Konten dari Pengguna

Dari Sawah untuk Negeri: Catatan Kecil Seorang ASN

Maryati

Maryati

ASN pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bangka Selatan

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maryati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya tidak pernah membayangkan bahwa menjadi seorang ASN akan membawa saya begitu dekat dengan kehidupan para petani. Dulu, sawah bagi saya hanyalah hamparan tanah yang dipenuhi tanaman padi. Namun, setelah menjalankan tugas, saya mulai memahami bahwa di balik hijaunya sawah terdapat perjuangan, harapan, dan kehidupan banyak keluarga.

Setiap kali turun ke lapangan, saya melihat sendiri bagaimana petani bekerja sejak pagi. Mereka berangkat ketika matahari belum terlalu tinggi, menyiapkan lahan, menanam, merawat, hingga menunggu hasil panen. Tidak jarang saya melihat wajah lelah, tangan yang kotor oleh tanah, dan pakaian yang basah oleh keringat. Tetapi di balik semua itu, ada semangat yang luar biasa untuk terus bertahan.

Dokumentasi Foto Pribadi_Maryati
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Foto Pribadi_Maryati

Sebagai ASN di bidang pertanian, saya menyadari bahwa pekerjaan saya bukan hanya menyelesaikan administrasi di balik meja. Ada tanggung jawab yang lebih besar, yaitu memastikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya petani, dapat berjalan dengan baik.

Saya sering berpikir, mungkin apa yang saya lakukan terlihat sederhana. Mengurus surat, mencatat kegiatan, menyiapkan administrasi, membantu koordinasi, dan mendukung kegiatan di lapangan. Namun, saya belajar bahwa pekerjaan kecil sekalipun dapat menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar ketika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Dokumentasi Foto Pribadi _Maryati

Suatu hari, ketika berada di tengah persawahan, saya berbincang dengan seorang petani. Ia bercerita tentang harapannya agar hasil panen tahun itu berhasil. Ia juga bercerita tentang berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari cuaca, kebutuhan biaya, hingga kekhawatiran ketika hasil panen tidak sesuai harapan.

Percakapan singkat itu membuat saya terdiam. Saya menyadari bahwa bagi seorang petani, padi bukan sekadar tanaman. Di dalamnya ada biaya sekolah anak, kebutuhan keluarga, cicilan, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Sejak saat itu, saya memandang pekerjaan saya dengan cara yang berbeda.

Saya tidak ingin hanya bekerja karena kewajiban. Saya ingin setiap tugas yang saya lakukan memberikan manfaat, meskipun mungkin manfaat itu tidak selalu terlihat secara langsung.

Menjadi ASN mengajarkan saya bahwa pelayanan bukan tentang seberapa besar pekerjaan yang kita lakukan, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Ketika seorang petani mendapatkan pelayanan yang baik, informasi yang tepat, atau bantuan dalam proses administrasi, mungkin bagi kita itu hanyalah sebuah pekerjaan. Namun bagi mereka, hal tersebut bisa berarti sebuah kemudahan dan harapan.

Saya juga belajar tentang arti integritas. Dalam bekerja, saya harus mampu menjalankan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, dan tidak membeda-bedakan masyarakat. Saya harus mengingat bahwa amanah sebagai ASN bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang kepercayaan yang diberikan negara dan masyarakat.

Ada kalanya pekerjaan terasa melelahkan. Ada banyak tugas yang harus diselesaikan, waktu yang terbatas, dan berbagai persoalan yang harus dihadapi. Tetapi setiap kali saya melihat hamparan sawah dan bertemu para petani yang tetap bekerja dengan penuh semangat, saya kembali diingatkan mengapa saya harus terus memberikan yang terbaik.

Saya mungkin bukan petani yang menanam benih di sawah. Namun, sebagai ASN, saya ingin menjadi bagian dari mereka yang ikut menyemai harapan.

Saya percaya bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun oleh mereka yang bekerja di lahan, tetapi juga oleh setiap orang yang menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab. Dari petani yang menanam, penyuluh yang mendampingi, hingga ASN yang memberikan pelayanan dan memastikan program berjalan sebagaimana mestinya.

Bagi saya, sawah telah menjadi tempat belajar yang sederhana tetapi sangat berarti. Dari tanah dan lumpur, saya belajar tentang ketekunan. Dari petani, saya belajar tentang kesabaran. Dari proses menanam hingga panen, saya belajar bahwa hasil yang baik membutuhkan kerja keras, ketulusan, dan waktu.

Inilah catatan kecil saya sebagai seorang ASN.

Saya mungkin hanya satu orang dengan tugas yang sederhana. Namun saya percaya, ketika setiap ASN bekerja dengan hati, menjalankan tugas dengan integritas, dan memberikan pelayanan terbaik, maka akan lahir perubahan yang besar.

Karena pada akhirnya, pengabdian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang, pengabdian dimulai dari meja kerja, dilanjutkan dengan langkah menuju lapangan, dan berakhir pada sebuah senyum masyarakat yang merasa terbantu.

Dari sawah, saya belajar mengabdi. Dari petani, saya belajar berharap. Dan untuk negeri, saya akan terus berusaha memberikan yang terbaik.