Kuliah di Kazakhstan: Alternatif Studi Global di Al-Farabi KazNU

Pembelajar akuntansi sektor publik. Dosen Politeknik Keuangan Negara STAN, Indonesia yang sedang menempuh studi doktoral di Al-Farabi Kazakh National University melalui Kazakhstan Government Scholarship 2025 - Bolashak International.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Dani Sugiri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi banyak pelajar Indonesia, pilihan studi luar negeri masih didominasi oleh Malaysia, Australia, Eropa, Amerika Serikat, dan Asia Timur. Namun, kuliah di Kazakhstan mulai muncul sebagai alternatif yang semakin dilirik.
Pernahkah Anda membayangkan studi di sebuah kota yang terletak di kaki pegunungan bersalju, di lingkungan multikultural yang menjadi persimpangan antara Timur dan Barat? Pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita mulai melihat adanya pergeseran dalam peta pendidikan tinggi global, di mana kawasan seperti Asia Tengah, khususnya Kazakhstan, mulai memperkuat posisinya dalam lanskap pendidikan tinggi global.

Di kawasan inilah Al-Farabi Kazakh National University (Al-Farabi KazNU) berada. Berlokasi di Kota Almaty, Kazakhstan, universitas pemerintah ini berdiri di atas lahan seluas 100 hektar. Kota Almaty sering dijuluki sebagai permata di kaki Pegunungan Tian Shan. Al-Farabi KazNU menyatu dengan lanskap kota, dengan arsitektur khas Uni Soviet yang bersanding dengan gaya hidup modern. Kampus ini tidak hanya merupakan salah satu universitas tertua dan terbesar di Kazakhstan, tetapi juga menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi bergengsi di kawasan Asia Tengah. Didirikan pada tahun 1933, universitas ini telah mengalami berbagai transformasi sehingga saat ini berstatus research university.
Saya mengawali studi pada jenjang doktoral di Higher School of Economics and Business (HSEB) di Al-Farabi KazNU, pada penghujung tahun 2025. Kedatangan saya di Almaty bertepatan dengan datangnya musim salju, pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah saya alami. Di tengah suhu yang menuju titik beku, saya memiliki satu tujuan utama: mencari ruang belajar dalam lingkungan akademik di kawasan Eurasia, yaitu Al-Farabi KazNU.
Pilihan ini memang tidak lazim bagi sebagian pelajar Indonesia, yang umumnya berorientasi pada destinasi studi utama seperti negara Barat dan Asia Timur. Namun demikian, pengalaman ini menunjukkan bahwa alternatif studi di luar pusat-pusat pendidikan yang selama ini kita kenal mulai berkembang dan layak dipertimbangkan secara lebih serius. Di Al-Farabi KazNU, Anda dapat menemukan kualitas akademik berdaya saing internasional, biaya hidup yang relatif terjangkau, dan pengalaman hidup di pusat kebudayaan Eurasia yang multikultural.
Untuk memahami posisi Al-Farabi KazNU secara lebih komprehensif, penting untuk melihat konteks kawasan Eurasia dan Kazakhstan terlebih dahulu.
Al-Farabi KazNU dalam Konteks Global
Kazakhstan merupakan negara terbesar di Asia Tengah dan salah satu negara pecahan Uni Soviet. Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini secara aktif mengembangkan sektor pendidikan tinggi sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing global dan mendorong internasionalisasi pendidikan. Kazakhstan juga tergabung dalam Persemakmuran Negara-Negara Merdeka atau Commonwealth of Independent States (CIS), sebuah forum kerja sama regional di berbagai bidang strategis, seperti ekonomi, politik, dan pendidikan.
Dalam konteks tersebut, Al-Farabi KazNU berperan sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi utama di kawasan Eurasia. Al-Farabi KazNU tergabung dalam jaringan universitas CIS (CIS Network University), yaitu jaringan kolaborasi akademik lintas negara CIS yang bertujuan memperkuat mobilitas mahasiswa dan kerja sama riset. Saat ini Al-Farabi tergabung sebagai anggota CIS Network University bersama 48 universitas di kawasan CIS. Dalam CIS Network University, Al-Farabi KazNU termasuk di antara universitas dengan peringkat global tinggi dalam jaringan tersebut, seperti Lomonosov Moscow State University dari Rusia. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa Al-Farabi KazNU tidak hanya memiliki posisi yang kuat di tingkat nasional, tetapi juga terintegrasi dalam ekosistem pendidikan tinggi di tingkat regional dan internasional.
Meskipun demikian, seperti banyak universitas di kawasan berkembang, tantangan tetap ada, terutama dalam meningkatkan kualitas riset, visibilitas publikasi internasional, dan daya saing global. Hal ini juga menjadi perhatian dalam berbagai diskursus pengembangan pendidikan tinggi di kawasan Asia Tengah.
