Konten dari Pengguna

Kitab Kuning dan Google Scholar: Dilema Intelektual Mahasiswa Al-Azhar

Maulana Aditya Rizkia Rahman

Maulana Aditya Rizkia Rahman

Seorang Mahasiswa Universitas Al Azhar Mesir dan penulis lepas yang aktif membahas isu pendidikan, sosial dan budaya. Menggabungkan tradisi intelektual dengan pemikiran modern untuk mendorong literasi dan pembangunan SDM

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulana Aditya Rizkia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI (DALL·E oleh OpenAI) pada Agustus 2025, tidak diambil dari sumber pihak ketiga."
zoom-in-whitePerbesar
"Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI (DALL·E oleh OpenAI) pada Agustus 2025, tidak diambil dari sumber pihak ketiga."

Era Digital

Di era digital yang serba cepat ini, dunia keilmuan mengalami perubahan besar. Akses terhadap ilmu pengetahuan semakin mudah, cukup dengan mengetikkan kata kunci di mesin pencari seperti Google Scholar, berbagai jurnal ilmiah dari seluruh dunia dapat ditemukan. Namun, di tengah modernitas tersebut, masih ada ruang suci yang dijaga dan diwariskan secara turun-temurun: kitab kuning. Dua dunia ini—kitab kuning dan Google Scholar—seolah berada pada dua kutub yang berbeda, namun kini keduanya hadir bersamaan di hadapan mahasiswa Universitas Al-Azhar, terutama mereka yang berasal dari Indonesia. Maka muncullah dilema intelektual: apakah harus tetap mendalami tradisi atau mengejar relevansi kontemporer?

Kitab kuning, atau dikenal pula sebagai kutub at-turats, adalah karya ulama klasik yang ditulis dalam bahasa Arab gundul (tanpa harakat) dan penuh dengan kosakata fiqih, nahwu, ushul, hingga tasawuf. Ia bukan sekadar buku, melainkan simbol transmisi keilmuan Islam selama berabad-abad. Di pesantren-pesantren Indonesia, kitab kuning adalah alat utama dalam membentuk karakter dan pemikiran santri. Sementara itu, Google Scholar adalah platform akademik modern yang menghimpun jurnal ilmiah dan artikel dari berbagai disiplin ilmu. Ini adalah pintu gerbang ke dunia sains, teknologi, humaniora, dan riset kontemporer. Dua entitas ini mewakili dua pendekatan terhadap ilmu pengetahuan: tradisional dan modern.

Sebagai mahasiswa Al-Azhar yang juga bagian dari diaspora keilmuan Indonesia, saya mengalami sendiri bagaimana dua dunia ini saling tarik menarik dalam proses belajar. Di pagi hari, saya bisa tenggelam dalam pembahasan al-Majmu’ karya Imam Nawawi bersama syekh Mesir yang penuh kharisma, dengan gaya pengajaran penuh hikmah. Lalu di malam harinya, saya menyusun tulisan ilmiah dengan kutipan dari jurnal-jurnal peer-reviewed yang saya akses lewat Google Scholar. Keduanya sama-sama berharga, tapi ada perbedaan mendasar dalam paradigma berpikir yang mereka bangun.

Kitab kuning mengajarkan adab, ketekunan, dan proses menapaki ilmu secara bertahap. Tak ada yang instan. Untuk memahami satu halaman saja, butuh waktu bertahun-tahun membangun fondasi ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan balaghah. Sedangkan Google Scholar menawarkan kemudahan—hasil riset teranyar bisa langsung diakses, meski tidak jarang disertai paywall atau keterbatasan akses. Dalam hal ini, kitab kuning seperti menuntut kesabaran spiritual, sedang Google Scholar menjanjikan efisiensi intelektual.

Tentu, tidak adil jika keduanya dipertentangkan secara hitam-putih. Tetapi kenyataannya, banyak mahasiswa Al-Azhar—terutama dari Indonesia—yang kebingungan memilih arah intelektual mereka. Apakah harus fokus pada khazanah klasik agar tetap dianggap sebagai “azhari tulen”? Atau harus melibatkan diri dalam diskusi akademik global, agar tidak tertinggal dalam percaturan ilmu kontemporer?

Dilema ini muncul bukan hanya karena perbedaan pendekatan, tetapi juga karena tekanan identitas. Seorang mahasiswa Indonesia di Al-Azhar seringkali dihadapkan pada ekspektasi ganda: dari satu sisi, ia dituntut menguasai ilmu klasik, karena dianggap sebagai penerus warisan ulama. Dari sisi lain, ia juga diminta menjadi intelektual modern yang mampu menyumbang pemikiran baru di dunia akademik Indonesia. Kombinasi ekspektasi ini bisa menjadi beban, jika tidak dikelola dengan bijak.

