Konten dari Pengguna

Sering Rebahan, Mahasiswa ini Raih Best Paper Konferensi Terbesar di Indonesia

Maulidya Putri Aji

Maulidya Putri Aji

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulidya Putri Aji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ya gitu, kuliah, baca novel, baca berita, nonton tv, bersih-bersih rumah, rebahan sih ya,” jelas Ravida, mahasiswa semester 3 program studi Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), tentang kegiatannya di rumah selama pandemi.

Rebahan adalah istilah yang saat ini sering digunakan oleh banyak orang, terutama kaum milenial. Yaitu ketika seseorang melakukan aktivitas santai berbaring diatas kasur, dan biasanya dibarengi dengan men-scrolling media sosial. Tetapi, rebahan ala mahasiswa asal Kudus ini justru malah membuahkan hasil. Ravida Chauria Savir mendapatkan Best Paper pada acara The First Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Undergraduated Conference 2020 di subfokal religious and humanities, Selasa (27/10).

Acara ini diselenggarakan secara online oleh mahasiswa strata satu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ravida bercerita bahwa alasannya mengikuti perlombaan ini adalah untuk melatih kemampuan menulis yang sudah ia dalami sejak dibangku sekolah menengah pertama (SMP) dan memilih subfokal keagamaan karena ia memang fokus di bidang dakwah yang selaras dengan studi yang ia jalani sekarang ini.

“Didepan rumah saya itu ada makam bersejarah, namanya makam Kyai Telingsing. Beliau ini adalah murid dari Sunan Kudus, salah seorang dari Wali Songo di Indonesia. Saya mengangkat hal ini karena di Kudus masih sangat erat dengan tradisi zaman dahulu dan sangat menjaga adat istiadatnya. Contohnya seperti tradisi Buka Luhur, yaitu tradisi pada 10 Muharram yang ditandai dengan tidak menyembelih sapi untuk menghormati para leluhur di zaman Sunan Kudus. Dan hal tersebut membuat saya tertarik untuk meneliti lebih dalam, karena sekarang kan zaman modern, tapi masyarakat di Kudus ini masih lekat dengan adat istiadatnya. Akhirnya saya mengangkat judul Cultural Preaching on Modern Society : A Case Study of Yayasan Pendidikan Islam Kyai Telingsing, Kudus,” tuturnya.

Ravida mengaku sangat kaget ketika mendengar namanya mendapatkan nominasi Best Paper, karena ia merasakan banyak kesusahan dalam mencari data juga membandingkan cerita zaman dahulu dan sekarang. Banyaknya kakak tingkat yang mengikuti acara inipun membuat ia menjadi insecure dan sempat ingin mundur mengikuti lomba ini. Tapi ternyata, semua perjuangan bisa dilewati dan berhasil meraih nominasi paper terbaik.

Dan ada hal luar biasa yang perlu kita tahu dalam persiapan papernya. dari mulai riset data, wawancara penjaga makam, hingga penyusunan papernya, Ravida menyelesaikannya hanya dalam kurun waktu satu minggu.

Sebelumnya ravida sendiri sudah mengikuti beberapa kegiatan. Salah satunya adalah Concorsium Santri Mendunia yang diselenggarakan oleh para alumni Pondok Pesantren Modern Gontor. Acara ini menyajikan berbagai inovasi-inovasi para santri untuk memajukan negeri Indonesia tercinta.

Ravida berpesan bagi para mahasiswa Indonesia, “Jika menjalani sesuatu janganlah berhenti ditengah jalan. Jalani apa yang sudah dimulai, jangan mudah menyerah dari segala gangguan. Masalah hasil biar Allah yang menentukan. Kalo kamu punya bakat, ayo kembangkan itu sebaik mungkin. Maksimalkan karunia tuhan karena ini adalah kesempatan emas kita. Dan menulislah, karena dengan menulis kita bisa tetap hidup walaupun jasad sudah tiada.”