Konten dari Pengguna

Filsafat? Bagaimana Filsafat Membantu Permasalahan Kita?

Putri Maulidiyah

Putri Maulidiyah

Mahasiswa psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Maulidiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak, sih, merasa kalau persoalan hidup kita makin hari malah semakin kompleks? Kadang kerjaan tiba-tiba menumpuk banget terus banyak pikiran, konflik batin yang bikin overthinking, sampai bingung akan jati diri sendiri. Bahkan, untuk nonton serial drama yang lagi kita suka, nih, dan udah masuk watchlist jadi terasa nggak menarik lagi karena permasalahan yang lagi kita hadapin.

Permasalahan yang semakin kompleks ini bukan terbatas pada skala mikro saja, tetapi permasalahan-permasalahan ini juga terjadi dalam skala makro atau universal, seperti climate change, hilangnya moralitas, hingga kesenjangan sosial.

Photo by Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Pixabay

Yuk, kenalan lebih jauh dengan filsafat. Filsafat lebih dari sekadar pemikiran kuno dan jadul, lho! Filsafat juga bukan cuma instrumen analitis dan sebatas teoretis saja, tetapi filsafat dapat memberikan kita pemahaman lebih dalam terkait permasalahan-permasalahan yang penuh kompleksitas. Penasaran? Ayo, simak pembahasannya!

Filsafat?

Filsafat atau philosophy secara etimologis berasal dari dua kata Yunani, yaitu philos (love) dan sophos (wisdom) yang berarti "love of wisdom". Mencintai kebijaksanaan berarti memiliki hasrat untuk mencari, memahami, dan mengimplementasikan pengetahuan yang bermanfaat. Mencintai kebijaksanaan juga berarti terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang pengetahuan dan mengajak untuk mendalami pemahaman konsep-konsep seperti eksistensialisme, estetika, dan etika secara logis. Filsafat bertujuan untuk memahami daripada mengungkap jawaban sebenarnya atas pertanyaan-pertanyaan filosofis.

Filsafat lahir ketika individu mulai mempertanyakan sifat dasar eksistensi hingga mencari jawaban atas pertanyaan tentang tempat mereka di dalamnya. Pertanyaan ini sering kali muncul sebagai respons terhadap absensi yang dirasakan dalam penjelasan agama atau budaya, yang mendorong individu untuk mengembangkan sistem pemikiran mereka sendiri dalam memahami dunia.

Cabang Ilmu Filsafat

Untuk membuat pembahasan ilmu dan pendekatan yang lebih sistematis, filsafat dibagi menjadi beberapa bidang atau cabang studi.

  1. Ontologi. Philosophical study of being, ontologi merupakan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ada atau tidaknya suatu hal tertentu. Ontologi merupakan metode untuk menggambarkan karakteristik dari suatu subjek dan bagaimana karakteristik-karakteristik tersebut berhubungan dengan definisi istilah yang menggambarkan antar entitas atau subjek dalam bidang tersebut (defining). Ilmu ontologi merupakan cabang ilmu yang berurusan dengan konseptual abstrak serta relations of being. Ontologi dapat membantu kita untuk memahami suatu hakikat tertentu karena ontologi memastikan konsistensi dari data. Ini membantu untuk mencegah adanya ambiguitas serta inkosistensi data.

  2. Epistemologi. Epistimologi merupakan cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan ruang lingkup pengetahuan. Cabang ilmu ini berkaitan tentang bagaimana kita mengetahui apa yang kita ketahui, apa yang membuat suatu belief atau keyakinan dapat dibenarkan, dan bagaimana kita dapat percaya juga yakin akan kebenaran pengetahuan kita. Hal ini esensial dikarenakan memiliki pemahaman tentang validitas dan kebenaran akan pengetahuan kita dapat membantu untuk mengembangkan pemahaman yang lebih luas juga lebih baik akan lingkungan seikitar.

