Konten dari Pengguna

Comifuro 21: Antrean Tidak Berujung, Dompet Menangis, Tapi Hati Bahagia

Marvella Anabelle Wilson

Marvella Anabelle Wilson

Siswa Kelas 12C di PENABUR Junior College Kelapa Gading

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Marvella Anabelle Wilson tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerumunan orang menunggu di luar venue pada pukul 9 pagi, foto dari penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Kerumunan orang menunggu di luar venue pada pukul 9 pagi, foto dari penulis.

Pembukaan: Akhirnya Bisa Datang ke Comifuro

Selama bertahun-tahun saya hanya bisa melihat Comifuro lewat media sosial, merasa iri melihat ribuan pengunjung menikmati acara kreatif terbesar bagi pecinta ilustrasi, anime, VTuber, dan budaya pop Jepang di Indonesia. Namun tahun ini akhirnya berbeda. Ujian akhir kelas 12 baru selesai, dan sebelum menutup bab sekolah, saya berjanji pada diri sendiri: tahun ini saya harus datang.

Persiapan: Dari Cari Informasi Hingga Bikin Daftar Belanja

Beberapa minggu sebelum acara, seorang teman dari adik kelas bertanya apakah saya akan ikut. Tanpa pikir panjang, saya mengajak beberapa teman, dan akhirnya lima orang dari kami berhasil mendapatkan tiket.

Kami langsung menelusuri katalog resmi Comifuro: daftar booth, contoh karya, sampai akun media sosial tiap kreator. Kami mencatat booth yang ingin kami kunjungi, barang incaran kami, bahkan titipan teman-teman yang tidak bisa datang. Rasanya seperti merencanakan misi besar.

Hari H: Perjalanan Menuju ICE BSD

Pukul 08.00 pagi, teman-teman datang ke rumah saya dan kami segera berangkat ke ICE BSD. Perjalanan satu jam diisi obrolan, tawa, dan revisi daftar belanja karena setiap beberapa menit pasti ada booth baru yang kami temukan.

Antrean panjang berisi banyak orang menuju loket tiket, foto dari penulis.

Namun, setibanya di lokasi, kami langsung terdiam. Antreannya sudah mengular jauh. Padahal baru pukul sembilan pagi.

Antrean Mengular dan Sprint Masuk Gedung

Kami menunggu satu setengah jam di bawah matahari hanya untuk menukarkan tiket. Begitu masuk, suasananya langsung berubah seperti kompetisi lari: semua pengunjung bergegas menuju booth incaran sebelum barang incaran habis.

Merch Impian dan Dompet yang Menangis

Kerumunan pengunjung saat acara mencapai jam paling ramai, foto dari penulis.

Di dalam venue, suasananya meriah sekaligus menggila. Saya dan salah satu teman yang merupakan penggemar berat NIJISANJI langsung menyerbu booth-booth favorit.

Melihat merch streamer dan fandom favorit yang biasanya mustahil ditemukan offline membuat kami sangat bersemangat. Bahkan di salah satu booth, karena kami terlalu heboh, penjaga tokonya sampai memberi kami bonus cetakan ilustrasi gratis. Pengalaman kecil yang terasa sangat berarti.

Makin Siang, Makin Sesak

Kemudian datang realita lain: semakin siang, venue semakin padat. Awalnya kami hanya harus berjalan pelan, tapi menjelang siang ada titik-titik di mana kami benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali. Saya sampai menggandeng teman saya agar tidak terpisah. Rasanya seperti berada di tengah ‘lautan manusia’.

Istirahat di Sudut Gedung

Setelah enam jam berjalan tanpa duduk, kami menyerah. Kami menemukan tempat kosong di dekat pintu keluar, duduk sambil memilah hasil belanjaan, menunjukkan barang-barang ke teman, dan menikmati momen tenang setelah “perang”.

Keluar untuk mencari minuman dingin rasanya seperti menghirup udara segar setelah terjebak di dalam kaleng sarden raksasa.

Drama Hujan Saat Beli Makan

Deretan stan makanan di luar venue saat hujan deras, foto dari penulis.

Saat saya keluar lagi untuk membeli makanan, hujan mulai turun. Dari gerimis sampai hujan deras disertai angin kencang. Saya berdiri setengah jam di antrean sambil basah kuyup sampai kaus kaki. Teman-teman baru berhasil menemukan saya setelah beberapa menit dengan payung.

Makanannya akhirnya jadi semi-basah, tapi rasanya tetap nikmat karena kami sudah terlalu lelah dan lapar.

Pulang: Mencari Mobil Seperti Bermain Game

Mobil-mobil yang mengantre panjang di luar venue dan hampir tidak bergerak, foto dari penulis.

Menjelang sore kami memutuskan pulang. Butuh hampir satu jam hanya untuk menemukan mobil karena parkiran sangat penuh dan banyak jalur ditutup. Begitu duduk di kursi mobil, rasanya seperti mendapatkan ending kemenangan dalam game RPG: capek, tapi puas.

Penutup: Apakah Akan Datang Lagi?

Kalau ditanya apakah saya akan datang lagi? Jawabannya sangat mudah: tentu saja. Antrean panjang, desak-desakan, hujan, dan lelah seharian justru membuat pengalaman ini terasa lengkap, unik, berkesan, dan penuh cerita.

Comifuro bukan sekadar event belanja, tapi tempat di mana sesama pecinta fandom bertemu, berbagi antusiasme, dan menciptakan kenangan yang bertahun-tahun kemudian masih akan diceritakan lagi.

Kelompok peserta acara berdiri melingkar sambil menunjukkan wristband masing-masing, foto dari penulis.