Konten dari Pengguna

Monas: Menara Emas yang Kian Sepi Makna?

Mashuda

Mashuda

Mashuda, mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta. aktif sebagai penulis lepas dan memiliki ketertarikan pada isu literasi media dan digitalisasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mashuda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lapangan Merdeka terletak di pusat kota Jakarta, Indonesia (iStockphoto.com)
zoom-in-whitePerbesar
Lapangan Merdeka terletak di pusat kota Jakarta, Indonesia (iStockphoto.com)

Jakarta punya banyak simbol. Tapi kalau diminta menyebut satu ikon yang benar-benar mewakili ibu kota, kebanyakan dari kita pasti menyebut Monas. Menara setinggi 132 meter ini bukan cuma penanda lokasi, tapi juga simbol perjuangan, kebanggaan nasional, dan saksi bisu berbagai peristiwa sejarah Indonesia. Tapi akhir-akhir ini saya merasa, meskipun Monas masih berdiri megah, makna budaya dan sejarah yang seharusnya kuat justru mulai memudar di mata masyarakat khususnya generasi muda.

Saya pernah datang ke Monas saat masih SD, ikut rombongan sekolah. Dulu rasanya megah sekali, bahkan sedikit menegangkan saat naik ke puncaknya. Tapi beberapa tahun belakangan, ketika saya kembali ke sana, rasanya berbeda. Tempatnya masih luas, ramai, dan bersih, tapi entah kenapa terasa seperti ruang kosong yang kehilangan isi. Banyak pengunjung yang datang hanya untuk piknik atau berfoto, tanpa benar-benar tahu apa isi di dalam Monas, atau mengapa menara ini dibangun sejak era Soekarno.

Ini bukan soal nostalgia, tapi soal bagaimana ruang publik seperti Monas seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tapi juga ruang edukasi budaya. Sayangnya, kesan saya pribadi, hal itu tidak terlalu terasa. Museum di dalam Monas memang masih ada, diorama sejarah juga masih lengkap, tapi kurang dikemas dengan cara yang bisa menarik perhatian generasi sekarang. Padahal kalau dikelola lebih kreatif misalnya lewat teknologi interaktif, audio guide digital, atau tur naratif Monas bisa jadi tempat belajar sejarah yang menyenangkan sekaligus menyentuh.

Bukan cuma dari sisi pengelolaan, menurut saya juga ada tanggung jawab publik di sini. Monas bukan sekadar tempat yang ‘harus dijaga kebersihannya’, tapi juga seharusnya dijaga maknanya. Banyak dari kita hanya melihat Monas sebagai tempat nongkrong murah di pusat kota, bukan sebagai representasi budaya dan nasionalisme. Ketika kita menjauh dari makna, maka lambat laun monumen ini akan kehilangan ruhnya tinggal bentuk tanpa cerita.

Saya sadar, perkembangan zaman membawa perubahan. Tapi seperti halnya revitalisasi Kota Tua Jakarta yang menimbulkan perdebatan antara estetika dan nilai sejarah, Monas juga menghadapi tantangan serupa. Apakah kita ingin menjadikannya sekadar ikon visual yang cocok untuk feed Instagram, atau kita masih peduli menjadikannya ruang hidup bagi edukasi budaya?

Menurut saya, Monas butuh ‘direvitalisasi secara makna’. Artinya, kita perlu upaya untuk menghidupkan kembali narasi-narasi perjuangan yang dulu melatarbelakangi pembangunannya. Generasi muda perlu diajak merasa bahwa Monas bukan sekadar “tugu”, tapi juga “tutur” yang bercerita tentang siapa kita, dan bagaimana bangsa ini berdiri.