Konten dari Pengguna

Jika Bentor Legal, Maka Bentor Online Adalah Inovasi yang Cocok untuk Perkotaan

Mohammad Maulana Iqbal

Mohammad Maulana Iqbal

Alumnus program studi Sosiologi Universitas Negeri Surabaya, Seorang Santri dan Penulis buku Risalah Kaum Intelektual

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohammad Maulana Iqbal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pangkalan tukang becak di perkotaan
zoom-in-whitePerbesar
Pangkalan tukang becak di perkotaan

Tulisan ini berawal dari pengalaman saya, yang pernah melakukan penelitian lapangan pada kehidupan tukang becak di kota Surabaya. Penelitian lapangan saya ini bukan berarti karena saya gabut, kurang kerjaan, melainkan karena memang saya pada saat itu sedang mengerjakan tugas mata kuliah sosiologi perkotaan.

Kebetulan saya melakukan penelitian di sebuah pangkalan tukang becak, tepatnya di salah satu terminal bus dan angkot di Surabaya. Untungnya lagi, saya dapat bertemu langsung pada pimpinan perkumpulan tukang becak di sana. Sehingga saya bisa tanya-tanya lebih mendalam.

Saya beserta rekan saya berbincang-bincang cukup panjang dengan para tukang becak di sana. Mulai dari hal dasar perihal dunia perbecakan, seperti jenis-jenis becak, hingga berbincang-bincang mengenai problem sosial yang sedang mereka alami.

Sembari berbincang-bincang, saya mengamati kondisi sekitar pangkalan tukang becak. Tiba-tiba, mata saya ketika itu tertarik dengan salah satu jenis becak, yakni bentor, alias becak motor. Becak ini sudah tidak bertenaga manusia lagi, melainkan bertenaga mesin motor dan beberapa ada yang bertenaga diesel. Sehingga kerangka tubuh depannya seperti becak, namun kerangka belakangnya seperti motor.

Kelebihan bentor sendiri, tentunya dapat menempuh jarak yang lebih jauh jika dibandingkan dengan becak konvensional bertenaga manusia. Kalau dikalkulasi, jarak tempuhnya dapat disetarakan dengan kendaraan sepeda motor pada umumnya.

Namun, sayangnya, bentor ini masih berstatus ilegal, alias masih belum mendapatkan izin operasional oleh pihak berwajib. Alasannya, kalau menurut penuturan tukang becak yang saya temui, karena kendaraan bentor ini memang masih belum diuji keamanannya oleh pihak berwajib.

Sehingga bentor masih belum tercantum dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Oleh karena itu pula, menurut pengakuan tukang becak di sana, bentor sering menjadi sasaran empuk penggusuran paksa oleh pihak berwajib. Pasalnya, bentor berstatus ilegal dan dianggap melanggar hukum.

Lebih sialnya lagi, di tengah kemajuan teknologi ini, para tukang becak di perkotaan seperti Surabaya, sering berkeluh kesah karena ia kalah bersaing dengan ojek online. Para penumpang lebih memilih ojek online, dibandingkan dengan naik bentor.

Alhasil, bentor paling bisa hanya sebagai jasa angkut barang belanjaan para pedagang di kota. Pasalnya, kelebihan bentor jika dibandingkan ojek sepeda motor, yakni mampu memuat banyak barang. Salah satunya pedagang makanan di daerah kos saya Ketintang, Surabaya. Beliau sering sekali mencari bentor ke jalan raya, hanya untuk mengangkut barang belanjaannya yang super buanyak itu.

Andaikan saja, bentor sudah legal, pasti berinovasi untuk menciptakan bentor online adalah inovasi yang menjanjikan. Bagaimana tidak menjanjikan, selain melestarikan kearifan lokal khas Nusantara, menurut saya justru banyak kelebihan yang akan di dapatkan. Misal dari sisi konsumennya, para pedagang seperti yang saya jelaskan sebelumnya nggak akan repot-repot mencari bentor ke jalan raya terlebih dahulu, apalagi ke pangkalannya dulu, tinggal klik-klik, bentor sudah di depan rumah.

Bentor online tentu akan menjadi pilihan prioritas dari pada ojek online. Pasalnya, bentor memiliki fitur yang nggak dimiliki ojek biasa, yakni memiliki atap becak sebagai penutup kepala. Atap becak ini yang sangat bermanfaat di kota-kota besar, terutama yang bersuhu ekstrem layaknya di Surabaya.

Kalau saya disuruh milih angkutan online yang dapat menghindari terik panas matahari, antara mobil online dan bentor online, maka tentunya saya akan memilih bentor online. Ya, sudah dapat dipastikan tarif bentor online tentunya akan lebih bersahabat dengan kantong mahasiswa, dibandingkan mobil online.

Di sisi pihak bentornya sendiri, tentu sangat diuntungkan sekali. Selain dapat bersaing secara sehat dengan ojek online, tentunya pendapatannya akan lebih tinggi dibandingkan mekanisme mangkal konvensional yang sebelumnya dilakukan. Tinggal memantau HP, kring-kring, orderan pun memanggil.

Jika ada ojek online, kenapa tidak pada bentor online juga? Di sisi lain keduanya memiliki kelebihan masing-masing, dan dapat bersaing secara sehat juga. Tapi, ini kalau bentor sudah legal, ya.