Sekolah Rakyat: Bukan Hanya Angka, Tetapi Harapan

Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari maulida hida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, keadaan ekonomi masih menjadi salah satu penghalang bagi sebagian masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum saja terkadang masih menjadi tantangan. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah melalui program Sekolah Rakyat berupaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Apa itu Sekolah Rakyat? Pertanyaan tersebut mungkin muncul bagi sebagian orang yang belum mengetahui program ini. Sekolah Rakyat adalah satuan pendidikan formal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang berbasis asrama. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 120 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Sekolah Rakyat, penyelenggaraan program ini ditanggung oleh pemerintah. Program ini ditujukan untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Sekolah Rakyat terus berkembang di berbagai wilayah Indonesia, tersebar di beberapa daerah seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku. Pada Januari 2026, terdapat 166 titik Sekolah Rakyat.
Perkembangan tersebut berlanjut hingga September 2026. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat telah beroperasi di 182 titik dan menampung lebih dari 44.000 siswa. Lebih dari 90 titik di antaranya telah menggunakan gedung permanen.
Bertambahnya jumlah Sekolah Rakyat mengindikasikan bahwa program ini tidak diperluas. Akses pendidikan gratis sangat penting bagi keluarga yang ekonominya lemah. Namun, menurut saya perluasan program ini menimbulkan pertanyaan mengenai jaminan akses bagi sasaran utama.
Perhatian tidak hanya perlu diberikan pada penambahan titik Sekolah Rakyat, tetapi juga pada proses penentuan siapa yang benar-benar berhak menjadi penerima. Anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem harus diprioritaskan sesuai dengan tujuan program. Di sisi lain, peningkatan jumlah sekolah juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pembelajaran, fasilitas yang memadai, serta ketersediaan tenaga pendidik yang cukup.
Pada akhirnya, Sekolah Rakyat tidak hanya tentang seberapa banyak titik yang berhasil dibuka. Yang tidak kalah penting adalah memastikan kesempatan tersebut benar-benar sampai kepada anak-anak yang sejak awal menjadi tujuan program. Oleh karena itu, pengawasan dan evaluasi diperlukan agar penerima manfaat Sekolah Rakyat tetap tepat sasaran dan pelaksanaannya berjalan dengan baik.
