Jadi Tim Kreatif Dadakan: Cerita Mahasiswa Manajemen Magang di Perusahaan Umrah

Saya seorang Mahasiswa aktif Manajemen S1, yang aktif juga mengikuti organisasi kemahasiswaan.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Maula Azzahra Ervita Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awalnya saya membayangkan magang akan berkutat dengan angka dan laporan. Kenyataannya, hari-hari saya diisi timeline video dan desain brosur.
Saya mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Magang ini saya jalani lewat program Magang Berdampak dan Mandiri, dengan konversi 20 SKS, di PT Surya Citra Madani, perusahaan penyelenggara perjalanan umrah.
Tugas di Luar Bayangan
Saya dan seorang rekan magang tidak ditempatkan di satu divisi. Kami mengerjakan tugas kreatif bersama: mengedit video dokumentasi keberangkatan jamaah, mendesain sampul video, membuat brosur paket umrah, hingga merancang banner acara keberangkatan.
Satu Proyek yang Paling Berkesan
Bagian yang paling berkesan justru terjadi di luar layar komputer. Saya berkesempatan mengantar dan menjemput jamaah, membuat konten bersama mereka, dan merekam testimoni perjalanan umrah.
Momen yang paling saya ingat adalah saat mengantar jamaah. Sekitar pukul 03.00 dini hari, saya sudah harus bangun dan bersiap agar jamaah bisa berangkat tepat waktu. Di titik kumpul, saya melihat keluarga datang mengantar jamaah menuju perjalanan umrah. Saya terharu menyaksikannya, karena bagi mereka hari itu adalah awal dari perjalanan yang telah lama dinantikan.
Saat membuat video bersama jamaah, saya mengajak mereka menjawab yel-yel: saya menyebut "SCM", lalu mereka menjawab "Mabrur bersama Muhammadiyah". Jawabannya terdengar pelan. Mungkin karena hari masih pagi dan tenaga belum terkumpul, atau karena sebagian besar jamaah sudah berusia lanjut dan hanya sedikit yang muda. Akhirnya saya menaikkan suara sendiri agar suasana lebih hidup.
Setelah perjalanan selesai, saya membuat testimoni saat penjemputan jamaah. Saya menanyakan kesan mereka selama umrah, lalu mereka bercerita tentang perjalanan yang telah dijalani. Saya juga mewawancarai pembimbing ibadah tentang cara mereka membimbing jamaah dan kesan mereka selama perjalanan.
Dari rangkaian ini, saya belajar beberapa hal. Disiplin waktu bukan sekadar teori manajemen, karena keterlambatan kecil dari saya bisa memengaruhi keberangkatan banyak orang. Saya belajar menyesuaikan ekspektasi dengan kondisi orang yang saya hadapi. Saya juga belajar bahwa pelayanan dilihat dari dua sisi, yaitu pengalaman jamaah dan kerja pembimbing, dan bahwa pelayanan bukan hanya soal jadwal dan dokumen, tetapi juga soal hadir dan membuat jamaah merasa dihargai.
Manajemen Tetap Terpakai
Awalnya tugas ini terasa jauh dari bangku kuliah. Ternyata ilmu manajemen sangat terpakai: mengatur waktu pengerjaan sesuai jadwal keberangkatan, berkoordinasi dengan rekan kerja, dan menjaga hasil tetap konsisten dengan standar perusahaan.
Pelajaran Sejauh Ini
Dunia kerja tidak selalu sesuai ekspektasi, dan di situlah proses belajarnya. Kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan berpikir kreatif ternyata sama pentingnya dengan kemampuan teknis manajemen.
Ketiganya terasa nyata di lapangan. Saya beradaptasi dengan jadwal dini hari dan suasana jamaah yang tidak selalu sesuai harapan, bekerja sama dengan rekan magang untuk menyelesaikan tugas, dan berpikir kreatif agar cerita jamaah bisa dikemas menjadi konten. Dari sini saya belajar bahwa ilmu manajemen paling terasa ketika dipraktikkan langsung.
