Konten dari Pengguna

Asal usul Desa Dadapan dan Sosok Pendirinya

Maulana Fardan Alhamdi

Maulana Fardan Alhamdi

Mahasiswa Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulana Fardan Alhamdi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gapura selamat datang Desa Dadapan, sumber: Maulana FA
zoom-in-whitePerbesar
Gapura selamat datang Desa Dadapan, sumber: Maulana FA

Desa Dadapan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Desa yang terletak di kaki gunung semeru ini memiliki hawa yang sejuk dan suasana yang asri. Desa Dadapan juga terkenal dengan pembudidayaan bibit ikan nila.

Selain terkenal dengan pembudidayaan bibit ikan nilanya, desa ini ternyata memiliki sejarah yang panjang dan kaya akan nilai-nilai spiritual serta budaya lokal.

Asal Usul Desa Dadapan dan Sosok Pendirinya

Desa Dadapan diperkirakan telah ada sejak sebelum masa penjajahan Jepang, yakni sekitar abad ke-17 (sekitar tahun 1600-an).

Pada masa itu, wilayah desa ini masih berupa hutan lebat yang belum banyak dihuni manusia. Suasana desa kala itu diyakini sangat sakral, dipenuhi oleh pepohonan besar dan semak belukar. Belum banyak rumah penduduk yang berdiri dan suasana alami serta mistis sangat terasa. Masyarakat mempercayai bahwa wilayah tersebut dijaga oleh sosok gaib yang sangat dihormati, yakni Mbah Mertojoyo, yang juga dikenal dengan nama Mbah Wali Singojoyo.

Punden Mbah Mertojoyo Desa Dadapan, sumber: Maulana FA

Mbah Mertojoyo adalah tokoh spiritual yang diyakini sebagai Bedah Krawang (babat alas) sekaligus Danyang (penjaga gaib desa). Menurut cerita yang hidup di tengah masyarakat, dahulu beliau sering menampakkan diri dalam wujud harimau putih. Kehadirannya dipercaya sebagai pertanda akan terjadi suatu peristiwa penting di desa, baik berupa kabar baik maupun kejadian buruk.

Selain kisah spiritual, proses pembukaan wilayah desa juga menjadi bagian penting dalam sejarah Dadapan. Pada sekitar tahun 1825, Mbah Mertojoyo memulai proses pembukaan wilayah desa. Beliau membuka hutan yang sangat lebat di bagian utara dan timur desa, lalu melanjutkan ke bagian barat. Dalam proses membuka hutan tersebut, beliau sempat kehilangan arah karena lebatnya pepohonan. Namun, dengan tekad dan kekuatan spiritualnya, beliau berhasil membuka jalur melalui hutan yang dikenal dengan sebutan Babatan Hutan Amat Dariman.

Daerah hasil babatan tersebut kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan selatan. Salah satu bagian babatan itu dipenuhi oleh pohon dadap, sejenis pohon yang tumbuh subur di daerah tersebut. Karena banyaknya pohon dadap di wilayah itu, masyarakat menyebut daerah tersebut sebagai babatan dadap. Dalam perkembangan tutur lisan, nama "dadap" kemudian berubah penyebutannya menjadi Dadapan karena pelafalan "dadap" dirasa sulit oleh sebagian orang. Nama Dadapan inilah yang kemudian digunakan secara resmi sebagai nama Desa Dadapan.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menetap dan membangun kehidupan di wilayah tersebut. Mereka hidup berdampingan dengan alam, menjaga tradisi, serta menghormati nilai-nilai leluhur yang diwariskan oleh Mbah Mertojoyo. Desa ini perlahan berkembang menjadi wilayah pemukiman yang terorganisir dan akhirnya diakui secara administratif.

Dengan semakin berkembangnya pemerintahan dan penyesuaian terhadap kebijakan daerah, Desa Dadapan saat ini terbagi menjadi tiga wilayah dusun, yaitu Dusun Dadapan, Dusun Pagergunung, Dusun Jangkung.

Nama Kepala Desa

  1. Aris Bardan (1900 - 1927)

  2. Mu’ani (1927 - 1931)

  3. Watri (1931 - 1932)

  4. Bas Singgorejo (1932 - 1942)

  5. Reso Winoto (1942 - 1966)

  6. Wari Rejo Utomo (1966 - 1998)

  7. M. Thohir Basya, BA (1998 - 2007)

  8. Moh. Tohir, S. Pdl (2007 - 2013)

  9. Abdul Malik (2013 - 2019)

  10. Nur Rohmat Sri Sanjaya, S. E. (2019 - Sekarang)

Desa Dadapan memiliki sejarah yang cukup menarik dibalik pendiriannya. Akan tetapi, sejarah tersebut mungkin kurang diketahui oleh masyarakat desa tersebut. Pengenalan sejarah desa kepada anak anak sejak dini melalui cerita rakyat kedepannya, mungkin akan berguna untuk pelestarian sejarah desa.