Banyak Sumber Daya, Tapi Rakyat Tetap Susah

Mahasiswa merupakan Fakultas Teknik Informatika Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Samuel Sianturi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Indonesia dikenal sebagai negara kaya. Kita punya tambang emas, batu bara, gas, sawit, laut luas, tanah subur, sampai sinar matahari sepanjang tahun. Tapi ironisnya, masih banyak rakyat yang hidup susah.

Kita sering dengar: “Kita negara kaya, tapi rakyatnya miskin.” Kalimat ini bukan cuma keluhan, tapi gambaran nyata dari ketimpangan yang terjadi. Di daerah tambang misalnya, hasil bumi diangkut ke luar negeri, tapi warga sekitar tambang tetap hidup tanpa akses pendidikan dan kesehatan yang layak. Banyak jalan rusak, air bersih sulit, dan pekerjaan tetap minim. Lalu siapa yang sebenarnya menikmati hasil kekayaan itu? Masalah ini bukan hanya soal pengelolaan sumber daya, tapi juga soal keadilan distribusi. Sering kali yang kaya makin kaya, yang miskin tetap bertahan dengan kondisi seadanya. Kita lihat gedung pencakar langit di kota, tapi masih ada anak-anak sekolah di jembatan gantung di desa. Pemerintah memang punya program bantuan, tapi tidak cukup kalau akar masalah tidak diselesaikan. Korupsi, proyek yang tidak tepat sasaran, dan kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang membuat masalah ini terus berulang. Sudah saatnya kita berpikir ulang soal arah pembangunan. Kekayaan alam seharusnya dikelola bukan hanya untuk menghasilkan uang, tapi untuk menyejahterakan rakyat banyak. Pendidikan dan kesehatan harus jadi prioritas. Desa harus dibangun, bukan cuma kota yang dipoles. Kita juga sebagai masyarakat bisa ikut mengawasi. Kita bisa suarakan lewat media sosial, ikut komunitas yang peduli lingkungan atau transparansi anggaran, dan dukung kebijakan yang adil. Jangan hanya diam dan pasrah. Indonesia punya potensi luar biasa. Tapi potensi itu tidak akan berguna kalau tidak dikelola dengan benar. Kita tidak kekurangan sumber daya, kita hanya kekurangan kejujuran, pemerataan, dan niat baik dari mereka yang punya kuasa.
Samuel Sianturi adalah mahasiswa Prodi Fakultas Teknik Informatika Universitas Katolik Santo Thomas Medan
