Surat Terbuka untuk Gojek: Hentikan Biaya GoKil

penulis, blogger, aktivis literasi digital
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mataharitimoer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya tanya sama pengguna Gojek, rela bayar aplikasi Gojek setiap order GoFood, GoCar, GoRide, dll? Yakin masih mau pakai kalau setiap pakai kita kena palak? Belum lagi kita dipaksa bayar biaya perjalanan aman+ tanpa persetujuan. Ini namanya biaya GoKil.
Kepada Yth. Manajemen Gojek Indonesia
Saya adalah pengguna Gojek, baik layanan GoCar, GoRide, GoFood, dll. Lewat surat terbuka ini, saya ingin menyampaikan kegelisahan sekaligus kritik terhadap kebijakan biaya tambahan yang diberlakukan Gojek dalam setiap transaksi, terutama menyangkut biaya jasa aplikasi dan biaya Perjalanan Aman+.
Minggu lalu, masih di bulan Juli 2025, saya menggunakan GoCar sebanyak empat kali di wilayah Yogyakarta. Rute yang saya tempuh adalah:
Puskesmas Sumberarum → Srawung Coffee Collective (26,8 km)
Srawung Coffee Collective → Museum Benteng Vredeburg (11 km)
Circle K Malioboro → Sembego (13 km)
Sembego → Puskesmas Sumberarum (29,2 km)
Keempat perjalanan tersebut menggunakan GoCar dengan pembayaran lewat GoPay. Saya sertakan bukti berupa tangkapan layar dari setiap transaksi (lihat gambar di atas). Yang membuat saya terkejut adalah rincian biaya tambahan sebagai berikut:
Total Biaya Tambahan dalam 1 Hari:
Biaya Jasa Aplikasi:
Rp4.000
Rp10.000
Rp10.000
Rp4.500
Total: Rp28.500
Biaya Perjalanan Aman+:
Rp1.000 × 4 perjalanan
Total: Rp4.000
Masalahnya Bukan di Nominal, Tapi Prinsip dan Transparansi
Sebagian orang mungkin akan berkata, “ah cuma segitu.” Tapi mari kita bicara dalam kerangka keadilan dan keterbukaan.
1. Biaya Aplikasi yang Tidak Transparan
Biaya ini muncul secara otomatis, bervariasi (Rp4.000 hingga Rp10.000), dan tidak pernah dijelaskan secara konkret:
Apa manfaatnya bagi konsumen?
Kenapa tarifnya tidak tetap?
Apakah biaya ini berlaku flat di semua wilayah?
Sebagai konsumen, saya merasa seperti membayar “angin”. Bila memang ini bagian dari layanan teknologi, sistem, dan pengembangan aplikasi, kenapa tidak disatukan saja dalam tarif?
Ini baru saya saja yang kena, dalam sehari ada jutaan pengguna Gojek dan satu orang bisa lebih dari satu kali pesan. Wah, tajir sekali penghasilan sehari dari biaya Aplikasi yang tidak transparan dan tidak meminta persetujuan konsumen.
2. Biaya Perjalanan Aman+ Pungutan Sepihak?
Saya tidak pernah diberi pilihan apakah ingin menggunakan asuransi ini atau tidak. Tidak ada tombol “centang” atau “setujui”. Tidak ada informasi resmi soal siapa penyedia asuransinya, bagaimana cara klaim jika terjadi sesuatu, atau apakah saya benar-benar diasuransikan.
Ini seperti membeli minuman dan tiba-tiba ditambah biaya “penutup botol” tanpa saya minta.
Lalu saya pun penasaran, berapa Rupiah yang kalian "palak" dari jutaan konsumen setiap memesan layanan. Wah, ini namanya tarikan GoKil dari Gojek.
Harapan dan Tuntutan Saya
Saya tidak menulis ini karena benci Gojek. Sebaliknya, kalian bisa cek sendiri profil saya di aplikasi. Saya adalah pengguna loyal yang percaya pada teknologi karya anak bangsa. Namun loyalitas tidak boleh buta.
Saya meminta Gojek:
Menjelaskan secara terbuka rincian biaya jasa aplikasi dan menghapus biaya GoKil tersebut karena tidak fair jika untuk memakai aplikasi yang layanannya berbayar, konsumen harus membayar berkali-kali biaya aplikasi.
Menghadirkan opsi opt-in / opt-out untuk Perjalanan Aman+ (bukan auto-charge).
Memberikan hak kontrol kepada konsumen atas layanan yang mereka gunakan.
Mengembalikan prinsip transparansi dan persetujuan eksplisit dalam transaksi digital.
Ekonomi digital yang sehat hanya bisa tumbuh di atas kepercayaan, bukan pemaksaan. Konsumen bukan sapi perah. Kami berhak tahu dan memilih apa yang kami bayar. Semoga surat ini bisa menjadi refleksi dan bahan perbaikan bukan hanya bagi Gojek, tapi juga bagi semua pelaku layanan digital di Indonesia.
Hormat saya,
Mataharitimoer
