Benarkah Permen Karet yang Tertelan akan Menempel dan Menyumbat Usus?

Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB University
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari maulidanuras tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Permen karet adalah produk manis yang dapat dikunyah dan memiliki kemampuan unik untuk mengembangkan gelembung. Teksturnya yang empuk dan lengket, serta ragam warna dan rasa, menjadikannya pilihan permen favorit di berbagai kalangan.
Permen karet terdiri atas bahan dasar permen karet dan bahan tambahan pangan. Bahan baku terdiri dari bahan kunyah (masticatory/chewable), terpene resin, pemlastis (softener), dan pengisi (filler) (BPOM 2019). Bahan tambahan pangan yang digunakan antara lain pemanis buatan, perisa, pewarna, pengatur keasaman, dan antioksidan.
Bahan kunyah adalah polimer yang menyediakan elastisitas dan mempertahankan sifat chewability, berasal dari sumber alami atau sintetik. Bahan kunyah atau gum base ini yang menyebabkan tekstur lengket pada permen karet. Kombinasi dari bahan-bahan tersebut memberikan permen karet tekstur lengket yang khas dan memberikan pengalaman mengunyah yang menyenangkan.
Konsumsi permen karet memiliki berbagai tujuan, mulai dari kesenangan hingga manfaat kesehatan mulut. Komposisi permen karet dapat berbeda sesuai dengan tujuan konsumsi.
Permen karet biasa umumnya mengandung gula, gum base (mengandung antioksidan BHT), sirup, glukosa, pemanis buatan sorbitol, gliserin, pengatur keasaman, perisa, dan pewarna karosen.
Meskipun permen karet terbuat dari bahan yang mirip dengan karet, banyak orang percaya bahwa permen karet tidak boleh tertelan dan akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang serius. Namun, sensasi mengunyah yang menyenangkan kadang membuat orang tidak sengaja menelannya.
Kejadian permen karet tertelan baik secara tidak sengaja maupun sengaja sering kali kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Biasanya, anak-anak kecil lah yang banyak melapor tidak sengaja tertelan permen karet.
Saat masih di mulut, permen karet mengalami proses pencernaan seperti makanan lainnya, yaitu air liur akan diekskresikan dan enzim mulai mencerna bahan-bahan yang lebih larut dalam permen karet, seperti gula, dan rasa-rasa lain yang dimiliki permen karet tersebut. Sementara permen karetnya sendiri masih dalam kondisi utuh dan kenyal.
Ketika tidak sengaja tertelan, sejatinya tubuh kita akan memperlakukan gumpalan permen karet tersebut dengan cara yang sama seperti memperlakukan benda lain yang tidak dapat dicerna. Permen karet akan kehilangan daya lengketnya ketika masuk ke tubuh.
Permen karet lalu masuk melalui kerongkongan dan menuju ke lambung. Seperti yang sudah disebutkan di atas, permen karet terdiri dari gum base yang tidak dapat dicerna, seperti lateks, lilin, polimer sintetik, elastomer, kopolimer, dan lainnya (Satari et al. 2020).
Maka, permen karet ini akan tetap utuh ketika berada di lambung. Setelah dari lambung, permen karet masuk ke usus halus. Nutrisi dan komponen-komponen lain yang dapat dicerna akan diproses. Salah satunya yaitu proses penyerapan glukosa di usus.
Glukosa menjadi komposisi permen karet yang dapat dicerna oleh tubuh. Gromova et al. (2021) menyatakan bahwa secara umum, pencernaan glukosa yang terdapat di lumen sangat bergantung dengan konsentrasinya.
Glukosa dengan konsentrasi rendah (kurang dari 30 mM) akan dibantu penyerapannya oleh Na+ glucose cotransporter (SGLT 1). Transportasi glukosa ini tergolong sebagai transpor aktif. SGLT 1 akan mentranspor glukosa melewati brush border membrane. Kemudian, GLUT 2 akan membantu transpor glukosa untuk masuk ke membran basolateral dengan mekanisme difusi terfasilitasi. Selanjutnya glukosa dapat masuk ke aliran darah.