Reputasi Global dan Standar Internasional
Secara global, Al-Farabi KazNU berada pada kisaran peringkat 150-200 dunia menurut QS World University Rankings. Pada QS World University Rankings 2026, universitas ini menempati posisi ke-166 dan menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Asia Tengah yang masuk dalam jajaran Top 40 Asia.
Selain itu, Al-Farabi KazNU memiliki jejaring kolaborasi global yang luas, baik melalui keanggotaan dalam berbagai lembaga internasional, kemitraan dengan universitas mancanegara, maupun kerja sama dengan sektor industri atau perusahaan internasional. Saat ini, universitas ini memiliki 16 fakultas dengan total sekitar 575 program studi. Dari jumlah program studi tersebut, sebagian besar (sekitar 95%) telah terakreditasi oleh lembaga internasional.
Aspek penting lain yang memperkuat posisi Al-Farabi KazNU dan kampus lain di Kazakhstan adalah partisipasi Kazakhstan dalam Bologna Process. Bologna Process merupakan kesepakatan antarnegara di kawasan Eropa dan sekitarnya yang bertujuan membangun keselarasan standar pendidikan tinggi, termasuk dalam pengakuan ijazah, sistem kredit, mobilitas akademik dan kualitas pembelajaran. Tujuannya agar ijazah dan sistem kuliah antarnegara anggota saling diakui dan setara. Saat ini terdapat 49 negara yang tergabung dalam European Higher Education Area (EHEA) melalui Bologna Process. Kazakhstan sendiri bergabung pada Maret 2010 dan merupakan negara Asia Tengah pertama yang menjadi anggota penuh Bologna Process. Kerangka ini memungkinkan sistem pendidikan tinggi di Kazakhstan selaras dengan standar internasional, sekaligus meningkatkan daya tariknya bagi mahasiswa internasional.
Namun demikian, dalam konteks global, peringkat tersebut perlu dilihat secara lebih kritis dan kontekstual dalam perbandingan dengan dinamika global, khususnya terkait dengan kualitas publikasi, dampak riset, dan posisi dalam jaringan ilmiah internasional. Hal ini terus menjadi salah satu fokus pengembangan Al-Farabi KazNU dalam meningkatkan kualitas riset dan visibilitas internasional.
Fenomena ini mencerminkan dinamika yang lebih luas dalam pendidikan tinggi global, di mana fokus tidak lagi semata pada kuantitas publikasi atau ekspansi jaringan internasional, tetapi juga pada kualitas, relevansi, dan dampak penelitian.
Beasiswa dan Peluang Bagi Mahasiswa Indonesia
Pemerintah Kazakhstan menyediakan peluang beasiswa penuh melalui skema Kazakhstan Government Scholarship yang dikelola oleh Bolashak. Bagi pelajar Indonesia yang mempertimbangkan kuliah di Kazakhstan, skema ini menjadi salah satu jalur utama untuk studi pada jenjang sarjana (bachelor), master, hingga doktoral (PhD) pada berbagai universitas di Kazakhstan. Beasiswa ini relatif fleksibel karena tidak membatasi pilihan bidang studi, sehingga pelamar dapat memilih sesuai dengan minat akademiknya. Bahkan, terdapat peluang untuk melanjutkan studi di kedokteran umum. Peserta dapat memilih program pendidikan dengan pengantar bahasa Inggris, Rusia, atau Kazakh.
Informasi resmi mengenai program ini dapat diakses melalui situs Bolashak dan platform Study in Kazakhstan. Untuk tahun akademik 2026/2027, periode pendaftaran berlangsung dari 30 Maret 2026 – 31 Mei 2026. Ini kesempatan bagus bagi pelajar Indonesia untuk dapat memperoleh pendidikan tinggi berkerangka European Higher Education Area (EHEA) dengan biaya hidup relatif terjangkau karena tidak jauh berbeda dengan beberapa kota besar di Indonesia. Bagi calon pelamar dari Indonesia, beasiswa pemerintah Kazakhstan dapat menjadi alternatif selain beasiswa lain yang dapat Anda ikuti.
Perlu dicatat bahwa daftar universitas dan program studi yang menerima mahasiswa melalui skema Kazakhstan Government Scholarship dapat berubah setiap tahun. Oleh karena itu, calon pelamar disarankan untuk menggali informasi resmi serta mempersiapkan diri untuk peluang pada periode berikutnya, baik di Al-Farabi KazNU maupun di universitas lain di Kazakhstan.
