Konten dari Pengguna

Mahasiswa Kekinian: Mengikuti Tren atau Mencari Identitas Diri?

Maulida Yoga Yudistira

Maulida Yoga Yudistira

mahasiswa manajemen universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulida Yoga Yudistira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar diambil dari ai
zoom-in-whitePerbesar
gambar diambil dari ai

Menjadi mahasiswa zaman sekarang rasanya tidak cukup hanya dengan kuliah, mengerjakan tugas, lalu pulang. Ada banyak hal lain yang ikut menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa, mulai dari mengikuti tren fashion, nongkrong di coffee shop, menggunakan gadget terbaru, sampai aktif membuat konten di media sosial.

Media sosial seperti TikTok dan Instagram membuat tren berkembang dengan sangat cepat. Sesuatu yang hari ini dianggap biasa, beberapa hari kemudian bisa menjadi tren yang diikuti banyak mahasiswa. Mulai dari tempat nongkrong yang sedang viral, gaya berpakaian, makanan yang sedang populer, hingga cara seseorang menampilkan kehidupannya di media sosial.

Lalu, apakah mahasiswa mengikuti tren hanya karena ingin terlihat kekinian?

Menurut saya, tidak selalu.

Mengikuti tren sebenarnya bisa menjadi salah satu cara mahasiswa mencari dan menunjukkan identitas dirinya. Misalnya, ada mahasiswa yang suka dengan fashion dan menunjukkan dirinya melalui outfit. Ada juga yang lebih suka dunia otomotif, olahraga, musik, fotografi, atau kuliner. Dari hal-hal tersebut, seseorang bisa menunjukkan apa yang mereka sukai dan bagaimana mereka ingin dikenal oleh orang lain.

Namun, media sosial terkadang membuat batas antara “suka” dan “ikut-ikutan” menjadi tidak jelas. Ketika melihat banyak teman mengunjungi tempat tertentu, menggunakan barang tertentu, atau mengikuti tren tertentu, muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama.

Apalagi ketika kehidupan orang lain di media sosial terlihat lebih menarik. Ada yang setiap minggu nongkrong di tempat yang bagus, membeli barang baru, atau mengikuti berbagai kegiatan. Tanpa sadar, kita bisa membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang terlihat di media sosial.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan.

Menurut saya, mengikuti tren bukanlah sesuatu yang salah. Justru dengan mengikuti perkembangan zaman, mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman baru dan menemukan berbagai hal yang sesuai dengan minatnya. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang merasa harus mengikuti semua tren hanya agar tidak dianggap ketinggalan.

Mahasiswa juga perlu memahami kemampuan dirinya sendiri. Tidak semua tren harus diikuti, apalagi jika harus memaksakan kondisi keuangan. Nongkrong bersama teman boleh, membeli pakaian yang disukai juga boleh, dan mengikuti tren media sosial juga tidak masalah. Tetapi semuanya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa kekinian bukan berarti harus memiliki semua hal yang sedang tren. Menjadi kekinian juga bisa berarti mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Setiap mahasiswa memiliki cara masing-masing untuk menunjukkan dirinya. Ada yang aktif di organisasi, ada yang fokus pada akademik, ada yang membangun bisnis, ada yang berkarya di media sosial, dan ada juga yang lebih nyaman menjalani kehidupan dengan sederhana.

Jadi, mengikuti tren atau mencari identitas diri? Mungkin keduanya bisa berjalan bersama. Tren bisa menjadi bagian dari proses seseorang mengenal dirinya sendiri. Namun, keputusan untuk mengikuti sebuah tren sebaiknya datang dari keinginan pribadi, bukan hanya karena takut tertinggal dari orang lain.

Karena pada akhirnya, menjadi diri sendiri tetap lebih penting daripada sekadar terlihat kekinian.