Saya pernah berdiskusi dengan beberapa teman mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang merasa terjebak dalam romantisme “kitab kuning”, hingga lupa mengembangkan kemampuan menulis akademik yang relevan untuk dunia ilmiah masa kini. Ada pula yang terlalu fokus pada Google Scholar, hingga lupa bahwa ilmu keislaman memiliki tradisi panjang yang tidak selalu bisa dijelaskan dalam kerangka riset barat. Salah satu teman berkata, “Aku takut kehilangan ruh keilmuan Islam jika terlalu sibuk mengejar jurnal.” Kalimat itu membekas dalam ingatan saya.

Namun di sisi lain, ada pula mereka yang mulai menemukan titik temu: mengkaji kitab kuning dengan disiplin, lalu menulis hasil pengkajiannya dalam format akademik modern. Ini menurut saya jalan tengah yang bijak—bukan menjembatani dua dunia, tapi merajutnya dalam satu keutuhan. Misalnya, mengangkat tema-tema seperti maqashid syariah atau fikih lingkungan dari perspektif klasik dan membandingkannya dengan hasil riset kontemporer. Atau menulis jurnal yang berbasis pada syarah kitab kuning tertentu dan menjadikannya relevan dalam konteks kekinian.

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi: tradisi dan modernitas tidak harus dipertentangkan. Yang diperlukan adalah sikap kritis dan integratif. Kitab kuning bukanlah beban, melainkan warisan. Google Scholar bukan ancaman, tapi alat. Keduanya bisa menjadi teman seperjalanan dalam menempuh jalan ilmu yang panjang. Tantangannya bukan pada platform atau media, tetapi pada kesiapan kita sebagai penuntut ilmu untuk memilah, mengolah, dan menyajikan gagasan dengan jujur dan bertanggung jawab.

Al-Azhar, sebagai universitas Islam tertua di dunia, memberi peluang besar bagi mahasiswa untuk menimba ilmu dalam suasana yang unik: tradisional tapi tetap terbuka. Jika dimanfaatkan dengan baik, ini bisa menjadi titik awal lahirnya generasi intelektual muslim yang memiliki akar kuat dalam tradisi, namun juga bersayap lebar dalam menjelajahi pengetahuan modern. Mahasiswa Indonesia punya potensi besar untuk menjadi jembatan ini—selama mereka tidak terseret arus ekstremisme berpikir: baik ekstrem dalam romantisme masa lalu, maupun ekstrem dalam glorifikasi ilmu barat yang serba instan.

Saya percaya bahwa masa depan keilmuan Islam, terutama di Indonesia, akan banyak ditentukan oleh mereka yang mampu membaca Fath al-Mu’in dengan penuh penghayatan, dan di saat yang sama mampu menulis dalam jurnal bereputasi internasional tentang dampak fatwa terhadap kebijakan publik. Kemampuan semacam ini tidak muncul begitu saja, tetapi melalui proses panjang: berdialog, merenung, membuat kesalahan, dan terus belajar.

Maka, di tengah gegap gempita era digital, mahasiswa Al-Azhar ditantang untuk tidak hanya menjadi penghafal, tetapi juga penafsir. Tidak hanya menjadi pembaca kitab kuning, tetapi juga penulis pemikiran baru. Tidak cukup sekadar mengutip Google Scholar, tapi mampu membangun gagasan sendiri yang bersumber dari kedalaman tradisi.

Akhirnya, dilema intelektual antara kitab kuning dan Google Scholar bukan soal memilih salah satu, tapi soal bagaimana menghidupkan keduanya dalam satu napas perjuangan ilmiah. Karena ilmu bukan hanya soal tahu, tapi juga soal adab, hikmah, dan keberkahan dalam mencarinya.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip ungkapan ulama besar Al-Azhar, Syekh Ali Jum’ah, “Ilmu yang tidak diamalkan akan membeku. Ilmu yang tidak disampaikan akan hilang. Tapi ilmu yang disambungkan dengan zaman akan menjadi cahaya.” Kitab kuning dan Google Scholar, meski lahir dari zaman yang berbeda, sebenarnya sama-sama menyimpan cahaya. Tinggal bagaimana kita, sebagai mahasiswa dan pencari ilmu, memilih untuk berjalan membawa dua lentera itu—bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk peradaban.