Kenapa Mahasiswa Sekarang Lebih Suka Belajar dari TikTok dan YouTube?

mahasiswa manajemen universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Maulida Yoga Yudistira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar bagi mahasiswa sekarang tidak selalu berarti duduk di depan buku atau membaca materi kuliah berlembar-lembar. Ketika ingin memahami sesuatu, banyak mahasiswa justru membuka TikTok atau YouTube terlebih dahulu.
Mulai dari mencari penjelasan tentang materi kuliah, tutorial menggunakan aplikasi, tips mengerjakan tugas, sampai pembahasan soal ujian, semuanya bisa ditemukan di media sosial. Bahkan, terkadang penjelasan yang sulit dipahami saat di kelas justru menjadi lebih mudah ketika melihat video singkat di TikTok atau penjelasan di YouTube.
Menurut saya, salah satu alasan mahasiswa lebih tertarik belajar melalui kedua platform tersebut adalah karena cara penyampaiannya lebih sederhana. Materi yang cukup rumit dapat dijelaskan menggunakan bahasa sehari-hari, gambar, animasi, atau contoh yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.
TikTok misalnya, memiliki karakter video yang singkat. Mahasiswa bisa mendapatkan gambaran awal mengenai suatu topik hanya dalam beberapa menit. Hal ini cocok bagi mereka yang ingin mendapatkan penjelasan secara cepat tanpa harus membaca materi yang panjang.
Sementara itu, YouTube memiliki kelebihan dari sisi durasi dan pembahasan yang lebih lengkap. Kalau TikTok bisa digunakan untuk memahami inti suatu materi, YouTube dapat membantu ketika mahasiswa ingin mempelajari suatu topik secara lebih mendalam.
Selain praktis, kedua platform tersebut juga membuat kegiatan belajar terasa lebih santai. Mahasiswa tidak selalu merasa seperti sedang belajar ketika menonton video edukasi. Mereka bisa belajar sambil duduk santai, menggunakan handphone, bahkan ketika sedang berada di perjalanan.
Namun, belajar melalui media sosial juga memiliki kekurangan. Tidak semua informasi yang muncul di TikTok dan YouTube dapat langsung dianggap benar. Siapa pun bisa membuat konten dan menyampaikan informasi, sehingga mahasiswa tetap perlu memeriksa kembali sumber yang digunakan.
Masalah lainnya adalah algoritma media sosial. Ketika awalnya ingin mencari video mengenai materi kuliah, mahasiswa bisa saja berakhir menonton konten hiburan selama berjam-jam. Niat awalnya belajar, tetapi akhirnya tugas tetap belum dikerjakan.
Karena itu, menurut saya TikTok dan YouTube sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti buku, jurnal, atau materi dari dosen. Media sosial lebih tepat digunakan sebagai salah satu sumber tambahan untuk membantu memahami materi.
Pada akhirnya, cara mahasiswa belajar memang ikut berubah seiring perkembangan teknologi. Buku dan ruang kelas tetap memiliki peran penting, tetapi media digital memberikan pilihan baru yang lebih fleksibel.
Belajar tidak lagi selalu harus dilakukan dengan cara yang sama. Selama mahasiswa mampu memilih sumber yang kredibel dan tidak mudah menerima informasi begitu saja, TikTok dan YouTube justru bisa menjadi teman belajar yang cukup membantu.
Mungkin sekarang pertanyaannya bukan lagi “Kenapa mahasiswa belajar dari TikTok dan YouTube?,” tetapi “Bagaimana mahasiswa bisa menggunakan TikTok dan YouTube dengan lebih bijak untuk belajar?”