  3. Aksiologi. Aksiologi berkaitan dengan pembahasan suatu nilai atau value tertentu. Aksiologi kaitannya erat dengan etika dan estetika, di mana etika berfokus pada prinsip-prinsip moralitas dan estetika pada seni dan keindahan. Ini melibatkan kategorisasi hal-hal seperti baik atau buruk. Aksiologi dapat membantu kita untuk memahami kenapa individu dapat menentukan beberapa pilihan dan value memengaruhi aksi mereka. Dengan mengeksaminasi berbagai nilai dan kriteria, aksiologi dapat membantu kita menyusun suatu framework untuk menjadi moral kompas hingga memahami alasan di balik perilaku manusia.

So, How Philosophy Help Us?

Lalu, gimana, sih, filsafat dapat berkontribusi untuk membantu dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada?

Photo by Pixabay
  1. Creative Thinking. Berpikir kreatif merupakan kemampuan untuk menciptakan ide, inovasi, dan hasil yang positif berdasarkan hasil dari abstraksi pemikiran. Berpikir kreatif melibatkan fleksibilitas pemikiran, ekplorasi teoretis, dan realitas. Filsafat dapat membantu untuk menumbuhkan pemikiran kreatif dengan mendorong individu untuk mengasat berpikir secara abstrak yang mengarah pada perumusan ide dan projeksi baru. Dengan berfokus pada cara berpikir hipotesis atau 'seolah-olah', filsafat dapat mendorong pendekatan terhadap berbagai masalah dan memungkinkan individu untuk melihat situasi masalah dari perspektif yang baru.

  2. Critical Thinking. Berpikir kritis melibatkan kemampuan analisis sehingga dapat menemukan titik kesimpulan yang masuk akal berdasarkan aturan-aturan berpikir logika yang sistematis. Dalam filsafat sendiri, filsafat dikenal dengan "seni bertanya" karena filsafat merupakan proses berpikir kritis (mengevaluasi sesuatu secara objektif), reflektif (merefleksikan atau memikirkan kembali), dan rasional (berdasarkan sistematika logika). Suatu studi melalui program pendidikan guru awal (initial teacher) di Kolombia meneliti bahwa mempelajari filsafat ternyata memiliki dampak positif terhadap hasil belajar siswa dalam critical reading. Studi ini juga menemukan bahwa mahasiswa di program filsafat memiliki nilai membaca kritis jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa di bidang lain. Ini menunjukkan bahwa program filsafat mungkin memiliki efek positif pada keterampilan berpikir kritis dan kemampuan kognitif.

  3. Ethical Considerations. Aspek pertimbangan etis dalam filsafat sifatnya esensial dikarenakan aspek etika diperlukan dalam memahami prinsip moral dalam implementasi teori dan ide dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa etika ini penting? Dikarenakan etika menggenggam nilai-nilai dan juga prinsip dasar fundamental yang dipegang teguh. Ketika kita menerapkan pemikiran kritis dan juga kreatif yang abstrak, kita perlu guide agar keputusan yang kita ambil dapat dipertanggung jawabkan.

REFERENSI

Bertens, K. (2018). Apa itu Filsafat? Dalam K. Bertens, J. Ohoitimur, & M. Dua (Eds.), Pengantar Filsafat (hlm. 29-60). Penerbit Kanisius.

Farieta, A., & Delprato, M. (2024). The effect of philosophy on critical reading: Evidence from initial teacher education in Colombia. International Journal of Educational Development, 104, 102974. https://doi.org/10.1016/j.ijedudev.2023.102974

Hannon, M., & Nguyen, J. (2022). Understanding philosophy. Inquiry, 1–37. https://doi.org/10.1080/0020174x.2022.2146186.

Hofweber, T. (2023, March 13). Logic and Ontology (Stanford Encyclopedia of Philosophy). Plato Standford Edu. https://plato.stanford.edu/entries/logic-ontology/#Onto

Hołub, G., & Duchliński, P. (2016). How philosophy can help in creative thinking. Creativity Studies, 9(2), 104–115. https://doi.org/10.3846/23450479.2016.1241834

Steup, M., & Neta, R. (2020, April 11). Epistemology (Stanford Encyclopedia of Philosophy). https://plato.stanford.edu/entries/epistemology/

Whistler, D. (2022). The experience of reading philosophy. Frontiers in Psychology, 13. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1019681.