Pertemuan Putin-Trump: Kenapa Trump Cenderung Memihak Rusia?

Alumnus Ilmu Politik dan Hubungan Internasional. Dosen di Departemen Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Marwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia seolah hening dan juga tegang. Mereka, terutama para pengamat politik internasional, menyaksikan pertemuan dua pemimpin besar dunia, Vladimir Putin Presiden Rusia dan Donald Trump Presiden Amerika.
Mereka menunggu hasil negosiasi keduanya. Negosiasi yang dilakukan di Alaska Amerika Serikat untuk membicara masa depan konflik Rusia-Ukraina.
Banyak yang berharap pertemuan itu bisa menghasilkan kesepakatan perdamaian. Ada juga yang menganggap bahwa pertemuan tersebut cukup sulit menghasilkan kesepakatan final. Ini tidak lain karena kompleksitas konflik tersebut.
Apalagi konflik tidak hanya melibatkan dua pihak: Rusia dan Ukraina. Akan tetapi, melibatkan juga aktor lain terutama barat (NATO termasuk Amerika Serikat) yang bahkan sudah terlibat secara langsung dalam bantuan militer dan ekonomi, serta sanksi ekonomi terhadap Rusia.
Benar saja, pertemuan tersebut tidak langsung menemui kesepakatan akhir yang diterima semua pihak. Namun, dalam jumpa pers seusai pertemuan dikatakan bahwa pertemuan tersebut menghasilkan sesuatu yang sangat produktif. Ini bisa dibaca bahwa telah ada beberapa hal yang disepakati menuju tujuan akhir (baca: perdamaian) walaupun tidak didetailkan hal-hal apa yang telah disepakati tersebut.
Akan tetapi, ada beberapa hal disebut. Salah satunya adalah untuk mencapai perdamaian yang permanen tidak perlu ada gencatan senjata temporer. Hal ini tidak diinginkan oleh Ukraina dan negara-negara barat pendukungnya.
Sementara Rusia menyetujui poin tersebut. Bahkan poin itu merupakan keinginan Rusia yang diakomodasi oleh Trump. Pasalnya, bagi Rusia gencatan senjata sementara akan dijadikan momentum bagi Ukraina dan negara-negara pendukungnya untuk melakukan konsolidasi kekuatan militer – di tengah kerugian strategis Ukraina di palagan perang – jika sewaktu-waktu perdamaian tidak dicapai.
Selain itu, Trump juga menyetujui keinginan Rusia untuk mengambil alih wilayah Ukraina yang sudah berhasil direbut oleh Rusia. Padahal, Ukraina berkali-kali menyatakan tidak akan memberikan wilayah tersebut sebagai syarat perdamaian.
Trump juga mengajak Ukraina untuk berdamai saja karena Rusia punya kekuatan yang besar, sementara Ukraina tidak. Lagi-lagi, pernyataan Trump secara tidak langsung adalah bentuk dukungan yang lebih besar kepada Rusia.
Di balik Langkah Trump
Setidaknya ada beberapa alasan kenapa Trump lebih mengakomodasi kepentingan Rusia dibanding Ukraina dan negara-negara barat pendukungnya.
Pertama, kebijakan luar negeri Trump sangat transaksional. Trump melihat berdamai dengan Rusia lebih menguntungkan dibanding berkonflik. Secara ekonomi, Trump mengkritik presiden sebelumnya, Joe Biden, yang terlalu menghambur-hamburkan uang untuk membantu Ukraina.
Menurut Trump, kebijakan tersebut tidak menguntungkan. Karenanya, setelah Trump dilantik kembali menjadi Presiden untuk kedua kalinya, dia menuntut agar Ukraina membayar ganti rugi atas bantuan ekonomi dan militer Amerika selama ini.
Kedua, Trump masih setia dengan “America first” atau Amerika yang diprioritaskan terlebih dahulu. Trump seorang “merkantilis” yang sangat lebih mementingkan/membangun negaranya dibanding kepentingan negara lain. Bagi Trump, kebijakan luar negeri Amerika selama ini justru lebih banyak menguntungkan negara lain.
Oleh karena itu, Trump ingin agar kebijakan luar negeri diprioritaskan untuk membuat Amerika besar/hebat kembali yang digambarkan dalam slogan lainnya yakni “Make America Great Again (MAGA)”. Hal itu diwujudkan dalam upaya mendamaikan Rusia dan Ukraina karena lebih menguntungkan Amerika dibanding konflik tersebut berkepanjangan.
Selain itu, Trump juga masih sama dengan sikapnya sebelumnya. Trump tidak ingin terlalu mengeluarkan banyak anggaran untuk menjaga keamanan Eropa. Trump ingin agar Eropa lebih mandiri mengurus masalahnya sendiri dengan Rusia.
Oleh karena itu, Trump enggan jor-joran untuk membantu Ukraina dalam perang dengan Rusia. Untuk keamanan Eropa jangka panjang, Trump juga menekan negara-negara anggota NATO untuk menambah alokasi anggaran untuk organisasi pertahanan dan keamanan ini. Pasalnya, selama ini NATO terlalu banyak bergantung pada anggaran Amerika.
Ketiga, Trump ingin menciptakan citra positif untuk menutupi citra buruk serta kebijakannya yang mendukung genosida yang dilakukan negara penjajah Israel atas Palestina. Upaya membranding diri sebagai pencipta perdamaian ini juga dilakukan oleh Trump belum terlalu lama ini yakni dengan memediasi perdamaian dua negara bekas anggota Uni Soviet yakni Azerbaijan dan Armenia. Dua negara itu berhasil berdamai.
Apa yang dilakukan Trump menguatkan spekulasi bahwa Trump ingin mendapat penghargaan nobel perdamaian seperti yang pernah diberikan kepada Barack Obama, Presiden Amerika dari Partai Demokrat.
Keempat, fokus Amerika adalah ke China, bukan ke Rusia. Amerika ingin membendung pengaruh China yang kita menguat secara global baik di bidang ekonomi, militer maupun teknologi. Dengan terlalu fokus atau memperpanjang konflik Rusia-Ukraina, justru akan menguras energi Amerika. Amerika akan terus mengeluarkan anggaran yang besar untuk membantu Ukraina. Sementara itu, di saat yang sama China akan lebih leluasa bermanuver untuk menguatkan serta memperluas pengaruhnya.
Setelah pertemuan dengan Putin, Trump akan segera bertemu dengan Presiden Ukraina, Zelensky, beserta beberapa pemimpin Eropa lain. Mereka juga akan membicarakan masa depan perang Rusia-Ukraina.
Mereka ingin agar Trump memprioritaskan kepentingan negara-negara eropa ini dibanding mengakomodasi kepentingan Rusia. Kita akan melihat dinamika apa yang akan terjadi ke depan.
