Gen Z Mulai Bisnis dari TikTok, tapi Ilmu Sosial yang Menentukan Mereka Bertahan

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Andri Wahid Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang mahasiswa semester tiga membuka TikTok Shop dari kamar kosnya. Dalam dua minggu, produknya viral. Pesanan membludak. Ia merasa sudah menjadi pengusaha sukses
Tiga bulan kemudian, tokonya tutup.
Bukan karena produknya jelek. Bukan karena algoritmanya berubah. Tapi karena ia tidak tahu cara mempertahankan kepercayaan pelanggan, tidak memahami dinamika komunitas pembelinya, dan tidak punya strategi ketika tren berganti.
Ia paham cara membuat konten. Tapi ia tidak paham manusia.
Generasi yang Paling Cepat Memulai, Paling Cepat Menyerah
E-commerce Indonesia diproyeksikan tumbuh dari USD 90,35 miliar pada 2025 ke USD 104,21 miliar di 2026, dengan 70% lebih UMKM sudah memanfaatkan marketplace seperti TikTok Shop sebagai channel penjualan utama. Di tengah pertumbuhan itu, Gen Z adalah kelompok yang paling antusias terjun dengan modal nol, cukup ponsel dan koneksi internet.
Program afiliasi TikTok Shop semakin dilirik generasi muda karena tidak memerlukan modal sama sekali. Barrier masuk yang nyaris tidak ada membuat siapapun bisa memulai. Tapi justru di situlah jebakannya dengan kemudahan memulai menciptakan ilusi bahwa bisnis hanya soal konten dan algoritma, padahal tidak.
Yang Tidak Diajarkan TikTok
TikTok bisa mengajarkan cara membuat hook dalam tiga detik pertama. TikTok bisa menunjukkan tren produk yang sedang naik daun. Tapi TikTok tidak akan pernah bisa mengajarkan satu hal yang justru paling menentukan kelangsungan bisnis: bagaimana memahami dan membangun hubungan dengan manusia.
Di sinilah ilmu pengetahuan sosial masuk bukan sebagai mata pelajaran yang membosankan, tapi sebagai fondasi yang menentukan apakah bisnis bertahan atau runtuh.
Sosiologi mengajarkan bahwa kepercayaan dibangun dari interaksi yang konsisten, bukan dari satu konten viral. Psikologi sosial menjelaskan mengapa pembeli yang merasa didengar akan menjadi pelanggan setia, sementara yang merasa diperlakukan sebagai angka akan pergi tanpa permisi. Antropologi budaya membantu memahami mengapa produk yang laris di kota satu belum tentu diterima di kota lainnya.
Pengetahuan-pengetahuan itu tidak ada di FYP manapun.
Modal Sosial: Aset Bisnis yang Paling Sering Diabaikan
Hampir semua UMKM ingin eksis di media sosial, tetapi tidak semuanya paham cara membuat konten yang menarik dan "jualan tanpa terlihat jualan". Kalimat terakhir itu jualan tanpa terlihat jualan sebenarnya adalah prinsip ilmu sosial yang paling tua: orang membeli dari orang yang mereka percaya dan sukai, bukan dari siapapun yang paling keras berteriak.
Inilah yang disebut modal sosial dalam ilmu sosial jaringan kepercayaan, hubungan timbal balik, dan reputasi yang dibangun secara konsisten dari waktu ke waktu. Bagi pelaku bisnis Gen Z, modal sosial bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan budget iklan. Ia dibangun dari cara merespons komplain dengan sabar, dari konsistensi kualitas produk, dari kejujuran ketika ada pesanan yang terlambat.
Bisnis yang dibangun di atas modal sosial yang kuat tidak akan runtuh hanya karena algoritma TikTok berubah. Karena pelanggannya tidak mengikuti bisnis itu karena tren tapi mereka mengikutinya karena percaya.
Ketika Tren Berganti, yang Bertahan adalah yang Punya Komunitas
Social commerce unggul dalam skalabilitas, tapi kepercayaannya sangat bergantung pada seberapa kuat brand dan komunitas yang dibangun. Kata kunci itu adalah komunitas dan bukan istilah marketing semata. Ia adalah konsep inti ilmu sosial yang sudah dipelajari jauh sebelum era digital: manusia adalah makhluk sosial yang bergerak dalam kelompok, dan kelompok yang kuat adalah kelompok yang punya identitas, nilai bersama, dab rasa memiliki.
Gen Z yang berhasil membangun bisnis jangka panjang bukan hanya mereka yang punya konten paling kreatif. Mereka adalah yang berhasil membangun komunitas ruang di mana pelanggan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar transaksi jual beli.
Itu bukan soal algoritma. Itu soal memahami manusia.
Penutup
Mahasiswa semester tiga yang menutup tokonya tadi bukan gagal karena tidak berbakat. Ia gagal karena tidak ada yang memberitahunya bahwa bisnis bukan hanya tentang produk dan platform tetapi ia tentang manusia, kepercayaan, dan hubungan.
Ilmu sosial bukan pelajaran kuno yang tidak relevan di era digital. Justru sebaliknya di tengah banjir konten dan persaingan yang makin ketat, pemahaman tentang perilaku manusia, dinamika komunitas, dan modal sosial adalah pembeda paling nyata antara bisnis yang bertahan dan bisnis yang hanya viral sesaat.
TikTok bisa membawa siapapun ke puncak dalam semalam. Tetapi ilmu sosial juga perlu untuk bisa membuat mereka tetap bertahan di sana.
