Konten dari Pengguna

Relasi Komik dengan Ideologi Negara

Maulida Hardiana

Maulida Hardiana

Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulida Hardiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi komik. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi komik. Foto: Pexels

Relasi antara komik Indonesia pada era Orde Baru dengan ideologi negara merupakan topik yang menarik untuk dikaji, karena komik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian nilai, norma, dan bahkan propaganda. Di era orde baru ini pemerintah memberikan kontrol yang ketat, seperti media yang diawasi, kritik yang tajam dibatasi, pesan-pesan ideologis tidak boleh disampaikan secara langsung, sehingga pada era tersebut komik adalah media hiburan yang paling aman, dan dijadikan sebagai alat penyebaran nilai yang ada pada negara.

Di era orde baru tersebut banyak para komikus atau orang-orang yang ingin menyampaikan pandangannya dikemas menjadi sebuah cerita lalu dibuat menjadi komik, sehingga ideologi-ideologi yang ingin disampaikan oleh para kritikus atau komikus dapat ditampilkan secara halus. Pada saat itu komik adalah salah satu cara dan alat yang bisa digunakan untuk menyampaikan sebuah ideologis. Komik dikatakan seperti itu, karena komik dapat menampilkan realitas sosial secara sederhana, dan banyak mengajarkan kepatuhan dan moral.

Pada era orde baru, pemerintah ketat dalam menciptakan stabilitas terhadap gerakan politik. Gerakan pemerintah tersebut salah satunya dengan cara mengontrol narasi yang beredar di masyarakat. Komik dijadikan sebagai media yang populer karena dapat dengan mudah diakses oleh berbagai usia. Banyak komik Indonesia pada masa orde baru yang menampilkan tokoh-tokoh protagonis yang banyak mencerminkan kepatuhan terhadap negara, contohnya seperti karakter yang patuh, jujur, dan bekerja keras. Maka dari itu, komik pada masa orde baru sangat sejalan dengan negara yang membentuk “Manusia Pembangunan” yang sesuai dengan visi Orde Baru. Cerita dalam komik juga banyak menghindari tema-tema yang sensitif pada era saat itu, seperti kritik terhadap pemerintahan.

Dalam industri komik juga terdapat sensor-sensor yang cukup ketat. Pemerintah negara mengawasi isi dari media-media agar tidak lawan arah terhadap ideologi pada masa era orde baru. Jadi, para penulis pada saat itu harus benar-benar menyesuaikan isi dari karya mereka agar dapat diterbitkan oleh para penerbit, sehingga ruang-ruang kreativitas yang dimilki oleh para penulis menjadi sangat terbatas dan sulit, tetapi kabar baiknya para penulis bisa lebih menyampaikan pesan tersirat secara detail dan lebih kreatif lagi.

Tema-tema komik yang terbit pada era orde baru kebanyakan bertemakan kepahlawanan dan cerita rakyat, seperti tokoh pahlawan nasional dan tokoh-tokoh yang melegenda dengan karakter yang cinta kepada tanah air. Isi ceritanya itu biasanya tentang si baik dan si jahat, dan biasanya konfliknya selalu dimenangkan oleh kebaikan, yang biasanya tokohnya itu mencerminkan kepatuhan, disiplin, dan cinta tanah air. Jadi, komik dapat dikatakan sebagai bagian dari salah satu alat untuk membentuk kesadaran masyarakat.

Walaupun negara memiliki aturan yang ketat dan selalu mengontrol media, para penulis komik pada era orde baru tetap banyak memiliki cara untuk menyisipkan kritik sosial secara tersirat dan halus. Cerita-cerita dan gambar komik yang ditampilkan beberapa menggunakan esensi humor, simbol-simbol yang mencerminkan realitas sosial yang miring pada era orde baru.

Namun, karena adanya sensor ketat dari negara, tema dan gaya dalam komik juga kebanyakan seragam atau sama isinya, baik dari cerita maupun pesan moralnya, jadi tidak unik dan kreatif, sehingga komik pada era orde baru kurang beragam dibandingkan saat era reformasi, yang mana kebebasan berpendapat dan berekspresi lebih terbuka.

Secara keseluruhan, komik Indonesia pada era orde baru memilik relasi yang sangat kuat terhadap ideologi negara. Jadi, komik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat untuk menyelipkan kritik dan nilai-nilai yang tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah. Dengan sensor yang ketat dari pemerintahn menjadikan komik sebagai media dan alat untuk pendidikan, walaupun dengan mempertahankan para kreatifitas penuls dan menyuarakan realitas sosial secara tersirat.

Maka dari itu, komik pada era orde baru ini bisa dibilang sebagai produk dari negara dan individu yang kreatif, sehingga mencerminkan bagaimana relasi dapat menjadikan media popular sebagai kekuasan dan kebebasan berekspresi dalam konteks tertentu.