Sustainable Development Goals, Antara Ambisi Global dan Kemanusiaan yang Terlupa

Mahasiswa semester 1 S1 Psikologi Universitas Brawijaya
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Matthew William Bonar Sihombing tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dunia melalui PBB pernah menyatukan pikiran untuk bergerak bersama menuju masa depan yang adil dan berkelanjutan. Buah pikiran itu disebut Sustainable Development Goals (SDGs). Sayangnya, menjelang 2030, kita justru dihadapkan dengan kenyataan pahit, dari 169 target SDGs, hanya 35% yang berada di jalur yang benar dan atau menunjukkan perkembangan positif, sementara sebagian lainnya tidak ada perubahan atau bahkan mengalami kemunduran (United Nations, 2025). Pandemi COVID-19, krisis iklim, dan peperangan global marak disebut sebagai penyebab utama terhambatnya SDGs. Namun, apakah pernah terpikir bahwa akar masalahnya bukan hanya peristiwa besar, melainkan juga perilaku manusia sendiri, seperti contohnya korupsi, sikap tidak etis, dan hilangnya empati baik antar bangsa bangsa maupun antar manusia.

Dalam Global Sustainable Development Report 2023, PBB menyatakan bahwa dunia gagal menjalankan SDGs karena ketidakseimbangan moral dan struktural. Teknologi dan ekonomi memang berkembang pesat, tetapi nilai kemanusiaan tenggelam dan tertinggal jauh di belakang. Banyak negara masih fokus pada kepentingan nasional masing-masing, melupakan fakta bahwa SDGs adalah komitmen kolektif seluruh umat manusia. Padahal, tujuh belas tujuan yang ada bukan sekadar daftar target formalitas saja, melainkan bukti nyata niat manusia menjaga kehidupan dan lingkungan demi masa depan generasi berikutnya, dan terus berulang.
Namun sayangnya, sering kali SDGs diperlakukan sebatas formalitas. Ambil contoh, program pemberantasan kemiskinan, tak jarang berhenti pada pemberian bantuan pangan atau uang tunai saja. Padahal, yang jauh lebih penting adalah membangun kapasitas manusia, salah satunya pada aspek psikologisnya, yaitu kemandirian. Masyarakat seharusnya diberikan alat, pelatihan, dan ruang agar bisa mengolah sumber daya sendiri. Karena ketika mereka sudah memahami prosesnya, perubahan itu akan cenderung bertahan lama, bukan hanya sementara.
Sama halnya dalam dimensi pendidikan dan inklusi terhadap sesama. Maraknya kasus perundungan dan intoleransi menunjukkan bahwa empati dan nilai kemanusiaan masih belum sepenuhnya tertanam. Padahal, tiga dimensi utama yang menjadi tujuan utama SDGs adalah ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ketiganya adalah fondasi yang saling bergantung. Jika salah satu diabaikan, besar kemungkinan seluruh sistem akan rapuh.
Selain 3 dimensi itu, kesenjangan pembiayaan (financing gap) juga turut menjadi salah satu tantangan yang serius karena negara-negara berkembang memerlukan investasi sekitar US$4 triliun per tahun (United Nations, 2025). Negara-negara tersebut menghadapi kesulitan akibat keterbatasan sumber daya dan ketimpangan nilai ekonomi global. Disisi lain, tak jarang negara maju terlalu sibuk dengan prioritas domestik mereka, padahal mereka bisa turut andil melalui penyaluran teknologi, pendanaan hijau, dan kerja sama yang adil. Tidak ada pembangunan berkelanjutan jika hanya jalan di satu wilayah dan wilayah lainnya masih tertinggal jauh di belakang.
Dari sudut pandang saya, untuk membuat SDGs bisa jalan dan berpengaruh, dunia perlu berpikir diluar target yang ada. Dibutuhkan gambaran besar yang bisa menjadi penghubung dan dasar dari target lainnya. Seperti contohnya, pendidikan yang merata, etika sosial yang kuat, dan pemberdayaan manusia. Ketika masyarakat sudah memahami alasan mengapa setiap tujuan itu penting, bukan sekadar tulisan dalam dokumen resmi yang harus dikerjakan, maka SDGs tidak lagi menjadi formalitas, melainkan gerakan nyata yang berdasar pada kesadaran bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Selain itu, implementasi SDGs seharusnya lebih berfokus pada penyediaan akses terhadap proses, bukan hanya hasil. Yang dimaksud disini adalah, dibandingkan hanya sekedar memberi bantuan pangan atau uang tunai, lebih baik memastikan masyarakat punya ilmu, alat, dan ruang untuk berekspresi. Karena jika manusia hanya diberi akses pada hasil akhir tanpa memahami input dan prosesnya, perubahan itu tidak akan bertahan lama. Kesadaran diri setiap negara diperlukan karena masa depan tidak bisa dibangun sendirian.
Sebagai generasi muda, kita juga harus turut andil menjaga SDGs. Langkah kecil seperti mengurangi sampah plastik, menghargai keberagaman, dan membangun empati sosial adalah bentuk nyata dari penerapan SDGs dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada akhirnya, keberlanjutan bukan sekadar urusan laporan atau angka statistik, melainkan soal kesadaran manusia menjaga kehidupan bersama.
Mungkin pada 2030 SDGs tidak akan sepenuhnya berhasil, tetapi daripada berlomba lomba mengejar garis terdepan dalam pembangunan, akan lebih baik jika kita tetap berusaha dan peduli terhadap sesama. Karena pembangunan hanya akan bertahan jika kita semua kembali menempatkan kemanusiaan di pusat dari setiap langkah kita.
Daftar Pustaka:
United Nations. (2023). Global Sustainable Development Report 2023. United Nations. https://sdgs.un.org/gsdr/gsdr2023
United Nations. (2025). The Sustainable Development Goals Report 2025. United Nations. https://unstats.un.org/sdgs/report/2025/