Selain skema beasiswa pemerintah, terdapat pula peluang beasiswa yang ditawarkan langsung oleh universitas di Kazakhstan. Beberapa perguruan tinggi menyediakan berbagai skema pendanaan, mulai dari beasiswa penuh hingga potongan biaya pendidikan berbasis prestasi. Namun, calon mahasiswa disarankan untuk menelusuri informasi resmi dari setiap universitas yang diminati.
Saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia di Kazakhstan masih relatif terbatas. Di Al-Farabi KazNU sendiri, sebagian besar masih berada di jenjang sarjana, sementara jumlah mahasiswa master dan doktoral dari Indonesia masih sangat terbatas. Kondisi ini justru membuka peluang bagi mahasiswa Indonesia untuk menjadi bagian dari komunitas akademik internasional yang lebih luas, sekaligus membawa perspektif baru dalam lingkungan dan pergaulan global.
Selain pintu kerja sama pendidikan, bila dicermati, hubungan Indonesia dengan Kazakhstan juga semakin diperkuat di sisi lain. Penguatan tersebut dapat kita lihat pada penandatanganan Free Trade Agreement (FTA) antara Indonesia dan Eurasian Economic Union (EAEU) pada tanggal 21 Desember 2025 di St. Petersburg, Rusia. Kazakhstan merupakan salah satu aktor utama dalam EAEU. Inisiatif ini tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga menciptakan ruang kolaborasi dalam bidang pendidikan dan pertukaran pengetahuan.
Lingkungan Multikultural dan Pengalaman Belajar
Namun, daya tarik Al-Farabi KazNU tidak hanya terletak pada reputasinya secara akademis. Kampus ini berdiri di lingkungan yang kaya secara budaya. Kota Almaty dikenal sebagai kota multikultural, di mana berbagai etnis dan latar belakang hidup berdampingan. Bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia, suasana ini memberikan pengalaman belajar yang bernilai, tidak hanya akademik, tetapi juga sosial dan kultural.
Seperti halnya studi di luar negeri pada umumnya, terdapat berbagai tantangan, terutama dalam hal adaptasi terhadap bahasa, budaya, dan sistem akademik yang berbeda. Namun, dukungan komunitas mahasiswa, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), dan warga Indonesia di Kazakhstan turut membantu proses tersebut. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) berperan sebagai ruang saling dukung bagi mahasiswa Indonesia dalam beradaptasi di lingkungan baru.
Saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia di Kazakhstan masih relatif terbatas, sekitar 30 orang, dengan konsentrasi terbanyak di kota Almaty, khususnya di Al-Farabi KazNU. Dalam lingkungan ini, mahasiswa Indonesia berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara yang membuka ruang untuk saling mengenal, sekaligus mendorong pertukaran wawasan, kolaborasi, dan pembentukan jejaring global.
Setiap kali meninggalkan salah satu tempat favorit saya di kampus, yaitu Perpustakaan Al-Farabi, saya selalu melewati patung Abu Nasr Al-Farabi. Ia adalah seorang filsuf abad ke-10 yang lahir di Farab (kini bagian dari Kazakhstan modern) dan dikenal sebagai “guru kedua” setelah Aristoteles. Patung itu mengingatkan saya pada sebuah gagasan yang sering dikaitkan dengannya: “The purpose of knowledge is to lead human beings to perfection”.
Dalam konteks ini, pengalaman belajar di Al-Farabi KazNU tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal, tetapi juga dengan proses membentuk cara pandang yang lebih luas terhadap dunia. Interaksi lintas budaya dan lingkungan akademik internasional memberikan ruang untuk melihat berbagai perspektif yang sebelumnya mungkin belum terjangkau atau terpikirkan.
Pada saat yang sama, pengalaman ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi di kawasan seperti Asia Tengah terus berproses untuk memperkuat kualitas riset, internasionalisasi, serta daya saing global.
Dengan demikian, Al-Farabi KazNU dapat dipahami bukan hanya sebagai destinasi studi, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika transformasi pendidikan tinggi di kawasan Eurasia yang masih terus berkembang.
Bagi pelajar dan akademisi Indonesia, pengalaman ini membuka ruang untuk melihat pendidikan tinggi global dari perspektif yang lebih beragam—tidak lagi semata-mata terpusat pada kawasan destinasi studi utama, tetapi juga mencakup alternatif-alternatif baru yang memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri. Dalam konteks tersebut, Al-Farabi KazNU dapat dilihat sebagai salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan dalam lanskap pendidikan tinggi global yang terus berkembang, bukan sebagai pengganti destinasi utama, tetapi sebagai bagian dari pilihan yang semakin beragam bagi pelajar Indonesia.
Note: tulisan ini disusun dengan masukan akademik dari Oksana Kogut, PhD, Associate Professor Researcher di Higher School of Economics and Business, Al-Farabi KazNU.
