi hal yang bagus. Bayangkan kalau seseorang yang awalnya sama sekali tidak tertarik sejarah tiba-tiba menemukan satu video tentang peradaban Islam, kemudian penasaran, lalu mulai mencari buku dan sumber lainnya. Bukankah itu justru awal yang baik?

Yang perlu kita ingat hanya satu: video satu menit tidak mungkin membawa seluruh cerita sejarah yang panjang. Jadi, kalau suatu hari kamu sedang scroll TikTok lalu menemukan video sejarah Islam yang membuatmu berkata, “Wah, serius? Baru tahu aku!”, jangan langsung percaya, tapi jangan langsung menolak juga.

Coba bilang: “Menarik. Tapi sumbernya apa?”

Karena mungkin, justru dari pertanyaan sederhana itu