Apabila glukosa dalam lumen usus halus memiliki konsentrasi tinggi (lebih dari 30 mM), maka setidaknya terdapat tiga mekanisme penyerapan yang digunakan, meliputi difusi terfasilitasi, transport aktif, dan transport paraseluler.
Difusi terfasilitasi melibatkan GLUT 2, sedangkan transpor aktif melibatkan SGLT 1 dan GLUT 2. SGLT 1 transporter merupakan bagian dari family sodium-glucose cotransporters SLCA 5. Transporter ini banyak ditemukan di membran brush border pada enterosit usus halus.
SGLT 1 mentranspor glukosa dan ion Na+ dengan perbandingan 1:2. Driving force transpor ini tercipta dari gradien konsentrasi ion Na+ di sepanjang membran brush border. Enzim Na+-K+ ATPase yang terdapat pada membran basolateral memiliki kemampuan untuk memompa Na+, sehingga ion tersebut dapat keluar dari sel, bersamaan dengan glukosa.
Pada konsentrasi tinggi, glukosa juga dapat ditranspor melalui mekanisme paraseluler. Dalam mekanisme ini, glukosa akan melalui celah-celah sempit di antara sel epitel. Pada kondisi ini, absorpsi glukosa pada usus halus sejalan dengan peningkatan absorpsi air.
Tiga mekanisme tersebut di atas membuat glukosa lebih cepat terserap dan diedarkan dalam darah. Adapun mekanisme penyerapan glukosa dari sel lumen usus halus dalam 2 konsentrasi berbeda terdapat pada gambar berikut
Pada akhirnya, permen karet akan mencapai usus besar dan kemudian diekskresikan melalui feses dalam bentuk yang masih utuh.
Proses ini biasanya memakan waktu beberapa hari tergantung kecepatan metabolisme sistem pencernaan tiap individu.
Maka, pada dasarnya, peristiwa tertelan permen karet tidaklah berbahaya bagi tubuh. Tidak akan menempel pada usus dan tidak pula menyumbat usus.
Namun, ketika permen karet tersebut tertelan dalam jumlah yang banyak, dapat menimbulkan bezoar. Bezoar diartikan sebagai kumpulan bahan padat yang tidak dapat dicerna yang ditemukan di saluran gastrointestinal. Bezoar dapat disebabkan oleh bahan makanan dan non makanan, seperti rambut, obat-obatan, serat nabati, dan lainnya.
Salah satu penyebab bezoar juga dapat berasal dari permen karet. Iheonunekwu et al. (2023) melaporkan terdapat kasus anak kecil berumur 5 tahun yang mengeluh sakit perut dan diare sehingga harus dilarikan ke unit gawat darurat setelah di hari sebelumnya ia menelan permen karet dalam jumlah banyak (40 pcs permen karet). Alhasil tindakan medis pun dilakukan untuk mengambil bezoar tersebut dengan cara endoskopi.
Jadi, ketika permen karet tertelan, tubuh sejatinya akan memperlakukannya seperti benda lain yang tidak dapat dicerna, dan permen karet akan dikeluarkan melalui feses dalam bentuk utuh.
Meskipun menelan permen karet umumnya tidak berbahaya, konsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan bezoar, yang memerlukan intervensi medis.
Oleh karena itu, penting untuk menghindari menelan permen karet dalam jumlah banyak untuk mencegah potensi komplikasi kesehatan.
Ditulis oleh: Esaka Juan Cessa, Maulida Nur Astriyani, Rahmat Dhani Tri Wijaya
Referensi
[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2019. Pedoman spesifikasi dan penggunaan bahan dasar permen karet.
Gromova LV, Fetissov SV, Gruzdkov AA. 2021. Mechanisms of glucose absorption in the small intestine in health and metabolic diseases and their role in appetite regulation. Nutrient. 13(2474):1-18.
Iheonunekwu C, Jackson C, Weichler K, Emihe ON, Simon EL. 2023. Chewing gum bezoar in a pediatric patient. JEM Reports. 2:100036.
Satari L, Guillén A, Vidal-Verdú À, Porcar M. 2020. The wasted chewing gum bacteriome. Scientific Reports. 10(1):16846.
