Konten dari Pengguna

Persaingan AI AS–Tiongkok: Dilema Keamanan Baru?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suyany Marth tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Amerika Serikat dan Tiongkok sama-sama membuka saluran insiden AI sekaligus memperketat pagar teknologi. Di balik dua langkah itu ada ketakutan yang sama.

A computer chip with the letter AI on top of it. Foto:https: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
A computer chip with the letter AI on top of it. Foto:https: unsplash.com

Telepon darurat dan gembok baru

Ada dua berita soal AI belakangan ini yang bikin saya mikir agak lama. Yang pertama dari September. Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat membuat saluran khusus untuk menangani insiden AI, semacam telepon darurat kalau ada yang salah paham. Yang kedua baru keluar 16 Oktober: Tiongkok merilis rancangan pembatasan ekspor 40 teknologi, 23 di antaranya teknologi AI, dengan alasan keamanan nasional.

Rasanya seperti dua orang yang baru saja tukar nomor telepon darurat, lalu pulang dan masing-masing memasang gembok tambahan di pintu. Sekilas aneh. Tapi makin saya pikirkan, dua hal itu ternyata datang dari ketakutan yang sama.

Pagar yang dibaca sebagai ancaman

Coba bayangkan dua tetangga yang tidak terlalu saling percaya. Suatu hari yang pertama menaikkan pagarnya supaya merasa aman. Tetangganya melihat dari jendela dan mikir, ngapain setinggi itu, jangan-jangan lagi menyiapkan sesuatu. Besoknya dia ikut menambah pengaman. Pagar dibalas pagar. Ujungnya dua-duanya tidur lebih gelisah daripada sebelumnya, padahal tak satu pun berniat jahat.

Ilmuwan politik Robert Jervis menyebut pola ini dilema keamanan, dan ia menulisnya sejak 1978. Intinya, langkah yang niatnya melindungi diri justru membuat pihak lain merasa terancam. Makin susah membedakan mana pagar dan mana senjata, makin runyam urusannya. Di situlah AI jadi masalah.

Michael Horowitz, peneliti keamanan, pernah menulis bahwa AI lebih mirip listrik daripada senjata tertentu. Ia dipakai di mana-mana, untuk apa saja, dan teknologi yang sama bisa melayani keperluan sipil maupun militer. Kapal induk masih bisa dilihat dan dihitung, sedangkan kemajuan AI lawan nyaris tidak kelihatan. Kalau tidak kelihatan, kita cenderung membayangkan yang paling buruk.

Lihat saja kontrol ekspor chip. Gedung Putih bilang itu untuk menjaga keamanan nasional tanpa membatasi perdagangan secara berlebihan. Beijing membacanya lain, sebagai upaya menekan perkembangan teknologi mereka. Kementerian Luar Negeri Tiongkok bahkan bilang konsep “small yard, high fences” bukan sikap negara besar. Kebijakan yang sama, dua cara membacanya.

Pagarnya lalu bertambah panjang. Seorang pejabat Gedung Putih menuduh Moonshot AI, perusahaan Tiongkok, melatih modelnya dengan chip Nvidia di Thailand, dan Departemen Perdagangan AS dilaporkan sedang menyusun aturan soal akses jarak jauh. Moonshot belum menanggapi tuduhan itu. Lalu rancangan pembatasan ekspor Tiongkok tadi? Associated Press tidak menyebutnya pembalasan, dan seorang analis membacanya sebagai jawaban atas tuntutan kedaulatan teknologi di negara-negara Barat. Jadi jangan buru-buru bilang balas dendam. Tapi pola saling menjawab itu terasa.

Peneliti Jinghan Zeng menemukan pola serupa di AI generatif. Waktu ChatGPT sukses, Tiongkok cemas, termasuk soal keamanan ideologis. Waktu DeepSeek menyusul, gantian Amerika yang merasa tidak aman. Dua-duanya merasa jadi pihak yang terancam.

Tapi tidak semuanya soal rasa takut

Meski begitu, saya tidak mau buru-buru menyebut semuanya dilema keamanan. Ada bagian yang memang bukan.

Orang yang memasang gembok karena takut itu beda dengan orang yang memang ingin menguasai rumah tetangganya. Tiongkok sudah punya strategi nasional AI sejak 2017 dengan target menjadi yang terdepan. Trump juga menegaskan Amerika tidak akan memperlambat pengembangan AI-nya. Ingin menang itu wajar, dan itu soal ambisi, bukan ketakutan. Lagi pula, sebagian besar pemakaian AI itu sipil, dan menurut Horowitz penyebaran secara komersial bisa mengikis keunggulan pihak yang lebih dulu.

Mungkin kamu akan bilang, bukankah persaingan justru bagus? Inovasi jadi lebih cepat, pertahanan lebih kuat. Saya setuju sebagian. Tapi sistem yang makin canggih tidak otomatis membuat dunia lebih aman. Bisa jadi peluang salah hitungnya malah bertambah. Dan karena AI bisa dipakai ke dua arah, susah memastikan sebuah pagar benar-benar cuma pagar.

Jadi menurut saya begini: ya, ada dilema keamanan baru di sini, tapi hanya sebagian, dan hasil akhirnya sangat bergantung pada bagaimana kedua pihak bersikap.

Telepon darurat itu harus sering dipakai

Kabar baiknya, mereka sendiri kelihatan sadar risikonya. Pada November 2024, kedua pemimpin sepakat bahwa keputusan memakai senjata nuklir harus tetap di tangan manusia. September lalu mereka juga sepakat membuka saluran insiden AI dan mempercepat komunikasi krisis militer. Orang tidak repot membangun telepon darurat untuk bahaya yang dianggap khayalan.

Kalau boleh urun saran, ada beberapa hal yang menurut saya masuk akal. Saluran itu perlu protokol tetap supaya tidak berhenti jadi janji, dan dialog AI yang dijadwalkan November bisa jadi tempat mulainya. Prinsip soal kendali manusia atas senjata nuklir sebaiknya diperluas sampai ke sistem komando dan peringatan dini. Kerja sama bisa difokuskan pada risiko yang dihadapi bersama, seperti keselamatan AI, sementara persaingan dagang jalan terus. Dan tujuan serta batas kontrol ekspor perlu dijelaskan, supaya tidak dibaca sebagai niat membendung seluruh perkembangan AI.

Persaingan ini tidak akan berhenti, dan sejujurnya memang tidak perlu. Yang harus dihindari adalah salah baca yang berujung salah langkah. Telepon darurat tidak berguna kalau cuma dipajang di dinding. Ia harus sering dipakai sampai jadi kebiasaan, sebelum ada kejadian yang betul-betul menguji.