Konten dari Pengguna

Menguasai Prinsip Kerjasama Grice: Kunci Komunikasi Efektif dan Terarah

Maulida Hardiana

Maulida Hardiana

Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulida Hardiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang penutur dan mitra tutur sedang berkomunikasi. Sumber foto: @pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Seorang penutur dan mitra tutur sedang berkomunikasi. Sumber foto: @pexels.com

Berkomunikasi tentu harus sesuai dengan aturan-aturan yang ada, agar komunikasi dapat tersampaikan dengan jelas, dan tidak ada ambiguitas, sehingga menciptakan sebuah komunikasi yang terarah dan ada tujuan. Komunikasi juga memiliki sebuah prinsip, agar hal tersebut dapat ter-realisasikan, seperti prinsip kerjasama.

Prinsip kerjasama adalah prinsip-prinsip yang dikerjakan dan dilakukan saat bertutur dengan penutur ataupun mitra tutur, menggunakan prinsip kerjasama ini diharapkan agar tuturan dapat terjalin secara berkesinambungan dan memiliki kontribusi antara penutur dengan mitra tutur. Kerjasama tersebut harus direalisasikan kedalam sebuah percakapan, agar percakapan tersebut dapat terjalin. Prinsip kerjasama ini dilakukan didalam tuturan agar, tuturan terebut dapat jelas, sesuai dengan konteks, tidak ambigu dan memiliki tujuan agar percakapan tersebut lancar, seperti halnya yang dikatakan oleh Grice, bahwa dalam percakapan seorang penutur harus mematuhi aturan prinsip kerjasama, yaitu terbagi menjadi 4 maksim.

Pertama, Maksim Kuantitas (Maxim of Quantity)

Pada maksim yang pertama ini, seorang penutur dan mitra tutur harus memberikan informasi secukupnya sesuai dengan apa yang dibutuhkan didalam percakapan. Informasi yang diberikan tidak berlebihan, seinformatif mungkin, dan tidak melebihi informasi yang dibutuhkan. Apabila seorang penutur atau mitra tutur memberikan informasi yang berlebihan dari yang seharusnya dikatakan, penutur atau mitra tutur tersebut dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas ini.

Contoh:

A: Kamu kuliah di mana?

B: Aku kuliah di Universitas Pamulang.

Contoh tersebut tepat untuk dikatakan sebagai maksim kuantitas, karena memberikan informasi yang cukup sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan dalam percakapan.

Kedua, Maksim Kualitas (Maxim of Quality)

Pada bagian ini, yaitu maksim kualitas seorang penutur atau mitra tutur harus memberikan informasi yang nyata, benar adanya, dan fakta sesuai dengan apa yang ada. Fakta-fakta tersebut harus disertai dengan bukti yang jelas, tidak boleh mengada-ngada, atau menggunakan kata kemungkinan. Pada maksim kualitas ini, mitra tutur harus memberikan sebuah percakapan yang bersifat benar adanya, seperti yang ada di dalam lapangan. Apabila bertutur langsung, kasar dan tidak disertai dengan bukti dan fakta yang jelas adanya, dapat dikatakan tidak mematuhi maksim kualitas ini

Contoh:

A: Sekarang kamu kuliah di mana?

B: Aku sekarang kuliah di Universitas Pamulang

Hal tersebut menunjukkan bagaimana maksim kualitas, seorang penutur yang memberikan secara jelas bahwa ia kuliah di mana, tanpa mengada-ngada.

Ketiga, Maksim Relevansi (Maxim of Relevance)

Pada maksim relevansi ini, mitra tutur harus melakukan kerjasama dalam percakapan yang baik, agar komunikasi dapat terjalin. Mitra tutur harus memiliki perkataan yang ada relevansinya dalam percakapan, dan hendaknya kata tersebut memiliki kontribusi dalam sebuah percakapan yang sedang dikomunikasikan. Apabila tuturan yang tidak memiliki kontribusi di dalam percakapan, dikatakan tidak mematuhi maksim relevansi ini.

Contoh:

A: Apakah kamu tau di mana Auditorium Universitas Pamulang?

B: Oh ya, berada di Lantai 8

Percakapan pada contoh tersebut terlihat menggunakan maksim relevansi, karena mitra tutur memberikam kontribusi terhadap sebuah percakapan.

Keempat, Maksim Cara (Maxim of Manner)

Pada maksim cara ini, mitra tutur harus menyatakan suatu informasi dengan jelas, ringkas, tidak kabur dan tanpa ambiguitas.

Contoh:

A: Hari ini matkul apa?

B: Matkul pragmatik

Pada contoh tersebut diperlihatkan sebuah maksim cara, yaitu terlihat dengan jelas, langsung dan tanpa ambiguitas.

Jadi, prinsip kerjasama ini dilakukan dalam sebuah tuturan agar penutur dan mitra tutur dapat melakukan komunikasi yang baik dan terjalin, agar tujuan dalam sebuah tuturan dapat tersampaikan dan menghasilkan sebuah makna.