Konten dari Pengguna

Pemanfaatan Teknologi Digital Tingkatkan Literasi di Kalangan Generasi Muda

Maulia Pangesti

Maulia Pangesti

saya seorang mahasiswi yang sambil bekerja

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulia Pangesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber: pexels.com

Di tengah era digital yang terus berkembang, pemanfaatan teknologi kini menjadi salah satu strategi utama dalam meningkatkan literasi, terutama di kalangan generasi muda. Berbagai inovasi berbasis digital, mulai dari aplikasi membaca interaktif, platform e-book, hingga kecerdasan buatan, telah diintegrasikan dalam program literasi nasional maupun lokal untuk menjawab tantangan rendahnya minat baca di Indonesia.

Salah satu terobosan terbaru datang dari Kemendikbudristek melalui program Gerakan Literasi Digital Sekolah (GLDS) yang resmi diluncurkan awal tahun ini. Program tersebut memanfaatkan aplikasi pembelajaran daring yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan literasi baca, tulis, dan digital siswa sekolah dasar hingga menengah.

Aplikasi Cerdas dan Platform Interaktif

Salah satu aplikasi yang menjadi sorotan adalah "LiteraAI", platform kecerdasan buatan yang mampu menyesuaikan tingkat bacaan dengan kemampuan pengguna. Aplikasi ini memungkinkan siswa mendapat rekomendasi buku digital berdasarkan minat dan tingkat pemahaman mereka, serta menyediakan fitur kuis interaktif untuk menguji daya serap bacaan.

Selain itu, perpustakaan digital seperti iPusnas dan Perpusnas Digital Library juga mengalami peningkatan jumlah pengguna secara signifikan dalam dua tahun terakhir. Data dari Perpustakaan Nasional mencatat lonjakan unduhan buku digital hingga 35% pada 2024, terutama dari kategori fiksi remaja dan literatur populer.

Menjembatani Kesenjangan Literasi Digital

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya sirna. Kesenjangan akses internet di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) masih menjadi penghambat pemerataan literasi digital. Menanggapi hal tersebut, sejumlah inisiatif lokal seperti Mobil Pintar Digital dan Perpustakaan Keliling Berbasis Android mulai dikembangkan oleh pemerintah daerah dan komunitas pegiat literasi.

Di Nusa Tenggara Timur, misalnya, Komunitas Rumah Baca Bintang Timur meluncurkan program e-Literasi Desa, di mana anak-anak dapat mengakses buku digital melalui tablet yang disediakan secara bergiliran di pos baca desa.

Kolaborasi Pemerintah, Swasta, dan Komunitas

Peningkatan literasi melalui teknologi tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah mendorong kolaborasi dengan sektor swasta dan komunitas untuk memperluas jangkauan dan efektivitas program. Beberapa perusahaan teknologi seperti Google, Microsoft, dan Ruangguru turut serta dalam menyediakan konten edukatif gratis dan akses pelatihan bagi guru dan siswa.

Pengamat pendidikan digital, Ahmad Rizky, menilai bahwa teknologi adalah alat, namun yang terpenting adalah pola pikir pengguna.