Konten dari Pengguna

Bahasa Sebagai Alat Kekuasaan dalam Dunia Politik

Maulida Hardiana

Maulida Hardiana

Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulida Hardiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penguasa menggunakan bahasa sebagai alat untuk kekuasaan dalam politik. Sumber foto: @pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Penguasa menggunakan bahasa sebagai alat untuk kekuasaan dalam politik. Sumber foto: @pexels.com

Di dunia politik, bahasa bukan hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi saja, tetapi juga sebagai alat kekuasaan yang sangat strategis. Pemilihan kata-kata yang diucapkan oleh seorang politisi, narasi yang dibuat oleh media sampai dengan slogan-slogan kampanye di ruang publik. Semuanya bermuatkan kekuasaan yang dapat membentuk sudut pandang, mempengaruhi opini, dan bahkan bisa mengatur perilaku masyarakat. Bahasa dapat menjadi wadah untuk menciptakan realitas sosial dan politik, membentuk kesadaran kelompok atau perseorangan, hingga akhirnya dapat menentukan siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai.

Bahasa dalam politik dikonstruksi dengan penuh pertimbangan dan pasti memiliki tujuan tertentu, seperti untuk membingkai isu, mengarahkan pemahaman publik pada narasi yang menguntungkan pihak tertentu, hingga menutupi konflik dengan cara yang licik. Politisi yang pastinya memiliki keahlian dalam retorika dapat memanfaatkan bahasa untuk membangun image, menyembunyikan kontradiksi, atau dapat pula menyesuaikan dengan situasi politik yang sedang berkembang. Misalnya, pidato-pidato dalam kampanye yang dibuat untuk menyentuh emosi rakyat, berisikan janji-janji yang dikemas dengan bahasa, yang biasanya digunakan oleh masyarakat sehari-hari.

Bahasa menjadi senjata yang efektif untuk merebut perhatian publik, walaupun kenyataannya saat praktik tidak selalu selaras dengan kebijakan yang akan dijalankan setelah kekuasaan berhasil diraih. Media massa juga mempunyai peran yang sangat besar dalam memperkuat fungsi bahasa sebagai alat kekuasaan, dengan adanya pemilihan kata, penyusunan judul berita dan framing isu, media dapat membatasi ataupun memperluas ruang interpretasi publik terhadap peristiwa politik. Bahasa dapat berubah menjadi alat dominasi yang bekerja secara halus, tapi tetap efektif, misalnya saat penguasa memanfaatkan media untuk menyebarkan narasi-narasi. Dengan demikian, bahasa bukan alat yang netral, bahasa bisa menjadi medan pertarungan makna.

Oleh karena itu, bahasa mendapatkan kekuasaan itu sendiri. Siapa yang mampu menguasai bahasa, maka dialah yang dapat menguasai pemikiran dan emosi publik. Dalam dunia politik, bahasa digunakan sebagai alat untuk memengaruhi, mengontrol, bahkan menindas opini para publik dan bagi setiap warga negara. Kekuatan politik tidak hanya digerakkan oleh kebijakan, tapi juga oleh kata-kata.

Penulis:

Dhiya Turfa Pesona Cahyani

Maulida Hardiana