Konten dari Pengguna

Gaji Naik, Tapi Kenapa Rasanya Masih Segitu-gitu Aja?

Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Gemini AI

Teman saya baru saja naik gaji. Dia traktir kami makan malam untuk merayakannya, cerita panjang lebar soal negosiasi sama atasannya, dan malam itu dia benar-benar terlihat lega, seperti beban di pundaknya sedikit berkurang. Tapi tiga bulan kemudian, saat saya tanya kabarnya, jawabannya justru, "Anehnya ya, walau gaji naik, kayaknya duit tetap aja pas-pasan tiap akhir bulan. Kayak nggak ngerasa efeknya."

Saya penasaran, jadi saya coba tanya lebih detail. Ternyata gajinya naik sekitar tujuh persen tahun ini. Kedengarannya lumayan. Tapi begitu saya cek data inflasi tahunan yang dirilis pemerintah untuk periode yang sama, angkanya juga ada di kisaran yang tidak jauh berbeda. Artinya, kenaikan gaji teman saya itu, secara nilai riil—setelah memperhitungkan kenaikan harga barang dan jasa—hampir tidak menambah daya belinya sama sekali. Dia merasa lebih kaya di atas kertas, tapi kemampuannya membeli barang dan jasa yang sama nyaris tidak bergeser.

Fenomena ini, dalam ekonomi makro, punya nama: money illusion, atau ilusi uang. Konsepnya sederhana tapi menarik—orang cenderung menilai kekayaan dan kesejahteraan mereka berdasarkan angka nominal (berapa rupiah yang mereka terima), bukan nilai riil (berapa banyak barang dan jasa yang bisa mereka beli dengan uang itu). Ketika gaji naik 7 persen sementara harga-harga juga naik 7 persen, secara riil kita sebenarnya jalan di tempat. Tapi karena angka di slip gaji terlihat lebih besar, otak kita terlanjur merasa lebih makmur, meski kenyataannya tidak.

Yang membuat ilusi ini berbahaya adalah dampaknya pada keputusan finansial sehari-hari. Karena merasa "lebih kaya," orang jadi lebih longgar membelanjakan uang—beli barang yang sebelumnya ditunda, upgrade gaya hidup sedikit, atau menambah cicilan baru. Padahal kalau dihitung ulang secara riil, kemampuan finansial mereka tidak benar-benar bertambah. Efeknya baru terasa belakangan, biasanya saat tagihan menumpuk atau tabungan tidak bertambah seperti yang dibayangkan, dan orang jadi bingung sendiri: "Padahal gaji sudah naik, kok bisa masih kurang terus?"

Ilusi ini juga yang membuat perdebatan tahunan soal kenaikan upah minimum jadi terasa berulang dan tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Setiap tahun, ada pengumuman kenaikan UMP dengan persentase tertentu, dan itu sering dirayakan sebagai kabar baik bagi pekerja. Tapi kalau kenaikan itu besarnya kurang lebih sama dengan laju inflasi tahun tersebut, secara riil pekerja sebenarnya tidak mengalami peningkatan daya beli yang berarti. Yang berubah cuma angka di slip gaji, bukan jumlah barang yang bisa mereka bawa pulang dari pasar. Sayangnya, narasi publik jarang membedakan dua hal ini dengan jelas—kenaikan nominal dirayakan seolah otomatis berarti kenaikan kesejahteraan riil, padahal keduanya bisa jadi dua hal yang sangat berbeda.

Ada satu hal lagi yang menarik dari ilusi ini: perusahaan dan pembuat kebijakan sebenarnya cukup diuntungkan oleh cara berpikir seperti ini, sadar atau tidak. Menaikkan gaji nominal secara psikologis terasa lebih "murah hati" dan mudah diterima pekerja dibanding, katanya, mengendalikan inflasi supaya daya beli riil naik dengan sendirinya tanpa perlu menaikkan angka gaji setinggi itu. Ilusi uang membuat kenaikan nominal terasa cukup untuk meredam ketidakpuasan, meski secara riil kondisi pekerja tidak banyak berubah.

Saya tidak bilang kenaikan gaji itu tidak berarti apa-apa—tentu saja tetap penting, apalagi kalau kenaikannya melampaui inflasi. Yang ingin saya soroti adalah cara kita, sebagai pekerja maupun sebagai publik yang membaca berita ekonomi, sering berhenti di angka nominal tanpa bertanya lebih jauh: naiknya berapa persen riil, setelah dikurangi inflasi? Karena kalau kita terus terjebak merayakan angka nominal semata, kita bisa terus merasa "sudah lebih baik," padahal secara riil kita cuma berlari di tempat, sambil bertanya-tanya kenapa uang di dompet tidak pernah terasa cukup.

Jadi lain kali dengar kabar gaji naik, atau UMP naik sekian persen, coba tanya satu pertanyaan sederhana sebelum ikut senang: naik segitu, sebenarnya lebih tinggi atau lebih rendah dari inflasi tahun ini?o