Konten dari Pengguna

Bos Toksis? Ini Cara Menyikapinya

Mataharitimoer

Mataharitimoer

penulis, blogger, aktivis literasi digital

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mataharitimoer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia kerja, kadang kita harus berhadapan dengan bos yang toksik. Bayangkan, ada bos yang banyak omong, kalau bicara selalu pakai istilah asing biar terkesan pintar, tapi sebenarnya enggak pernah berkontribusi nyata. Dia terus menuntut anak buahnya untuk bekerja cepat, meski dia sendiri enggak becus.

Bos Toksis? Ini Cara Menyikapinya
zoom-in-whitePerbesar

Jadi, semua orang di sirkel kerja, mulai dari level manajer sampai satpam, sebenarnya sudah paham betapa toksiknya si bos ini. Mereka hanya berpura-pura patuh, mungkin karena takut atau enggak mau hidupnya ribet. Bahkan, di antara rekan-rekan kerja, pasti ada obrolan seru tentang kelakuan bos yang enggak masuk akal ini. Mereka pasti punya time for ghibah.

Secara psikologis, bos seperti ini mungkin merasa insecure dan berusaha menutupi ketidakmampuannya dengan sikap sok tahu. Ahli psikologi dan psikiater umumnya bisa melihat dia dari sudut pandang yang menarik. Mereka bilang, orang seperti ini sering kali menunjukkan ciri-ciri narsisisme. Artinya, dia butuh perhatian dan pengakuan dari orang lain. Dengan banyak omong dan menggebu-gebu, dia coba menutupi ketidakpastian dan ketidakmampuannya dalam pekerjaan.

Psikiater juga mungkin akan menyoroti cara dia berkomunikasi yang dominan. Dia bisa jadi enggak toleran terhadap pendapat lain, dan ini bikin bawahannya merasa tertekan. Semua orang di kantor pasti udah tahu betapa toksiknya dia, tapi takut buat speak up. Tentunya ini bikin suasana kerja jadi stres, burnout, dan penuh tekanan.

Jadi, gimana dong cara menyikapi orang kayak gini?

Tetap bersikap profesional dan jangan terbawa emosi. Berusaha untuk berkomunikasi dengan jelas saat menyampaikan ide, walaupun dia tak bisa diajak diskusi. Anggap saja sedang bicara dengan anak papa yang manja banget.

Lingkungan kerja yang penuh tekanan seperti ini dapat memengaruhi kesehatan mental karyawan. Bisa muncul stres, burnout, dan bahkan masalah kesehatan fisik. Jadi, psikiater biasanya menyarankan untuk membangun sistem dukungan di tempat kerja, seperti saling berbagi cerita dengan rekan kerja atau mencari bantuan profesional. Intinya, menyikapi bos seperti ini emang rada tricky, tapi penting untuk menjaga mental kita dan tetap profesional.